Quintel Blogger theme

A free Premium Blogger theme.

Kami Siap Melayani Pemesanan Segala Jenis Pupuk Yang berkualitas Dan Berkadar Non Subsidi ke seluruh wilayah di indonesia, Untuk info lebih Lanjut Bisa hub. Alamat Di bawah ini:

Nama : Bpk. Indra
Alamat : Sidayu Gresik
No. Telp : 082391699911
e-mail : indralow1@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Pestisida. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pestisida. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juni 2013

Insektisida Nabati

Secara luas insektisida nabati dapat diartikan sebagai suatu zat yang dapat bersifat racun, menghambat pertumbuhan dan perkembangan, perkembangbiakan, tingkah laku, mempengaruhi hormon, menghambat makan, membuat mandul, sebagai pemikat, penolak, dan aktivitas lainnya yang mengganggu OPT.  Secara umum, insektisida nabati diartikan sebagai insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan.

Insektisida Nabati

Insektisida nabati merupakan salah satu sarana pengendalian hama alternatif yang layak dikembangkan, karena senyawa insektisida yang diekstrak dari tumbuhan tersebut mudah terurai di lingkungan dan relatif aman terhadap mahkluk bukan sasaran.  Insektisida nabati memiliki zat metabolik sekunder yang mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, fenolik, terpenoid, dan zat-zat kimia sekunder lainnya.  Senyawa tersebut ini dapat dimanfaatkan seperti layaknya senyawa pada insektisida sintetik, perbedaannya bahan aktif pestisida nabati disintesa oleh tumbuhan dan jenisnya dapat lebih dari satu macam (campuran).  Apabila insektisida nabati diaplikasikan pada tanaman yang terinfeksi organisme pengganggu tidak berpengaruh terhadap fotosintesa, pertumbuhan atau aspek fisiologis tanaman lainnya.

Efektivitas bahan alami yang digunakan sebagai insektisida nabati sangat tergantung dari bahan tumbuhan yang dipakai, karena satu jenis tumbuhan yang sama tetapi berasal dari daerah yang berbeda dapat menghasilkan efek yang berbeda pula, ini dikarenakan sifat bioaktif atau sifat racunnya tergantung pada kondisi tumbuh, umur tanaman  dan jenis dari tumbuhan tersebut.

Indonesia memiliki 50 famili tumbuhan penghasil racun.  Famili tumbuhan yang dianggap sumber potensial insektisida nabati adalah Meliaceae, Asteraceae, Piperaceae, Annonaceae, dan Rutaceae.  Banyaknya jenis tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai insektisida maka penggalian potensi tanaman sebagai sumber insektisida botani sebagai alternatif pengendalian hama tanaman cukup tepat.

Nematoda Parasit Si Hama Kopi

Nematoda parasit adalah salah satu hama utama yang menyerang sistem perakaran pada tanaman kopi yang dapat menyebabkan kematian tanaman. Nematoda ini dapat menyerang semua fase pertumbuhan tanaman, mulai dari fase pembibitan hingga fase tanaman menghasilkan. Ada 2 jenis nematoda parasit yang sering menyebabkan kerusakan pada tanaman kopi, yakni Pratylenchus coffeae dan Radhopholus similis. Ke dua nematoda ini tergolong nematoda endo-parasit yang hidup berpindah-pindah di sekitar perakaran tanaman (rhizomorf).  Daur hidup masing-masing nematoda tersebut adalah sekitar 45 hari untuk Pratylenchus coffeae dan sekitar 1 bulan untuk Radhopholus similis.


Serangan nematoda parasit ini dapat diketahui secara langsung dengan melihat gejala-gejala yang terlihat pada tanaman kopi yang terserang. Gejala-gejala tersebut antara lain:
  1. Tanaman yang terserang nematoda kelihatan kerdil dengan daun menguning dan mudah gugur.
  2. Pertumbuhan cabang primer terhambat sehingga pertumbuhan bunga juga terhambat.
  3. Bagian akar serabut yang terserang membusuk dan berwarna coklat dan berair.
  4. Pada serangan berat tanaman akhirnya mengering dan mati.  

