Quintel Blogger theme

A free Premium Blogger theme.

Kami Siap Melayani Pemesanan Segala Jenis Pupuk Yang berkualitas Dan Berkadar Non Subsidi ke seluruh wilayah di indonesia, Untuk info lebih Lanjut Bisa hub. Alamat Di bawah ini:

Nama : Bpk. Indra
Alamat : Sidayu Gresik
No. Telp : 082391699911
e-mail : indralow1@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Kebun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebun. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juli 2013

Syarat Tumbuh Tanaman Kelapa

Iklim
Kelapa dapat tumbuh optimal di daerah tropis yakni yang terletak antara 15 derajat LU sd 15 derajat LS.Kelapa yang di tanam atau tumbuh di luar zona tersebut tidak akan menghasilkan buah seperti tanaman kelapa di Los Angles, Portugal, dan Florida.

Kelapa tumbuh tumbuh baik di daerah yang berketinggian 0 (pesisir pantai) sampai dengan 700 meter di atas permukaan laut. Suhu rata-rata tahunan optimum bagi pertumbuhan kelapa adalah 27 derajat Celcius, dengan flutuasi tidak lebih dari 6 sd 7 derajat Celcius.

Syarat Tumbuh Tanaman Kelapa

Kelapa menghendaki keadaan drainase, kapasitas menahan air, dan penyebaran hujan yang sepanjang tahun dibandingkan jumlah curah hujan yang banyak setiap tahunnya. Keadaan ini tercermin dari pertumbuhan tanaman kelapa yang ada di sekitar pesisir pantai. Kendatipun tanaman tersebut tidak mendapat siraman air hujan, pertumbuhannya tetap optimal akibat keadaan drainase dan kapasitas tanah menahan air yang baik sesuai dengan apa yang dibutuhkan tanaman kelapa.

Intensitas sinar matahari yang tinggi dibutuhkan tanaman kelapa untuk produktivitas hasil yang memuaskan, sedangkan tanaman kelapa yang tumbuh dibawah naungan akan menghasilkan produktivitas yang rendah.

Tanah
Kelapa dapat tumbuh di berbagai jenis tanah seperti tanah aluvial, tanah latosol, dan tanah litoral yang bertipe basir. Yang terpenting adalah tanah-tanah tersebut memiliki struktur, aerasi, dna drainase yang baik. Tanaman kelapa sebaiknya di tanam pada tanah yang memiliki kedalaman solum > 1 meter dengan keadaan air tanah yang tidak menggenang (statis). pH optimal untuk pertumbuhan tanaman kelapa adalah antara 6,0 sd 8,0.

Tanaman kelapa yang tumbuh di tempat yang berdekatan dengan sumber air yang bergerak seperti pesisir pantai atau di tepian sungai umumnya memiliki kualitas pertumbuhan dan produktivitas hasil yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan air-air yang bergerak mengandung banyak oksigen yang penting untuk pernafasan akar kelapa.

Jumat, 05 Juli 2013

Ulat Kantong (Clania sp. dan Mahasena sp.)

Ulat kantong (Clania sp. dan Mahasena sp.) adalah hama yang biasa menyerang daun-daun kakao hingga menyebabkan tanaman menjadi gundul. Ulat ini juga dapat menyerang kulit kayu cabang yang masih muda. Jika daun-daun pada tanaman telah gundul karena habis dimakan, serangan ulat kantong dapat beralih ke tunas-tunas baru yang tumbuh, sehingga dapat menyebabkan kematian pucuk.

Siklus hidup
Ulat kantong biasanya membuat kantong yang diproduksi dari zat kelenjar sutra sebagai pelingung tubuhnya. Kantong yang panjangnya bisa mencapai 6 cm ini biasa direkatkan pada bagian tanaman yang diserangnya, seperti daun dan ranting tanaman kakao. Kantong bagian bawah dilengkapi dengan lubang yang berfungsi sebagai pembuang kotoran. Jika bagian tanaman di sekitar ulat kantong habis termakan, ulat bersama kantongnya akan pindah ke bagian tanaman lainnya yang masih memiliki persediaan makanan yang banyak.

Ulat Kantong (Clania sp. dan Mahasena sp.)

Ulat berkepompong di dalam kantongnya dengan merubah posisi. Biasanya pada fase larva, kepala ulat berada di atas, sedangkan pada fase kepompong kepala ulat berada di bagian bawah kantong. Setelah menyelesaikan fase kepompongnya yang berlangsung antara 5 sd 7 hari, kepompong berubah menjadi ngengat. Ngengat betina akan tetap tinggal di dalam kantong, sedangkan ngengat jantan yang memiliki sayap akan keluar mencari ngengat betina untuk dikawini. Perkawinan terjadi melalui ujung kantong yang terbuka. Setelah terbuahi, ngengat betina kemudian bertelur di dalam kantong tersebut. Telur kemudian menjadi larva dan keluar dari dalam kantong. Larva berpindah ke bagian tanaman lain dengan angin dan bantuan benang sutera yang dikeluarkannya.

Pengendalian
Populasi dan serangan ulat kantong dapat dikendalikan dengan mengaplikasikan insektisida lambung seperti dipterex dan thuricide. Penggunaan insektisida dari jenis racun lambung didasari pada alasan karena ulat ini hidup di dalam kantong.

Kamis, 04 Juli 2013

Kutu Putih (Planococus citri) si Hama Kakao

Kutu putih (Planococus citri) adalah kutu yang dapat menjadi hama dan sekaligus juga dapat menjadi alternatif pengendalian hama lainnya seperti penggerek buah kakao dan penghisap buah kakao. Kutu yang temasuk ke dalam family pseudococeae dan ordo homoptera ini menjadi hama jika menyerang bunga, calon buah, tunas, dan daun-daun muda tanaman kakao. Sedangkan jika menempel pada buah, kutu putih justru dapat mengundang semut hitam yang merupakan predator beberapa hama.

Kutu Putih (Planococus citri) Kakao

Serangan kutu putih pada tunas daun menyebabkan terjadinya pertumbuhan yang tidak normal pada daun tersebut dan terjadinya pembengkokan pada cabang yang terbentuk dari tunas yang terserang. Serangan kutu putih pada bunga dan calon buah dapat menyebabkan pertumbuhan buah menjadi abnormal. Sedangkan pada buah dewasa, serangan kutu putih tidak menimbulkan masalah yang berarti.

Siklus hidup
Siklus hidup kutu putih dimulai dari imago. Imago yang berwarna orange dan tubuhnya diselimuti lapisan lilin berwarna putih memiliki sepasang sayap tembus pandang pada jantannya sedangkan imago betinanya tidak memiliki sayap. Imago betina meletakan telur tepat dibawah tubuh induknya. Telur tersebut umumnya berwarna putih dan diselimuti benang-benang halus yang juga berwarna putih. Setelah menetas, telur menjadi larva yang berwarna kuning dan tubuhnya dilapisi oleh lapisan lilin yang tidak terlalu tebal.

Pengendalian
Kutu putih dapat dikendalikan dengan mengembangbiakan semut hitam yang dapat mempredasi telur dan memakan selaput atau lapisan lilin pada tubuh kutu putih. Lapisan lilin pada tubuh kutu putih ini diketahui memiliki kandungan zat tepung (karbohidrat) yang sangat disukai oleh semut hitam. Namun, pada intensitas serangan yang terlalu tinggi, populasi kutu putih juga dapat dikendalikan dengan aplikasi insektisida berbahan aktif fosfamidon, karbaril, dan monokrotofos.

Rabu, 03 Juli 2013

Panen Buah Kakao

Panen buah kakao adalah kegiatan memungut atau memetik buah kakao yang telah masak dari pohon, untuk kemudian memecahnya dan mengambil biji-biji basah yang terdapat di dalam buah. Panen dilakukan ketika buah menunjukan ciri-ciri masak yakni perubahan warna alur kulit buah kakao dari hijau menjadi kuning atau dari merah menjadi jingga. Ciri-ciri buah masak juga ditunjukan oleh tangkai buah yang menjadi kering, adanya rongga antar biji dan kulit buah. Dalam kondisi sedemikian, buah kakao yang masak tersebut, jika digoyangkan atau dikocok akan mengeluarkan bunyi.


Di dataran rendah, buah menjadi masak setelah 5,5 bulan dari awal proses penyerbukan, sedangkan di daerah dataran tinggi proses kemasakan buah membutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Perkembangan buah kakao pada 40 hari pertama, akan  menjadi sangat cepat sampai umur 75 hari. Selama pertumbuhan embrio, lemak terakumulasi pada biji yang sedang berkembang, pembentukan gula pada pulp terjadi selama 30 sd 40 hari sebelum kakao masak dan siap di petik.

Panen buah umumnya dilakukan setiap 7 sd 14 hari sekali. Jika pemanenan dilakukan pada intensitas lebih dari 14 hari sekali, kemungkinan buah-buah yang kelewat masak dengan biji yang sudah mulai berkecambah akan menjadi semakin besar. Biji-biji yang demikian memiliki kadar lemak yang rendah dan tidak akan laku lagi untuk dijual.

Pemetikan dalam panen buah kakao dapat dilakukan menggunakan pisau atau sabit yang bergalah. Pemetikan pada tangkai buah dilakukan sedekat mungkin dengan buah karena tangkai buah akan menjadi duduk buah dan duduk bunga pada proses produksi buah di fase panen berikutnya. Pemetikan buah dengan cara dipuntir atau cara-cara yang dapat merusak tangkai buah sebaiknya dihindari karena dapat menurunkan kuantitas panen pada periode berikutnya.

Selasa, 02 Juli 2013

Pemangkasan Tanaman Kakao

Pada tanaman kakao, pemangkasan penting dilakukan untuk menjaga pertumbuhan tanaman agar tetap sesuai dengan tujuan budidaya. Pemangkasan kakao dilakukan selain untuk mengkondisikan kebun agar tidak terlalu lembab, juga ditujukan agar produktivitas tanaman kakao menjadi tinggi dan menguntungkan usaha budidaya kakao.

Dalam teknisnya, pemangkasan tanaman kakao terbagi ke dalam beberapa jenis yaitu, pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan, dan pemangkasan produksi.

Pemangkasan Tanaman Kakao

Pemangkasan bentuk

Pemangkasan bentuk dilakukan dengan tujuan agar bentuk tumbuh tanaman sesuai dengan konsep budidaya pertanian dan memudahkan dalam kegiatan-kegiatan usaha budidaya. Pemangkasan bentuk dilakukan pada 2 fase tanaman, yakni ketika tanaman masih muda dan ketika tanaman berada pada fase remaja.

Pemangkasan bentuk pada tanaman muda dilakukan pada saat tanaman kakao berumur antara 8 sd 12 bulan. Pemangkasan dilakukan dengan membentuk percabangan (jourquette) pada ketinggian 1 sd 1,5 meter di atas permukaan tanah. Percabangan pada jourquette diusahakan agar hanya memiliki 3 sd 4 cabang yang letaknya simetris. Tunas-tunas air yang tumbuh antara ketinggian 1 sd 1,5 meter tersebut harus dibuang agar tidak menjadi cabang baru dan akan merusak bentuk tanaman kakao yang ditanam. Cabang-cabang primer yang tumbuh terlalu panjang harus dipotong agar tidak saling bertumpang tindih dengan cabang-cabang primer dari tanaman di sekitarnya.

Pemangkasan bentuk pada tanaman remaja dilakukan pada saat tanaman kakao berumur antara 18 sd 24 bulan. Pemangkasan ini dilakukan dengan membuang semua cabang sekunder (cabang yang tumbuh pada cabang primer) yang tumbuh pada jarak 30 sd 60 cm dari jorquette. Pemangkasan juga dilakukan pada cabang-cabang yang tumbuh ke bawah dan mengusahakan penyebaran daun agar supaya mendapat penyinaran yang merata.

Pemangkasan pemeliharaan

Pemangkasan pemeliharaan dilakukan agar pertumbuhan tanaman kakao tetap otimal dan . pemangkasan ini dilakukan dengan membuang tunas air yang tumbuh di sekitar percabangan, membuang cabang-cabang yang kering, cabang yang menggantung, saling melintang, dan bertumpang tindih.

Pemangkasan produksi
Pemangkasan produksi dilakukan dengan tujuan agar tanaman kakao dapat berproduksi secara optimal sesuai dengan kemampuannya. Pemangkasan produksi dilakukan dengan meminimalisasi kelebatan daun melalui pembuangan daun-daun tanaman yang terlindung dari sinar matahari. Dengan pembuangan daun-daun tersebut, fotosintat yang dihasilkan dari metabolisme tanaman akan difungsikan seutuhnya untuk pembentukan buah dan bunga.

Senin, 01 Juli 2013

Klasifikasi Tanaman Kakao

Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) adalah tanaman yang berasal dari hutan-hutan Amerika Selatan. Tanaman yang termasuk ke dalam family Sterculiaceae ini pertamakali diusahakan oleh bangsa Indian Aztec. Tanaman kakao memiliki banyak sekali jenisnya, kendati demikian ada 3 jenis yang umum dibudidayakan yakni jenis Criollo, Forastero, serta Trinitario.

Criollo, Forastero, serta Trinitario.


Kakao Criollo
Kakao criollo menghasilkan biji dengan kualitas yang sangat baik. Kakao dari jenis ini juga dikenal dengan istilah kakao mulia, choiced cocoa, fine flavour cocoa, atau edel cocoa. Buah kakao criollo biasanya berwarna merah atau hijau dengan kulit buah yang tipis, berbintil kasar, dan lunak. Biji berbentuk bulat telur, berukuran besar, dan kotiledon berwarna putih saat basah.

Kakao Forastero
Kakao forastero menghasilkan biji dengan kualitas sedang. Kakao dari jenis ini juga dikenal dengan istilah kakao bulk, bulk cacao, dan ordinary cocoa.buah kakao forastero biasanya berwarna hijau dengan kulit yang lebih tebal. Biji berbentuk gepeng dan tipis dengan kotiledon berwarna ungu saat basah.

Kakao Trinitario
Kakao trinitario adalah kakao hybrid dari persilangan kakao criollo dan forastero secara alami, sehingga jenis kakao ini memiliki bentuk yang heterogan dan beragam. Berdasarkan keadaan itu, maka kakao trinitario dibedakan ke dalam 4 golongan yakni angoleta, cundeamor, amelonado, dan calabicillo.
  1. Kakao angoleta; bentuknya lebih mirip dengan criollo, kulitnya kasar, ukurannya besar dan tanpa bottle neck. Biji buah berbentuk bulat dengan endosperm berwarna ungu. Biji umumnya memiliki kualitas yang sangat baik.
  2. Kakao cundeamor; bentuknya lebih mirip dengan kakao angoleta, kulit buahnya agak kasar dan tanpa bottle neck. Biji buah berbentuk gepeng dengan endosperm berwarna ungu gelap. Biji umumnya memiliki kualitas yang sangat baik.
  3. Kakao amelonado; buah berbentuk bulat telur dengan kulit halus dan tidak memiliki bottle neck. Biji buah berbentuk gepeng dengan endosperm berwarna ungu.
  4. Kakao  calabacillo; buah berbentuk bulat pendek dengan kulit buah halus dan tidak memiliki bottle neck. Biji buah berbentuk gepeng dengan endosperm berwarna ungu.

Criollo, Forastero, serta Trinitario.