Di pembibitan, pencegahan serangan nematoda dapat dilakukan secara kimiawi melalui fumigasi media bibit menggunakan fumigan pra tanam seperti Basamid G dan Vapam L.  Sedangkan  jika serangan nematoda terjadi di lahan penanaman, pengendalian dapat dilakukan dengan aplikasi nematisida sistemik dan kontak seperti Curaterr 3 G, Rhocap 10 G, Vydate 100 AS, dan Rugby 10 G.  Pencegahan serangan nematoda di pertanaman kopi juga dapat dilakukan dengan penggunaan jenis kopi tahan nematoda seperti kopi ekselsa klon Bgn 121.09 dan kopi Robusta klon BP 308. Selain itu, cara kultur teknis dapat dilakukan melalui aplikasi nematisida seperti Furadan 3G saat pembuatan lubang tanam dan pembuatan parit barier untuk mencegah penyebaran nematoda ini ke tanaman lainnya.

Jumat, 21 Juni 2013

Penyakit Busuk Buah Kakao

Penyakit busuk buah kakao adalah salah satu penyakit penting yang sering menyerang tanaman kakao. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cendawan Phythoptora palmivora pada buah. Cendawan Phythoptora palmivora sebenarnya juga dapat menginfeksi pada bagian tanaman kakao lainnya seperti batang, daun, tunas, bahkan bunga. Kendatipun demikian, dampak negatif serangan pada bagian tanaman lainnya tersebut tidak sebesar jika cendawan ini menginfeksi buah.

Phythoptora Palmivora Penyakit Busuk Buah Kakao

Penyakit busuk buah kakao sering menyerang tanaman yang memiliki sistem kekebalan yang rentan serta ditunjang oleh keberadaan kebun yang lembab dan gelap. Gejala serangan penyakit busuk buah adalah timbulnya bercak-bercak hitam pada bagian kulit luar buah. Bercak-bercak hitam tersebut akan meluas hingga menutupi semua bagian kulit buah jika tidak segera dikendalikan. Penyakit ini dapat menyerang semua fase pertumbuhan buah, mulai dari buah pentil hingga buah dalam fase kemasakan. Buah yang terserang penyakit busuk buah akan tampak hitam arang dan jika disentuh akan terasa basah membusuk. Penyakit ini dapat menyebar dari satu buah yang terinfeksi ke buah lainnya melalui beberapa media seperti sentuhan langsung antarbuah, percikan air, dibawa oleh hewan (semut atau tupai), bahkan oleh tiupan angin. Penyebaran busuk buah akan semakin cepat jika kondisi kebun terlalu lembab karena cendawan Phythoptora palmivora dapat tumbuh subur pada daerah yang lembab.

Penyakit busuk buah kakao dapat dicegah agar tidak menyerang tanaman kakao dikebun melalui penggunaan klon tahan busuk buah seperti DRC 16, SCA 6, SCA 12, ISC 6, dan hibridanya, pemupukan yang berimbang, sanitasi kebun yang dilakukan secara berkala, pemangkasan pohon penaung, pemangkasan pohon kakao, dan panen sesering mungkin. Sedangkan jika penyakit busuk buah sudah menyerang, tindakan pengendalian yag dapat dilakukan antara lain dengan pemangkasan untuk meminimalisasi kelembaban kebun, sanitasi dan pemusnahan buah yang terserang, dan penggunaan fungisida tembaga kontak seperti Nordox, Cupravit, dan Copper Sandoz dengan interval 2 minggu sekali.

Baca Juga :

Penyakit Kanker Batang Tanaman Kakao
Penyakit VSD (Vaskular Streak Dieback) Tanaman Kakao
Penyakit Jamur Akar Tanaman Kakao

Kamis, 20 Juni 2013

Penyakit Blas Tanaman Padi

Penyakit blas adalah salah satu penyakit utama yang menyerang pada tanaman padi. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cendawan Pyricularia oryzae Cavara atau cendawan Pyricularia grisea (Cooke) Sacc pada seluruh bagian tanaman padi, baik itu padi sawah, maupun padi gogo. Cendawan Pyricularia oryzae penyebab penyakit blas dapat menginfeksi bagian tanaman padi pada setiap tahapan pertumbuhan dengan membentuk bercak pada daun, ruas batang, leher malai, dan malai. Serangan cendawan ini jika tidak dikendalikan dengan baik dapat mengakibatkan terjadinya puso alias gagal panen.

Penyakit Blas Tanaman Padi
Gejala yang timbul dari serangan cendawan Pyricularia oryzae adalah munculnya bercak-bercak berbentuk belah ketupat pada daun dan pelepah daun. Pada varietas padi rentan, bercak tersebut dapat meluas dan kemudian bersatu sehingga helaian daun menjadi kering dan mati. Sedangkan pada varietas padi tahan gejala serangan hanya berupa bintik kecil berwarna coklat.

IRRI merekomendasikan klasifikasi sifat ketahanan tanaman berdasarkan tipe bercak yang muncul. Bercak belah ketupat dengan pusat berwarna abu-abu dikelompokkan sebagai tipe bercak rentan. Bercak berbentuk gelendong dan bercak berupa bintik kecil dan bercak elips tanpa pusat sporulasi dikelompokkan sebagai bercak tahan. Tanaman yang sangat rentan memiliki daun yang penuh dengan bercak sehingga hijau daun tidak nampak, lamakelamaan tanaman akan mengering dan mati. Hal ini terjadi karena proses fotosintesis terhambat, respirasi pada daun yang terinfeksi semakin meningkat, konsumsi asimilat diambil alih patogen, dan proses penuaan daun lebih dipercepat.

Secara umum, ada 2 jenis serangan blas yaitu blas yang menyerang daun tanaman padi dan blas leher malai yang menyerang leher malai pada awal pembungaan. Cendawan penyebab blas bersifat dinamis, resistensinya dapat meningkat dalam waktu yang singkat. Hal inilah yang menyebabkan ketahanan varietas padi yang tahan menjadi rentan.

Pengendalian penyakit blas yang dapat dilakukan secara terpadu dengan menggunakan  varietas padi yang tahan, aplikasi pupuk Nitogen dengan dosis yang sesuai, serta pengaplikasian fungisida.

Serangan blas pada leher malai menyebabkan leher malai membusuk dan bulir hampa. Bercak juga dapat ditemukan pada permukaan bulir pada padi. Membusuknya leher malai dapat menghambat pengiriman fotosintat ke biji dan menyebabkan bulir-bulir padi menjadi hampa dan dapat menurunkan produktivitas. Ketahanan blas leher malai cukup untuk menekan penurunan hasil akibat serangan penyakit blas. Tingkat serangan blas leher malai ditetapkan berdasarkan persentase malai terinfeksi terhadap total malai yang dihasilkan oleh tanaman.

Penyakit blas mempunyai ras patogenik yang berbeda kemampuannya dalam menginfeksi tanaman padi. Adanya beberapa ras utama dalam suatu daerah menyulitkan untuk memberikan anjuran varietas yang sebaiknya ditanam. Usaha pengembangan secara luas suatu varietas tertentu akan menimbulkan perubahan komposisi ras utama cendawan pada musim tanam selanjutnya, dan suatu saat akan mengakibatkan serangan blas yang menyebar di seluruh daerah tersebut. Hasil pengujian blas daun dan blas leher malai menunjukkan ada empat kombinasi sifat ketahanan tanaman terhadap blas. Ke empat kombinasi tersebut adalah yaitu
  1. tahan terhadap blas daun dan blas leher malai,
  2. tahan blas daun rentan blas leher malai,
  3. rentan blas daun tahan blas leher malai,
  4. rentan terhadap keduanya.

Ketahanan tanaman adalah salah satu aspek dalam pengendalian blas di lapangan. Pada awal upaya mencari varietas tahan, para peneliti bekerja dengan sifat ketahanan yang dimiliki suatu varietas terhadap suatu ras cendawan blas. Varietas dengan satu gen ketahanan tersebut ternyata tidak dapat bertahan menghadapi ras cendawan blas yang demikian cepat berkembang. Oleh karena itu pemuliaan mulai diarahkan kepada mencari varietas yang dapat bertahan menghadapi infeksi beragam ras blas di lapangan pada musim yang berbeda.