Kakao trinatario memiliki berbagai hibride, namun yang paling sering dibudidayakan adalah kakao DR (Djati Runggo) dan Hibrid uppertimazone (kakao lindak). Kakao lindak memiliki berbagai keuntungan seperti pertumbuhannya yang cepat, usia TBM hanya 2 tahun, masa panennya sepanjang tahun, tahan penyakit Vaskular Streak Dieback, fermentasi singkat, bentuk buah panjang, dan produktivitasnya tinggi.

Minggu, 30 Juni 2013

Pohon Penaung Tanaman Kakao

Untuk mengkondisikan agar iklim mikro lahan penanaman sesuai dengan syarat tumbuh optimalnya, tanaman kakao memerlukan pohon penaung. Sesuai dengan habitat aslinya yakni hutan hujan tropis, pohon penaung mutlak diperlukan oleh pertanaman kakao agar tujuan budidaya tanaman yang pertama kali diusahakan oleh bangsa Indian Aztec ini dapat tercapai dengan optimal.

Pohon Penaung Tanaman Kakao

Pohon penaung dalam usaha budidaya tanaman kakao terbagi ke dalam 2 jenis, yakni pohon penaung sementara dan pohon penaung tetap.

Pohon penaung sementara

Pohon penaung sementara adalah pohon penaung yang dibutuhkan untuk menjaga kondisi iklim mikro pada lahan penanaman kakao yang masih berumur muda alias masih belum berproduksi. Pohon penaung sementara berfungsi untuk melindungi tanaman kakao muda yang cenderung masih lemah dari tiupan angin yang terlalu kencang dan dari sinar matahari yang terlalu terik.

Syarat pohon penaung sementara yang dapat digunakan adalah pertumbuhannya tegak, perakarannya tidak terlalu menyebar ke samping, kayunya lunak. Cepat tumbuh, dan sebaiknya merupakan tanaman leguminosa.  Jenis pohon yang dapat dijadikan sebagai penaung sementara antara lain pisang, pohon turi, Felmingia congesta, Theprosia candida, Crotalaria anagyroides, dan C. usaramoensis.

Pohon penaung tetap

Pohon penaung tetap adalah pohon penaung yang dibutuhkan untuk menjaga kondisi iklim mikro pada lahan penanaman kakao sepanjang hidupnya. Pohon penaung tetap berfungsi untuk menjaga atau melindungi tanaman kakao produktif dari angin yang kecepatannya tinggi dan dari intensitas penyinaran matahari yang terlalu besar.

Syarat pohon penaung tetap yang dapat digunakan adalah pertumbuhannya cepat, percabangannya banyak sehingga daya naungnya tinggi, tahan terhadap tiupan angin, tidak merupakan tanaman inang bagi hama dan penyakit tanaman kakao, perakarannya dalam, serta bagian tanamannya bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya. Jenis pohon yan cocok digunakan sebagai penaung tetap adalah lamtoro, sengon, dadap, Glyricidia spium, petai, dan kelapa.

Sabtu, 29 Juni 2013

Pengolahan Pasca Panen Kakao


Setelah panen buah kakao dilakukan, biji-biji kakao yang terkumpul harus segera diolah agar kualitas hasilnya tidak menurun. Pengolahan pasca panen kakao sebetulnya berpusat pada tindakan fermentasi atau pemeraman yang dilakukan dalam kotak-kotak kayu. Untuk lebih jelasnya, berikut pengolahan pasca panen kakao yang tahapannya akan kami jabarkan satu per satu.

Fermentasi
Fermentasi atau pemeraman dilakukan dengan meletakan biji-biji kakao basuh ke dalam kotak-kotak fermentasi yang terbuat dari kayu. Fermentasi bertujuan untuk memudahkan pelepasan zat lendir atau pulp yang ada di sekitar biji, meningkatkan aroma khas dari biji kakao yang diolah, serta meningkatkan mutu biji kakao.

Biji-biji basah yang diperoleh dari pemanenan dimasukan ke dalam kotak-kotak fermentasi. Setelah kotak tersebut penuh, bagian atas kotak yang terbuka kemudian ditutup menggunakan daun pisang atau karung goni agar kondisi anaerob dapat berlangsung dengan baik. Proses yang terjadi pada fermentasi adalah penguraian zat lendir yang berupa glukosa menjadi gas CO2 dan air. Pemeraman dilakukan

Setelah fermentasi dilakukan, tumpukan biji kakao kemudia dibiarkan berada dalam kondisi aerob yang pada kondisi ini tumpukan akan mencapai suhu antara 40 sd 50 derajat Celcius. Pada suhu 50 derajat Celcius akan terjadi pembentukan aroma khas kakao dan suhu tersebut harus tetap dipertahankan selama 72 jam. Untuk mempertahankan suhu tersebut, tumpukan biji kakao harus dibuat dengan ketebalan tidak lebih dari 75 cm.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi laju fermentasi yakni kematangan buah, kualitas biji, dan jenis biji kakao.

Pencucian
Pencucian pada biji yang telah difermentasi bertujuan agar biji yang diperoleh lebih bagus dari sisi visual, lebih tahan serangan jamur dan serangga gudang, serta agar kadar kulit ari menjadi rendah. Kendati demikian, pencucian dapat menyebabkan persentase biji pecah dan kehilangan berat biji menjadi lebih besar.

Pencucian dilakukan dengan tenaga manusia dengan menggosok atau mengaduk-aduk biji kakao dalam ayakan bambu atau pada skala besar pencucian biasanya dilakukan dengan bantuan alat-alat mekanis. Perlu diketahui bahwa kakao dari jenis bulk biasanya tidak harus dicuci.

Pengeringan
Kadar air biji telah fermentasi yang mencapai 50 sd 55% harus diturunkan menjadi 6 sd 7% agar biji dapat disimpan. Penurunan kadar air tersebut dilakukan dengan cara pengeringan. Pengeringan harus dilakukan secara pelan-pelan agar pembentukan aroma khas kakao dapat berjalan dengan optimal. Pengeringan yang dilakukan pada suhu tinggi dengan waktu yang singkat dapat menyebabkan kerusakan mutu buah, sedangkan pengeringan yang dilakukan pada suhu rendah dengan waktu yang lama dapat meningkatkan resiko biji terinfeksi jamur.

Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 metode yakni pengeringan dengan sinar matahari atau sun drying dan pengeringan buatan atau artificial drying.

Pengemasan
Setelah pengeringan dilakukan, biji kemudian di tampi agar kotoran yang terikut dapat dipisahkan. Biji tersebut kemudian dimasukan ke dalam karung goni dengan berat 60 kg per karung. Karung goni berisi biji kakao tersebut kemudian disimpan dalam gudang yang bersih, kering, dan sirkulasi udaranya baik. Biji kakao tidak boleh disimpan terlalu lama (maksimal 6 bulan) karena dapat meningkatkan resiko terinfeksi jamur atau patogen gudang.

Jumat, 28 Juni 2013

Penggerek Batang Tanaman Kakao (Zeuzera coffear)

Penggerek batang kakao (Zeuzera coffeae) adalah salah satu hama penting bagi tanaman kakao yang dapat merusak kualitas maupun kuantitas produksi tanaman. Penggerek batang kakao merupakan serangga dari family cossidae dan ordo lepidoptera. Fase penyerangan hama ini sebetulnya terjadi saat serangga masih berada dalam fase ulat.

Ulat zeuzera dapat menggerek cabang bahkan batang pokok tanaman sehingga menyebabkan tanaman mudah patah atau pertumbuhan tanaman menjadi terhambat. Jika ulat zeuzera sudah keluar pertumbuhan batang yang digerek biasanya kembaku normal. Namun pada serangan yang lebih berat, serangan hama ini dapat mengakibatkan kematian bagi tanaman. Serangan hama ulat penggerek batang dapat diidentifikasi melalui adanya liang gerekan pada batang disertai dengan adanya kotoran berbentuk silindrik dan berwarna merah kehitam-hitaman yang keluar dari liang gerekan.