Rabu, 19 Juni 2013

Penggolongan Herbisida

Selain digolongkan berdasarkan waktu aplikasinya, herbisida juga dapat digolongkan berdasarkan cara kerja, selektifitas, dan sifat kimianya. Berdasarkan cara kerjanya herbisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma secara kimia pada lahan pertanian dibedakan menjadi :

Herbisida kontak adalah herbisida yang mematikan gulma dengan cara kontak melalui absorbsi akar atau daun. Herbisida jenis ini akan merusak bagian gulma yang terkena langsung oleh herbisida tersebut. Bagian gulma yang tidak terkena langsung oleh herbisida ini tidak akan rusak karena kandungan racun herbisida tidak ditranslokasikan ke bagian-bagian gulma lainnya. Contohnya herbisida kontak adalah herbisida yang bahan aktifnya asam sulfat 70 %, besi sulfat 30 %, tembaga sulfat 40 % dan paraquat.

Herbisida sistemik yaitu herbisida yang mematikan gulma melalui translokasi racun ke seluruh bagian-bagian gulma.  Herbisida sistemik mematikan gulma dengan berbagai cara yang antara lain:
  1. menghambat fotosisntesis, seperti herbisida berbahan aktif triazin dan substitusi urea amida.
  2. menghambat pernafasan (respirasi), seperti herbisida berbahan aktif amitrol dan arsen.
  3. menghambat perkecambahan, seperti herbisida berbahan aktif tiokarbamat dan karbamat.
  4. menghambat pertumbuhan gulma, seperti herbisida berbahan aktif 2, 4 D, dicamba, dan picloram.
Penggolongan Herbisida

Berdasarkan selektifitasnya, herbisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma secara kimia pada lahan pertanian dapat dibedakan menjadi:

Herbisida selektif adalah herbisida yang jika diaplikasikan pada berbagai jenis tumbuhan hanya akan mematikan species tertentu gulma dan relatif tidak mengganggu tanaman yang dibudidayakan misalnya herbisida berbahan aktif asm 2, 4 D yang mematikan gulma daun lebar dan relatif tidak mengganggu tanaman serelia.

Herbisida non-selektif adalah herbisida yang bila diaplikasikan pada beberapa jenis tumbuhan melalui tanah atau daun dapat mematikan hampir semua jenis tumbuhan termasuk tanaman yang dibudidayakan misalnya herbisida berbahan aktif arsenikal, klorat dan karbon disulfida.

Berdasarkan sifat kimiawinya herbisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma di lahan pertanian dibedakan menjadi :

Herbisida anorganik adalah herbisida yang bahan aktifnya tersusun secara anorganik, misalnya herbisida berbahan aktif amonium sulfanat, amonium sulfat, amonium tiosianat, kalsium sianamida, tembaga sulfat-nitrat-ferosulfat, sodium arsenat, sodium tetraborat, sodium klorat, sodium klorida-nitrat dan asam sulfurat.

Herbisida organik adalah herbisida yang bahan aktifnya tersusun, misalnya herbisida golongan nitrofenol+anilin, herbisida tipe hormon, herbisida berbahan aktif asam benzoat+fenil asetat, amida, nitril, arilkarbamat, substitusi urea, piridin, pirimidin-urasil, triazin, amitrol dan gugusan organoarsenat.

Hama Tanaman Vanili


Dalam usaha budidaya tanaman, hama merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi tercapai atau tidaknya tujuan budidaya. Hama baik langsung maupun tidak langsung berperan serta dalam menurunkan kualitas maupun kuantitas hasil panen tanaman yang dibudidayakan. Kaitannya dengan usaha budidaya tanaman vanili, hama juga sering menimbulkan kegagalan panen. Beberapa hama tersebut antara lain:

Hama Tanaman Vanili

Bekicot
Bekicot (Achatina fulica) adalah salah satu arthropoda yang sering menjadi hama bagi usaha budidaya tanaman vanili. Bekicot memakan batang, daun, bahkan buah tanaman vanili. Serangan dan jumlah hama ini meningkat ketika musim hujan. Jika tidak dikendalikan dengan baik, hama ini akan dapat menggagalkan panen bahkan dapat merusak kebun vanili. Pengendalian serangan bekicot dapat dilakukan secara fisik-mekanis dengan mengumpulkan bekicot yang berada di sekitar kebun untuk kemudian di musnahkan atau dijadikan pakan ternak. Namun agar lebih praktis, pengendalian juga dapat dilakukan secara kimiawi dengan memanfaatkan insektisida kontak dengan bahan aktif metiocarb, copersulfate, penta chloro phenol, atau niclosamide dengan konsentrasi 2 sampai 3 ppm.