Penggerek Batang Tanaman Kakao (Zeuzera coffear)

Siklus Hidup

Imago serangga zeuzera yang aktif pada malam hari (nokturnal) ini bertelur selama 6 sd 8 kali sehari, sedangkan periode bertelurnya berlangsung 5 sd 6 hari. Imago betina dapat memproduksi telur sebanyak 500 sd 1.000 butir selama masa hidupnya. Telur biasanya diletakan di celah kulit-kulit pohon yang membuka. Telur zeuzera dapat diidentifikasi dari dimensinya yakni panjang 1 mm, lebar 0,5 mm, dan berwarna kuning kemerah-merahan.

Telur biasanya menetas menjadi ulat penggerek batang setelah10 sd 11 hari setelah diletakan. Ulat berwarna merah cerah dengan panjang 3 sd 5 mm. Ulat tersebut dapat menggerek cabang bahkan batang tanaman dan menyebabkan cabang atau batang yang terserang menjadi kopong dan menyisakan sedikit lapisan xilem dan floemnya saja. Ulat tersebut sering berpindah dari satu lubang gerekan ke bagian cabang atau batang lainnya untuk membuat gerekan baru. Liang gerekan dibuat umumnya sedalam 40 sd 50 cm dengan diameter liang sekitar 1 sd 1,2 cm.  Tiap liang gerekan umumnya ditinggali oleh satu ekor ulat saja.

Ulat bermetamorfosis menjadi kepompong umumnya pada usia 81 sd 151 hari setelah ditetaskan. Ulat berkepompong di dalam kamar kepompong yang panjangnya 7 sd 12 cm yang dibuat dalam liang gerekan. Liang gerekan ketim ulat tengah berada pada fase kepompong umumnya ditutup bagian atas dan bawahnya menggunakan kotoran atau sisa gerekan.

Kepompong menjadi ngengat (imago) setelah 21 sd 30 hari setelah dimulainya fase kepompong. Untuk menjadi ngengat jantan, lama stadium kepompong memerlukan waktu 27 sd 30 hari, sedangkan untuk menjadi ngengat betika memerlukan waktu 21 sd 23 hari. Imago keluar dari liang gerekan dan kamar kepompong dengan meninggalkan kulit kepompong pada liang gerekan. Imago ini kemudian meneruskan siklus hidupnya dengan meletakan telurnya pada tanaman kakao lainnya. Hama ini juga dapat menginang pada beberapa tanaman selain kakao, seperti bungur, jati, mahoni, randu, jambu biji, kopi, dan kina.

Pengendalian
Pengendalian penggerek batang kakao dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari cara kultur teknis, pengendalian secara hayati, hingga cara-cara kimiawi menggunakan insektisida.

1. Pengendalian kultur teknis
Pengendalian dengan cara kultur teknis dapat dilakukan dengan sanitasi dan pemusnahan cabang atau batang tanaman yang terserang agar siklus hidup hama ini dapat terhenti. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan penyemprotan larutan garam pada liang gerekan menggunakan handshack agar ulat penggerek dapat keluar untuk kemudian dimusnahkan.

2. Pengendalian hayati
Pengendalian secara hayati dilakukan dengan mengaplikasikan musuh alami ulat penggerek batang. Musuh alami tersebut salah satunya adalah jamur Beauveria bassiana yang bersifat patogenesis. Efektivitas jamur ini dalam mengendalikan serangan ulat penggerek batang diketahui dapat mencapai 100%. Untuk mengendalikan ulat zeuzera pada kebun seluas 1 hektar hanya dibutuhkan 60 gram jamur Beauveria bassiana. Jamur tersebut di kemudian dilarutkan pada 1 liter larutan air deterjen untuk selanjutnya disaring dengan kain dan dilarutkan kembali dalam 4 liter air bersih. Larutan inilah yang lalu disemprotkan ke liang-liang gerekan . ulat zeuzera dapat mati pada 4 sd 5 hari setelah terinfeksi.

Pengendalian hayati juga dapat dilakukan dengan menginokulasi musuh alami yang bersifat predator seperti Amyosoma zeuzera, Eucarcella kockiana, dan Sturnia chatterjaena.

3. Pengendalian kimiawi
Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan menyumbat liang gerekan menggunakan kapas yang sudah dicelupkan dalam larutan insektisida atau dengan langsung menyuntik liang gerekan menggunakan insektisida tersebut.

Kamis, 27 Juni 2013

Penghisap Buah Kakao (Helopeltis sp.)

Penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) adalah hama penting bagi usaha budidaya tanaman kakao yang dapat menimbulkan kerusakan pada beberapa bagian tanaman seperti buah, daun muda, hingga kuncup buah. Hama yang termasuk ke dalam family miridae dan ordo hemiptera ini menyerang dengan cara menghisap bagian-bagian tanaman tadi menggunakan mulutnya. Bekas hisapan pada bagian tanaman tersebut biasanya akan meninggalkan bekas berupa bercak-bercak hitam. Bercak tersebut timbul akibat cairan ludah yang dikeluarkan serangga ini ketika akan menghisap. Serangga penghisap buah ini dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar jika terjadi infeksi atau menjadi vektor beberapa jamur penyebab penyakit tanaman seperti jamur Fusarium solani, Aspergilus sp., Glomella cingulata, Botryodiploida theobromae, dan Penicillium janthinellum.

Penghisap Buah Kakao (Helopeltis sp.)

Siklus hidup
Penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) tersebar di beberapa negara penghasil kakao seperti Malaysia, Indonesia, Afrika Barat, Afrika Timur, Papua New Guinea, dan Amerika Selatan. Hingga saat ini Helopeltis sp. diketahui terdiri dari 13 spesies yang 2 spesies diantaranya terdapat di Indonesia. Ke dua spesies tersebut adalah H. antonii Sign. dan H. theivora Watt.

Imago helopeltis sp dapat diidentifikasi dari beberapa penampilan fisiknya yang antara lain terdapatnya jarum penusuk pada mesoskutelumnya, berwarna coklat kehitam-hitaman pada serangga jantan, berwarna coklat kemerah-merahan pada serangga betina, tungkai berwarna coklat kelabu, punggung berwarna hijau kelabu, dan panjang tubuhnya 6,5 sd 7,5 mm. Serangga yang tumbuh optimal pada ketinggian 200 sd 1.400 meter di atas permukaan laut ini, dapat hidup sampai 50 hari.

Imago betina dapat bertelur sebanyak 235 butir selama 34 hari. Telur tersebut biasanya diletakan di permukaan buah muda. Telur berbentuk lonjong berwarna putih dengan panjang sekitar 1 mm.

Telur menetas dan menjadi nimfa setelah 6 sd 8 hari setelah diletakan. Nimfa yang keluar berbulu halus dan belum memiliki jarum. Nimfa tersebut akan dewasa setelah mengalami 4 kali ganti kulit dan jaru akan mulai nampak ketika ganti kulit pertama pada nimfa. Periode nimfa biasanya berlangsung selama 12 sd 14 hari sebelum kemudian berubah menjadi serangga dewasa (imago).

Populasi dan serangan hama penghisap buah kakao umumnya meningkat saat musim hujan karena pada musim hujan intensitas penyinaran matahari semakin kecil, kelembaban udara semakin tinggi, dan kecepatan angin semakin rendah. Kondisi seperti ini sangat cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan hama ini.

Pengendalian
Helopeltis dapat dikendalikan dengan berbagai cara seperti pengendalian hayati, pengendalian kultur teknis, dan pengendalian kimiawi.

1. Pengendalian kultur teknis
Pengendalian kultur teknis merupakan pengendalian yang paling efektif dalam menurunkan intensitas serangan hama penghisap buah kakao. Pengendalian dengan cara ini dilakukan dengan menerapkan panen sering untuk memutus siklus hidupnya pada stadia telur, pemupukan berimbang untuk meningkatkan sestem kekebalan tanaman, kondomisasi buah kecil menggunakan plastik, dan pemangkasan teratur untuk membuar agar kondisi kebun tidak disukai oleh hama ini.