Belalang Kepinding

Belalang kepinding (Mertila sp.) adalah salah satu insekta yang menjadi hama bagi tanaman vanili. Serangga ini menyerang beberapa bagian tanaman seperti batang, daun, bunga, buah, bahkan akar dengan menghisap cairan tanaman pada bagian tersebut dengan mulutnya. Bekas hisapan tersebut meninggalkan bekas berupa bercak-bercak hitam. Pada musim hujan, bercak-bercak ini seringkali terinfeksi oleh jamur patogen dari jenis fusarium. Jika dibiarkan terus menerus bercak tersebut dapat membesar dan mengakibatkan kematian bagi tanaman. Pengendalian hama ini paling efektif dilakukan dengan aplikasi insektisida.

Kutu Lamtoro
Kutu lamtoro (Ferrisa virgata) adalah hama yang menyerang tanaman vanili secara tidak langsung. Kutu lamtoro hanya menyerang tanaman pelindung tanaman vanili dari jenis lamtoro. Meski demikian, jika terus dibiarkan serangan kutu lamtoro dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman penaung menjadi terhambat. Dan jika pertumbuhan penaung terhambat, baik secara langsung maupun tidak, produktivitas tanaman vanili yang dibudidayakan pun akan menjadi turun.

Senin, 17 Juni 2013

Ulat Grayak

Ulatgrayak merupakan salah satu hama penting dalam budidaya pertanian, baik itu pertanian tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan. Hama ini bersifat polifag atau dapat menginang di banyak jenis tanaman sehingga agak sulit dikendalikan.  Ulatgrayak diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia; Filum Arthropoda; Kelas Insekta; Ordo Lepidoptera; Famili Noctuidae; Genus  Spodoptera; dan spesies Spodoptera litura F.

Ulatgrayak merupakan salah satu hama penting dalam budidaya pertanian, baik itu pertanian tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan. Hama ini bersifat polifag atau dapat menginang di banyak jenis tanaman sehingga agak sulit dikendalikan.  Ulatgrayak diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia; Filum Arthropoda; Kelas Insekta; Ordo Lepidoptera; Famili Noctuidae; Genus  Spodoptera; dan spesies Spodoptera litura F.

Biologi ulatgrayak

Siklus hidup ulatgrayak (dari telur hingga menjadi imago) berlangsung antara 32 hingga 60 hari (rata-rata 36 hari).  Stadia telur berlangsung selama 2 sampai 4 hari sejak imago meletakkan telur hingga menetas menjadi larva (rata-rata 2 hari).  Stadia larva terdiri atas 5 instar dan berlangsung antara 16–43 hari setelah telur menetas hingga menjadi pupa (rata-rata 16 hari).  Lama stadia pupa 8–11 hari (rata-rata 9 hari).  Lama stadia imago 6–12 hari (rata-rata 9 hari).

Tiap imago betina ulatgrayak meletakkan 4–8 kelompok telur dan tiap kelompok terdiri atas 30 sampai lebih dari 500 butir telur (rata-rata 350 butir).  Kemampuan bertelur seekor imago betina ulatgrayak dapat mencapai lebih dari 2.000 butir (dalam waktu 1–2 hari).  Telur berbentuk bulat dan menempel pada daun (kadang-kadang tersusun 2 hingga 3 lapis), berwarna coklat kekuning-kuningan diletakkan berkelompok (masing-masing berisi 25 sampai 500 butir) pada daun atau bagian tanaman yang lainnya.  Kelompok telur ulatgrayak tertutup bulu seperti beludru yang berasal dari bulu-bulu tubuh bagian ujung imago betina, lama stadia telur ulatgrayak adalah 2−4 hari.

Larva ulatgrayak yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi berwarna coklat tua hingga hitam kecoklatan dan hidup berkelompok.  Pada umur 2 minggu, panjang larva ulatgrayak sekitar 5 cm.  Ulatgrayak mempunyai warna yang bervariasi, mempunyai kalung berbentuk bulan sabit berwarna hitam pada segmen-segmen abdomen yang ke empat dan ke sepuluh, sedangkan pada sisi lateral dorsal terdapat sebuah garis berwarna kuning.  Stadia ulatgrayak terdiri atas 5 instar yang berlangsung selama 16−43 hari.  Ulatgrayak instar terakhir terdapat tanda bulan sabit berwarna hijau gelap dengan garis punggung gelap memanjang.