2.  Pengendalian hayati
Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan melepaskan beberapa musuh alami helopeltis seperti belalang sembah, kepik predator, laba-laba, dan semut hitam. Pelepasan semut hitam merupakan teknik pengendalian hayati yang paling sering digunakan hingga saat ini. Untuk membuat semut hitam dapat hidup dengan optimal dikebun perlu dilakukan beberapa cara seperti inokulasi kutu putih dan pembuatan sarang dari seresah daun pada pecabangan tanaman (jorquete).

3. Pengendalian kimia
Pengendalian kimia dilakukan dengan aplikasi insektisida seperti Baytroid 50 EC, Sumithion 50 EC, Lannate 50 EC, Orthene 75 EC, dan Leboycid 550 EC.

Rabu, 26 Juni 2013

Penggerek Buah Kakao (Conophomorpha cramerella)

Penggerek buah kakao (Conophomorpha cramerella) adalah hama penting yang paling sering menyerang tanaman kakao Indonesia. Hama ini menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil tanaman yang dibudidayakan dengan kerugian mencapai hingga 85%. Larva penggerek buah kakao yang juga dapat menginang pada tanaman rambutan ini, menggerek buah dan menyebabkan daging buah membusuk. Setelah kemudian ditinggalkan larva, pertumbuhan buah dan biji yang telah terserang akan menjadi terganggu. Biji akan saling menempel satu sama lain karena plasenta buah habis dimakan larva. Serangan penggerek buah kakao juga menyebabkan biji menjadi berdempetan dan kadar lemak biji menjadi turun hingga 4 sd 5 %. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa, kadar lemak merupakan salah satu komponen yang ditinjau dari penentuan mutu biji kakao.


Siklus hidup
Untuk menyelesaikan satu kali siklus hidupnya, hama PBK membutuhkan waktu antara 27 sd 33 hari. Imago alias ngengat PBK aktif menyerang di malam hari. Memiliki tubuh sepanjang 7 mm dan lebar 2 mm. Imago memiliki sayap berwarna hitam bergaris putih dan dapat terbang dengan jangkauan yang tidak terlalu jauh.

Ngengat biasa meletakan telur pada lekukan buah-buah muda yang panjangnya tidak lebih dari 7 cm, telur tersebut berwarna kemeraha-merahan hingga jingga dan berbentuk bulat lonjong berukuran panjang 0,4 mm dan lebar 0,2 mm. Lama stadia telur adalah 6 sd 7 hari.

Setelah menetas, telur menjadi larva dan mulai menggerek ke dalam buah kakao muda. Lubang gerekan biasanya terletak di bagian bawah tempat peletakan telur. Larva PBK yang panjangnya sekitar 1 mm dan berwarna kuning muda ini hidup, tinggal, dan menggerek di dalam buah selama 15 sd 18 hari.

Setelah waktu tersebut, larva kemudian keluar dari buah dan menjatuhkan diri ke tanah menggunakan benang-benang halus untuk kemudian menggulung dirinya dan menjadi kepompong di seresah-seresah daun di atas permukaan tanah. Lama stadia kepompong PBK tak lebih dari sekitar 6 hari.

Pengendalian

Pengendalian PBK dapat dilakukan dengan menerapkan rempesan buah dan atau panen sering, pelepasan musuh alami berupa semut hitam, inokulasi kutu putih, kondomisasi buah muda, pemangkasan teratur, pemupukan, dan aplikasi insektisida.

Sabtu, 22 Juni 2013

Uji Mutu Karet Remah Indonesia

Dalam menjamin mutu dari karet hasil olahan yang diproduksi, persyaratan mutu produk harus sesuai dengan batasan-batasan Standar Nasional Indonesia. Batasan tersebut meliputi beberapa standar mutu yang telah ditetapkan antara lain kadar kotoran, kadar abu, kadar zat menguap, dan PRI.  

Kadar kotoran
Kotoran adalah benda asing yang tidak larut dan tidak dapat melalui saringan 325 mesh. Adanya kotoran di dalam karet yang relafif tinggi dapat mengurangi sifat dinamika yang unggul darl vulkanisat karet alam antara lain kalor timbul dan ketahanan retaklenturnya. Kotoran juga dapat kesulitan pada pembuatan vulkanisat tipis.  Potongan uji untuk penetapan kadar kotoran perlu ditipiskan lagi untuk memudahkan pelarutan. Potongan uji yang telah digiling berulang kali hingga tipis kemudian dilarutkan ke dalam pelarut yang mempunyai titik didih tinggi (seperti terpentin), disertai penambahan suatu zat untuk mempermudah larutnya karet (rubber peptiser). Larutan kotor yang tertinggal kemudian dituangkan melalui saringan baja 325 mesh. Kotoran yang tertinggal pada saringan setelah dikeringkan dalam oven pada suhu 140 derajat Celcius untuk kemudian ditimbang setelah didinginkan. Hasil pelaksanaan pengujian yang baik dapat dilihat dari kemudahan pergerakan kotoran kering di dalam saringan.

Uji Mutu Karet Remah

Kadar abu

Abu di dalam karet terjadi dari karbonat, oksida, dan fosfat dari kalium, natrium, magnesium, dan beberapa unsur lain dalam jumlah yang berbeda-beda. Abu dapat pula mengandung silikat yang berasal dari karet atau benda asing yang jumlah kandungannya bergantung pada pengolahan bahan mentah karet. Abu dari karet memberikan sedikit gambaran mengenai jumlah bahan mineral di dalam karet. Beberapa bahan mineral di dalam karet yang meninggalkan abu dapat mengurangi sifat dinamika yang unggul seperti kalor timbul (heat build-up) dan ketahanan retak lentur (flex cracking resistance) dari vulkanisat karet slam.

Kadar zat menguap
Zat menguap di dalam karet sebagian besar terdiri dari uap air dan sisanya adalah zat-zat lain seperti serum yang mudah menguap pada suhu 100°C. Kadar zat menguap adalah bobot yang hilang dari potongan uji setelah pengeringan. Adanya zat yang mudah menguap di dalam karet, selain dapat menyebabkan bau busuk, memudahkan tumbuhnya jamur yang dapat menimbulkan kesulitan pada waktu mencampurkan bahan-bahan kimia ke dalam karat pada waktu pembuatan kompon tersebut terutama untuk pencampuran karbon black pada suhu rendah. Potongan uji untuk menetapkan kadar zat menguap ditimbang lalu ditipiskan dan digunting menjadi potongan kecil-kecil untuk memperluas permukaan guna memudahkan pengeringan pada suhu 100°C.

Uji Mutu Karet Remah

Plasticity retention index (PRI)
Plasticity Retention Index (PRI) adalah cara pengujian yang sederhana dan cepat untuk mengukur ketahanan karet terhadap degradasi oleh oksidasi pada suhu yang tinggi. Pengujian PRI meliputi pengujian plastisitas wallace dari potongan uji sebelum dan sesudah pengusangan di dalam oven dengan suhu 140°C.  Suhu dan waktu pengusangan diatur sedemikian rupa sehingga dapat memberikan perbedaan yang nyata dari berbagai jenis karet mentah Nilai PRI yang tinggi menunjukkan ketahanan yang tinggi terhadap degradasi oleh oksidasi.

Standar Mutu Karet Remah Indonesia

Jumat, 21 Juni 2013

Pemanenan Kopi


Tanaman kopi mulai berproduksi pada umur 2,5 – 3 tahun setelah tanam bergantung pada teknik budidaya, iklim, dan jenis tanaman kopi yang ditanam.  Untuk tanaman kopi Robusta, panen dimulai ketika tanaman berumur 2,5 tahun, sedangkan tanaman kopi Arabika, panen dimulai ketika tanaman berumur 2,5 – 3 tahun setelah tanam.  Tanaman kopi yang ditanam di daerah dataran rendah umumnya berproduksi lebih awal dibandingkan dengan tanaman kopi yang ditanam di daerah dataran tinggi.

Panen Kopi

Produksi  buah kopi meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun dan mencapai puncak pada umur antara 7 sampai 9 tahun setelah tanam (TM IV sd VI). Panen puncak pada tahun tersebut dapat menghasilkan produksi kopi beras sebanyak 500 sampai 1.500 kg per ha per tahun, sedangkan jika tanaman kopi dikelola secara intensif produksinya bisa mencapai 2.000 kg per ha per tahun.

Pada daerah-daerah basah, distribusi panen lebih merata daripada di daerah-daerah kering, sehingga masa panennya lebih panjang (April sd Oktober). Rendemen buah kopi, yaitu perbandingan antara berat kopi biji dan berat kopi gelondong berbeda-beda menurut jenis kopinya.  Rendemen kopi Robusta 22 – 24%, kopi Arabika 16 – 18%, dan kopi Liberika 10 -12%. 

Untuk memperoleh mutu yang baik, buah kopi dipetik setelah matang. Buah matang kopi dicirikan dengan perubahan warna buah dari hijau ke merah.  Waktu yang dibutuhkan kuncup bunga hingga menjadi buah kopi yang siap panen adalah antara 8 sd 11 bulan untuk kopi Robusta dan 6 sd 8 bulan untuk kopi Arabika.  Buah kopi masak di musim kemarau, yakni antara bulan April sd Oktober.  Oleh karena pembungaan tanaman kopi tidak serempak, waktu matang buah pun tidak akan bersamaan, sehingga panen buah dilakukan secara bertahap.  Tahapan tersebut antara lain panen pendahuluan, panen raya, dan panen lelesan.

Panen pendahuluan dilakukan antara bulan Februari dan Maret. Panen pendahuluan sebetulnya dilakukan dengan tujuan agar penyebaran beberapa hama dan penyakit yang menyerang buah kopi dapat diminimalisasi, karena buah yang dipanen adalah buah kopi yang terserang hama dan penyakit, khususnya hama bubuk buah. Perlu diketahui bahwa, buah kopi yang terserang hama bubuk buah memiliki kenampilan yang tidak normal karena berwarna kuning sebelum waktunya. Buah kopi yang sudah dipetik, harus segera direbus dan dijemur untuk kemudia diolah secara kering.

Panen raya dilakukan antara bulan Mei dan Juli. Panen ini dilakukan dengan memetik semua buah yang sudah berwarna merah.  Penen raya berlangsung selama 4 sampai 5 bulan dengan intensitas  10 sampai 14 hari sekali.  Pada panen ini, buah kopi yang masih berwarna hijau yang terbawa ketika panen wajib disortasi dan dipisahkan dari buah berwarna merah agar tidak menurunkan mutu buah kopi yang dihasilkan.

Panen racutan adalah panen yang dilakukan untuk mengambil semua buah kopi yang tersisa di pohon setelah panen raya dilakukan.  Dalam praktiknya, panen racutan dilakukan dengan memetik semua buah, baik itu yang sudah berwarna merah matang maupun buah yang masih berwarna hijau.

Panen lelesan adalah panen yang dilakukan dengan mengumpulkan semua buah kopi yang jatuh di sekitar pohon. Panen ini dilakukan agar buah kopi yang tersisa dikebun tidak dijadikan inang berbagai hama tanaman kopi seperti bubuk buah yang dapat menyerang pada panen kopi di tahun berikutnya.

Penyakit VSD (Vaskular Streak Dieback) Tanaman Kakao


Penyakit VSD (Vaskular Streak Dieback) adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh infeksi cendawan Oncobasidium theobromae pada tanaman kakao. Penyakit ini dapat menyerang pada semua fase pertumbuhan tanaman kakao, mulai dari fase pembibitan hingga fase tanaman berproduksi. Serangan umumnya dimulai dari bagian pucuk pada ranting tanaman.

Penyakit VSD (Vaskular Streak Dieback) Tanaman Kakao

Penyakit vaskular streak dieback dapat dikenali dari gejala-gejala yang ditimbukannya pada tanaman kakao yang terserang. Gejala tersebut antara lain
  1. Daun kakao menguning dengan bercak-bercak berwarna hijau muda,
  2. Terdapatnya 3 noktah hitam pada bekas duduk daun bagian dalam dan jaringan kayu yang dipotong,
  3. Jika dibelah, noktah hitam tersebut terlihat lebih jelas dalam bentuk garis-garis hitam,
  4. Pada serangan akut yang tanpa pengendalian, tanaman akan menjadi gundul karena kerontokan daun yang terus terjadi.

Penyakit vaskular streak dieback jika tidak dikendalikan dengan serius dapat mengakibatkan penurunan produktivitas kebun bahkan dapat hingga mengakibatkan kematian tanaman. Hal ini terjadi karena rontoknya daun yang disebabkan oleh VSD mengakibatkan proses fotosintesis tanaman menjadi terhambat.

Penggunaan bibit yang bebas VSD dan bibit dari klon tahan seperti DRC 15 dan ISC 13 sangat penting untuk mencegah serangan penyakit VSD di kebun. Jika gejala serangan penyakit vaskular streak dieback sudah muncul di kebun, teknik pengendalian yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi dampaknya adalah dengan memotong bagian ranting yang di kayunya terdapt 3 noktah hitam. Pemotongan dilakukan hingga 3 noktah hitam pada bagian kayu yang terpotong tidak tampak lagi dan jika perlu pemotongan dilakukan pada jarak 30 cm dari bagian tersebut. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan meminimalisasi kelembaban kebun melalui pemangkasan, menguatkan sistem kekebalan tanaman melalui pemupukan berimbang, serta sanitasi kebun.

Baca Juga :
Penyakit Busuk Buah Kakao
Penyakit Kanker Batang Tanaman Kakao
Penyakit Jamur Akar Tanaman Kakao

Penyakit Kanker Batang Tanaman Kakao

Penyakit kanker batang adalah salah satu penyakit penting bagi tanaman kakao yang disebabkan oleh infeksi cendawan Phythotora palmivora pada batang dan cabang tanaman kakao. Cendawan Phytoptora palmivora yang juga penyebab penyakit busuk buah tanaman kakao ini sering menyerang kebun kakao yang lembab dan gelap.


Penyakit kanker batang tanaman kakao dapat dikenali melalui gejala-gejala yang ditimbulkan pada batang yang terserang. Batang tanaman kakao yang terserang penyakit kanker batang memiliki bercak-cercak hitam. Bercak hitam tersebut nampak seperti basah dan membusuk. Jika tidak dikendalikan, bercak hitam akan terus meluas dan mengakibatkan terhambatnya transportasi hara dan fotosintat di dalam tanaman. Bercak hitam membusuk ditandai dengan adanya cairan merah berkarat dengan kulit kayu disekitar bagian yang membusuk berwarna coklat kemerah-merahan.

Penyakit kanker batang kakao dapat menyebar melalui beberapa media seperti sentuhan langsung dengan buah yang terserang busuk buah, percikan air, disebarkan oleh hewan (semut atau tupai), bahkan oleh tiupan angin. Penyebaran kanker batang berbanding lurus dengan penyebaran penyakit busuk buah dan akan semakin cepat jika musim hujan dan atau jika kondisi kebun terlalu lembab. Untuk membatasi penyebaran, kondisi kelembaban kebun harus tetap dijaga agaar tidak terlalu lembab dan gelap.

Penyakit kanker batang kakao dapat dikendalikan dengan mengupas kulit batang yang terserang dan membusuk hingga batas yang sehat, kemudian membalurkan air perasan kunyit pada bagian yang telah dikupas tersebut. Air perasan kunyit juga dapat disubstitusi dengan fungisida tembaga kontak seperti Nordox, Cupravit, dan Copper Sandoz. Jika serangan kanker batang sudah sangat akut, tanaman harus dibongkar dan bagian yang terserang harus dimusnahkan dengan cara ditimbun atau dibakar.