Ulatgrayak yang masih muda merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas (transparan) dan tulang daun.  Larva ulatgrayak instar lanjut merusak tulang daun dan kadang-kadang menyerang polong.  Biasanya ulatgrayak berada di permukaan bawah daun dan menyerang tanaman secara berkelompok.  Pada intensitas yang berat, serangan ulatgrayak dapat menyebabkan tanaman menjadi gundul karena daun dan buah habis dimakan larva.  Serangan ini pada umumnya terjadi pada musim kemarau.  Pada siang hari,  ulatgrayak bersembunyi di dalam tanah atau tempat yang lembap dan menyerang tanaman pada malam hari atau pada intensitas cahaya matahari yang rendah.  Biasanya ulatgrayak berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.  Antara lain tanaman yang diserang ulatgrayak adalah cabai, kubis, tomat, tebu, padi, jagung, buncis, jeruk,terung, kentang,  tembakau, bawang merah, kacang-kacangan, kangkung, bayam, pisang, (kedelai, kacang tanah),  dan tanaman hias.

Ulatgrayak berkepompong di dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon), berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,60 cm.  Lama stadia pupa ulatgrayak 8−11 hari.
  
Imago ulatgrayak berwarna coklat muda.  Sayap imago ulatgrayak bagian depan berwarna coklat hingga keperakan, dan sayap belakang berwarna keputihan dengan bercak-bercak hitam.  Imago ulatgrayak bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari dan sangat tertarik terhadap cahaya.  Pada siang hari, imago ulatgrayak bersembunyi.  Imago ulatgrayak memakan tetesan embun dan nektar.


Minggu, 16 Juni 2013

Pestisida

Pestisida adalah suatu bahan kimia sintetik yang bersifat racun dan dapat digunakan untuk membunuh organisme pengganggu tanaman yang dibudidayakan. Pengendalian organisme pengganggu tanaman menggunakan pestisida memiliki  beberapa keuntungan antara lain sangat efektif, aplikasinya praktis dan elastis (luwes, mudah penggunaannya), kebanyakan cocok/ kompatibel (adaptif, aditif bahkan sinergis) dengan teknik lainnya, relatif lebih murah.


Kerugian menggunakan pestisida antara lain beracun bagi manusia, lingkungan biotik, dan lingkungan abiotik, meninggalkan residu, Timbulnya jenis atau strain organisme pengganggu baru yang kebal terhadap pestisida, menguatnya (resurgensi) populasi organisme pengganggu karena tertekannya musuh alami, biaya pestisida menjadi mahal karena keberhasilan proses produksi sering bergantung pada pestisida, timbulnya hama sekunder menjadi hama utama

Pestisida secara umum dapat digolongkan berdasarkan objek sasaran, fungsi kerja, cara kerja, bahan aktif, dan formulasinya.

Berdasarkan objek sasarannya, pestisida dibedakan menjadi 5 golongan yang antara lain
Insektisida; untuk membunuh serangga,
Bakterisida untuk membunuh bakteri,
Herbisida; untuk membunuh gulma,
Fungisida; untuk membunuh jamur,
Rodentisida; untuk membunuh tikus,

Berdasarkan fungsi kerjanya, pestisida dibedakan menjadi 5 golongan yang antara lain
Untuk menarik serangga disebut atraktan,
Untuk mensterilkan serangga disebut kemosterilan,
Untuk menggugurkan daun disebut defoliant,
Untuk memperlambat, mempercepat, dan meningkatkan pertumbuhan tanaman disebut zat pengatur tumbuh,
Untuk penolak atau penghalau serangga disebut repellent.