Baca Juga :
Penyakit Busuk Buah Kakao
Penyakit VSD (Vaskular Streak Dieback) Tanaman Kakao
Penyakit Jamur Akar Tanaman Kakao

Penyakit Busuk Buah Kakao

Penyakit busuk buah kakao adalah salah satu penyakit penting yang sering menyerang tanaman kakao. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cendawan Phythoptora palmivora pada buah. Cendawan Phythoptora palmivora sebenarnya juga dapat menginfeksi pada bagian tanaman kakao lainnya seperti batang, daun, tunas, bahkan bunga. Kendatipun demikian, dampak negatif serangan pada bagian tanaman lainnya tersebut tidak sebesar jika cendawan ini menginfeksi buah.

Phythoptora Palmivora Penyakit Busuk Buah Kakao

Penyakit busuk buah kakao sering menyerang tanaman yang memiliki sistem kekebalan yang rentan serta ditunjang oleh keberadaan kebun yang lembab dan gelap. Gejala serangan penyakit busuk buah adalah timbulnya bercak-bercak hitam pada bagian kulit luar buah. Bercak-bercak hitam tersebut akan meluas hingga menutupi semua bagian kulit buah jika tidak segera dikendalikan. Penyakit ini dapat menyerang semua fase pertumbuhan buah, mulai dari buah pentil hingga buah dalam fase kemasakan. Buah yang terserang penyakit busuk buah akan tampak hitam arang dan jika disentuh akan terasa basah membusuk. Penyakit ini dapat menyebar dari satu buah yang terinfeksi ke buah lainnya melalui beberapa media seperti sentuhan langsung antarbuah, percikan air, dibawa oleh hewan (semut atau tupai), bahkan oleh tiupan angin. Penyebaran busuk buah akan semakin cepat jika kondisi kebun terlalu lembab karena cendawan Phythoptora palmivora dapat tumbuh subur pada daerah yang lembab.

Penyakit busuk buah kakao dapat dicegah agar tidak menyerang tanaman kakao dikebun melalui penggunaan klon tahan busuk buah seperti DRC 16, SCA 6, SCA 12, ISC 6, dan hibridanya, pemupukan yang berimbang, sanitasi kebun yang dilakukan secara berkala, pemangkasan pohon penaung, pemangkasan pohon kakao, dan panen sesering mungkin. Sedangkan jika penyakit busuk buah sudah menyerang, tindakan pengendalian yag dapat dilakukan antara lain dengan pemangkasan untuk meminimalisasi kelembaban kebun, sanitasi dan pemusnahan buah yang terserang, dan penggunaan fungisida tembaga kontak seperti Nordox, Cupravit, dan Copper Sandoz dengan interval 2 minggu sekali.

Baca Juga :

Penyakit Kanker Batang Tanaman Kakao
Penyakit VSD (Vaskular Streak Dieback) Tanaman Kakao
Penyakit Jamur Akar Tanaman Kakao

Rabu, 19 Juni 2013

Syarat Tumbuh Tebu

Tebu tumbuh baik pada daerah beriklim panas tropika dan subtropika disekitar khatulistiwa sampai garis isotherm 20 derajat C, yakni kurang lebih diantara 39 derajat LU sampai 35 derajat LS.  Tanaman tebu banyak diusahakan di dataran rendah dengan musim kering yang nyata.  Tebu dapat ditanam dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1000 m di atas permukaan laut.  Di dataran tinggi yang suhu udaranya rendah, tanaman tebu lambat tumbuh dan berendemen rendah.  Di Asia Tenggara, batas maksimum elevasi untuk pertumbuhan normal tebu adalah 600 – 700 m di atas permukaan laut.  Pada elevasi yang lebih tinggi siklus pertumbuhan akan lebih panjang dari 14 – 18 bulan.

Syarat Tumbuh Tanaman Tebu

Temperatur optimum untuk perkecambahan tebu adalah 26 - 33 derajat C dan 30 – 33 derajat C untuk pertumbuhan vegetatif.  Selama pertumbuhan tanaman sedang mengalami fase kemasakan, temperatur malam yang relatif rendah (dibawah 18 derajat C) berguna untuk pembentukan kandungan sukrosa yang tinggi.  Secara kuantitatif, tebu merupakan tanaman berhari pendek.  Rata-rata curah hujan yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal tanaman tebu adalah sekitar 1800 – 2500 mm per tahun.  Dan jika curah hujan tidak mencukupi, lahan tebu harus diberi aliran irigasi.

Di samping itu, tebu memerlukan kesuburan dan sifat fisik tanah yang baik. Tebu dapat tumbuh baik pada berbagai macam tanah.  Namun, kondisi tanah yang dapat menunjang pertumbuhan tebu dengan baik adalah kondisi tanah yang gembur, berdrainasi baik, memiliki pH 5-8, kandungan nutrisi serta senyawa organik yang banyak, dan kemampuan menahan kapasitas air yang baik.

Pertumbuhan terbaik bagi tanaman tebu adalah pada tanah lempung liat dengan solum yang dalam, lempung berpasir, dan lempung berdebu.  Pada tanah berat juga dapat ditanami oleh tanaman tebu, namun memerlukan pengolahan tanah yang khusus.  Beberapa kultivar tebu dapat tumbuh pada tanah yang berkadar garam relatif tinggi dan tergenang dalam waktu yang lama, terutama bila air mengalir. Pada pertumbuhannya, tebu menghendaki perbedaan nyata antara musim hujan dan kemarau (kering).  Selama masa pertumbuhannya tebu membutuhkan banyak air, sedangkan menjelang tebu masak untuk kemudian dipanen, tanaman tebu membutuhkan keadaan kering tidak ada hujan yang menyebabkan pertumbuhan terhenti.  Apabila hujan terus turun, maka kesempatan masak tanaman tebu terus tertunda yang mengakibatkan hasil rendemen menjadi rendah.

Fase Pertumbuhan Tebu

Tanaman tebu merupakan salah satu komoditas perkebunan yang penting dan berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak. tanaman tebu adalah bahan baku utama yang dibutuhkan dalam memproduksi gula. Dalam pertumbuhannya hingga siap dijadikan bahan baku produksi gula, tanaman tebu melewati 4 fase pertumbuhan yang antara lain:

Fase Pertumbuhan Tebu

Fase Perkecambahan (0 – 1 Bulan)

Fase perkecambahan pada tanaman tebu dimulai saat terjadinya pertumbuhan mata tunas tebu yang awalnya dorman menjadi tunas muda yang dilengkapi dengan daun, batang, dan akar.  Fase perkecambahan sangat ditentukan faktor internal pada bibit seperti varietas, umur bibit, jumlah mata, panjang stek, cara meletakan bibit, jumlah mata, bibit terinfeksi hama penyakit, dan kebutuhan hara bibit. Selain itu, faktor eksternal seperti kualitas dan perlakuan bibit sebelum tanam, aerasi dan kelengasan tanah, kedalaman peletakan bibit (ketebalan cover), dan kualitas pengolahan tanah juga sedikit berpengaruh pada fase perkecambahan ini.

Fase Pertunasan atau Fase Pertumbuhan Cepat (1 – 3 bulan)

Pertumbuhan anakan adalah perkecambahan dan tumbuhnya mata-mata pada batang tebu di bawah tanah menjadi tanaman tebu baru.  Fase pertunasan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tebu, karena dapat merefleksikan produktivitas tanaman tebu.  Pada fase ini, tanaman membutuhkan kondisi air yang terjamin kecukupannya, oksigen dan hara makanan khususnya N, P dan K serta penyinaran matahari yang cukup.

Dikatakan fase pertunasan karena umur tersebut secara agresif tanaman tebu mengalami pertumbuhan secara horizontal dengan terbentuknya tunas-tunas baru secara bertahap, mulai dari tunas primer sampai tunas tertier.  Pada umur tanaman ini, pertumbuhan kesamping terus terjadi hingga mencapai pertumbuhan jumlah tunas maksimum pada umur tebu sekitar 3 bulan.  Proses pertunasan meskipun dominan terjadi munculnya anakan, namun pola petumbuhannya berupa fisik dicerminkan dengan pembentukan daun, akar, dan batang.

Pertunasan sebagai bagian dari proses pertumbuhan vegetatif, akan sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi didalam tubuh tebu (intrinsik) yang meliputi sifat-sifat genetis dan hormon yang terdapat didalam tubuh tebu.  Selain itu kondisi lain yang mempengaruhi pertunasan adalah kondisi lingkungan (ekstrinsik) yang meliputi intensitas penyinaran matahari, air, unsur hara, dan temperatur.

Fase Pemanjangan Batang (3 – 9 bulan)
Proses pemanjangan batang pada dasarnya merupakan pertumbuhan yang didukung dengan perkembangan beberapa bagian tanaman yaitu perkembangan tajuk daun, perkembangan akar dan pemanjangan batang.  Fase ini terjadi setelah fase pertumbuhan tunas mulai melambat dan terhenti.  Pemanjangan batang merupakan proses paling dominan pada fase ini, sehingga stadia pertumbuhan pada periode umur tanaman 3 – 9 bulan ini dikatakan sebagai stadia perpanjangan batang.

Ada dua unsur dominan yang berpengaruh dalam fase pemanjangan batang. Unsur tersebut adalah diferensiasi dan perpanjangan ruas-ruas tebu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan terutama sinar matahari, kelembaban tanah, aerasi, hara N, dan faktor inheren tebu.

Fase Kemasakan/Fase Generatif Maksimal (10-12 bulan)
Fase kemasakan ini diawali dengan semakin melambat bahkan terhentinya pertumbuhan vegetatif.  Tebu yang memasuki fase kemasakan secara visual ditandai dengan pertumbuhan tajuk daun berwarna hijau kekuningan, pada helaian daun acapkali dijumpai bercak berwarna coklat.  Pada kondisi tebu tertentu sering ditandai dengan keluarnya bunga.  Selain sifat inheren tebu (varietas), faktor lingkungan yang berpengaruh cukup dominan untuk memacu kemasakan tebu antara lain kelembaban tanah, panjang hari dan status hara tertentu seperti hara nitrogen.

Pemangkasan Tanaman Vanili

Pemangkasan merupakan salah satu tindakan pemeliharaan tanaman yang mutlak dilakukan dalam usaha budidaya vanili yang dilakukan dengan mengurangi ranting-ranting dan cabang tanaman yang tidak produktif. Pemangkasan dilakukan karena beberapa tujuan yang antara lain:
  1. Untuk merangsang pembentukan cabang dan tunas-tunas baru yang dapat menghasilkan bunga dan buah.
  2. Untuk membuang bagian tanaman yang terserang hama atau penyakit agar serangannya tidak meluas.
  3. Untuk mengoptimalkan laju penyinaran matahari dan menjaga kelembaban kebun.
  4. Untuk mengurangi jumlah bunga dan buah agar fotosintat terpusat untuk pembentukan buah yang diprioritaskan.
  5. Untuk mengoptimalkan aplikasi pestisida.
  6. Selain karena tujuan-tujuan umum tersebut, pemangkasan tanaman vanili juga didasari karena sifat pertumbuhannya yang cenderung tumbuh ke atas dan tidak akan berbunga bila tidak dilakukan pemangkasan.

Panen pada tanaman vanili hanya dapat dilakukan 1 kali selama 1 tahun dengan masa panen 2 sampai 3 bulan. Masa panen yang panjang terjadi karena kemasakan buah vanili di dalam satu kebun bahkan di satu tandan tidaklah bersamaan. Panen dilakukan dengan memungut buah yang sudah masak morfologis, yakni buah yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Jika buah yang dipanen masih muda atau sudah kelewat tua, kadar vanilin yang diperoleh dari buah akan sangat rendah, sehingga keuntungan yang diperoleh tidak optimal.

Pemangkasan dilakukan pada pucuk tanaman dan cabang-cabang lateral yang sudah tidak produktif lagi (sudah pernah berbuah). Pemangkasan tersebut akan berakibat pada terbentuknya tunas-tunas baru yang lebih produktif dalam menghasilkan buah. Pemangkasan sebaiknya dilakukan oada saat musim berbunga, yakni sekitar bulan Agustus hingga Oktober dan dilakukan secara berkala setiap tahunnya. Pemangkasan yang dilakukan pada waktu yang tidak tepat dapat mengakibatkan pertumbuhan tunas-tunas baru menjadi terhambat dan optimalisasi kuantitas panen tidak akan tercapai.

Panen Tanaman Vanili

Tanaman vanili mulai berbunga pada umur 2 tahun setelah tanam. Bunga vanili akan menjadi buah setelah 9 bulan dari terjadinya penyerbukan. Produktivitas panen kali pertama biasanya masih sedikit dan akan terus bertambah di panen-panen tahun berikutnya. Panen tahun ke enam merupakan panen puncak dalam budidaya vanili dan setelah panen tahun ke enam tersebut, produktivitas vanili akan terus menurun hingga tahun ke sepuluh. Di tahun ke sepuluh, tanaman vanili sudah tidak menguntungkan lagi secara ekonomis, meski ia masih dapat bunga dan berbuah oleh karena itu tanaman harus dibongkar dan ditanam ulang (replanting).

Panen pada tanaman vanili hanya dapat dilakukan 1 kali selama 1 tahun dengan masa panen 2 sampai 3 bulan. Masa panen yang panjang terjadi karena kemasakan buah vanili di dalam satu kebun bahkan di satu tandan tidaklah bersamaan. Panen dilakukan dengan memungut buah yang sudah masak morfologis, yakni buah yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Jika buah yang dipanen masih muda atau sudah kelewat tua, kadar vanilin yang diperoleh dari buah akan sangat rendah, sehingga keuntungan yang diperoleh tidak optimal.

Panen pada tanaman vanili hanya dapat dilakukan 1 kali selama 1 tahun dengan masa panen 2 sampai 3 bulan. Masa panen yang panjang terjadi karena kemasakan buah vanili di dalam satu kebun bahkan di satu tandan tidaklah bersamaan. Panen dilakukan dengan memungut buah yang sudah masak morfologis, yakni buah yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Jika buah yang dipanen masih muda atau sudah kelewat tua, kadar vanilin yang diperoleh dari buah akan sangat rendah, sehingga keuntungan yang diperoleh tidak optimal.

Buah vanili muda ditandai dengan warna polong yang masih hijau, masih terdapatnya sisa bunga pada pucuk, dan bentuk buah masih bengkok. Buah vanili yang masak morfologis ditandai dengan menguningnya bagian pucuk buah dan tidak terdapat lagi sisa bunga seperti pada buah vanili muda. Sedangkan buah vanili yang sudah kelewat tua biasanya berwarna kuning menyeluruh.

Pemanenan buah dilakukan dengan memetik buah masak satu persatu dari tandannya menggunakan tangan. Pemetikan buah dalam satu tandan secara langsung tidak diperkenankan karena semua buah dalam satu tandan tidak mungkin masak secara bersama-sama yang pada akhirnya dapat merusak mutu buah dan hasil olahan yang diperoleh. Buah vanili yang siap panen ukurannya beraneka ragam antara 15 sampai 25 cm tergantung varietas tanaman dan pemeliharaannya. Untuk mendapatkan 1 kg buah vanili kering biasanya dibutuhkan 4 sampai 5 kg vanili basah. Produktivitas kebun dengan populasi 5.000 pohon (jarak tanam 1 x 1,5 m) rata-rata mencapai 2.000 sampai 3.000 kg buah vanili basah setiap tahunnya.