Berdasarkan kandungan bahan aktifnya, pestisida dibedakan menjadi 7 golongan yang antara lain
Golongan organofosfat; pestisida golongan ini umumnya adalah jenis insektisida yang digunakan untuk membasmi serangga berjasad lunak. Jenis pestisida yang termasuk golongan ini adalah diazinon, fention, diklorvos, dimatoat, fenitrotion, fentoat, klorpirifos, kuinalfos, malation
Golongan  klorhidrokarbon; pestisida golongan ini biasanya berupa insektisida, dan pestisida yang masuk dalam golongan ini adalah dieldrin, endosulfan, klordan, dan lindan
Golongan karbamat; pestisida golongan ini biasanya berupa insektisida. Jenis pestisida yang masuk dalam golongan ini adalah karbaril, karbofuran, BPMC, MIPC, dan Propoksur
Golongan dipiridil; pestisida golongan ini biasanya berupa herbisida. Jenis pestisida yang termasuk golongan ini adalah Paraquat diklorida
Golongan arsen; pestisida golongan ini biasanya berupa insektisida untuk mengendalikan rayap kayu dan tanah. Jenis pestisida golongan ini adalah arsen pentoksida dan arsen pentoksida
Golongan antikoagulan; pestisida golongan ini biasanya berupa rodentisida. Jenis pestisida golongan ini adalah brodifakum, difasionon, kumatettralil, kumaklor, kumarin, wartarin
Golongan seng fosfida; pestisida golongan ini biasanya berupa rodentisida

Pestisida dibuat dalam formulasi yang disesuaikan dengan sifat bahan, cara kerja, objek sasaran. Formulasi tersebut merupakan komposisi bahan aktif, bahan pembawa, dan bahan tambahan lain untuk membantu proses kerja. Berdasarkan formulasinya, pestisida dibedakan menjadi 6 golongan yang antara lain

Cairan emulsi; Biasanya berupa cairan pekat yang jika dicampur dengan pelarut akan membentuk emulsi. Komposisi pestisida bentuk cair biasanya terdiri dari tiga komponen yaitu bahan aktif, pelarut serta perata. Pestisida formulasi ini dapat mudah dikenali dengan membaca label nama dagang. Biasanya di belakang nama dagang diikuti singkatan ES (Emulsifiable solution), atau WSC (Water Soluable Concentrate), atau E (Emulsifiable), atau S (Solution).
Butiran (Granular); Biasanya berupa butiran dengan ukuran 20-80 mesh yang merupakan komposisi bahan aktif antara 2 – 25%, bahan pembawa yang berupa talk (serbuk) dan kuarsa. Pestisida kelompok ini, di belakang nama dagangnya tercantum singkatan G (Granular) atau WDG (Water Dispersible Granule).
Debu (Dust); Komposisi pestisida formulasi debu terdiri dari bahan aktif dan talk. Nama dagang kelompok formulasi debu biasanya diikuti singkatan D (Dust)
Tepung (Powder); Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan aktif dan bahan pembawa seperti tanah liat dan talk (biasanya 50 – 75%). Dibelakang nama dagang pestisida formulasi tepung diikuti singkatan WP (Wettable Powder) atau WSP (Water Soluable Powder) atau SP (Soluable Powder)
Minyak (Oil); Bahan dengan formulasi ini biasanya dicampur minyak seperti xiten, korosen atau aminoester. Pestisida ini sering juga disebut SCO (Solluble Concentrate in Oil)
Fumigansia (Fumigant); Pestisida ini berupa zat kimia yang dapat menghasilkan uap, gas, bau, asap yang biasa digunakan di gudang penyimpanan.

Berdasarkan cara kerjanya, pestisida dibedakan menjadi 4 golongan yang antara lain

Pestisida kontak; memiliki daya bunuh apabila organisme pengganggu terkena langsung oleh bahan aktif pestisida.
Pestisida sistemik; dapat ditranslokasikan oleh tanaman, sehingga hama akan mati setelah mengkonsumsi cairan jaringan tanaman tersebut.
Pestisida lambung atau perut; memiliki daya bunuh apabila sistem pencernaan terkena  oleh bahan aktif pestisida.
Pestisida pernafasan; memiliki daya bunuh apabila organisme system pernafasan organisme pengganggu terkena oleh bahan aktif pestisida.

Sabtu, 15 Juni 2013

Strategi Pengendalian Hama

Strategi pengendalian hama adalah perencanaan menyeluruh pengendalian keberadaan dan populasi hama yang menyerang dan menimbulkan permasalahan dalam kegiatan usaha budidaya pertanian. Pemilihan strategi  pengendalian hama tergantung pada berbagai aspek yang antara lain karakteristik hama yang menyerang, tanaman yang akan dilindungi, dan prinsip ekonomi. Berdasarkan pengertian tersebut, maka strategi yang bisa dipilih untuk mengendalikan hama adalah sebagai berikut :

Strategi Pengendalian Hama Hayari NPV

1.  Strategi tidak melakukan tindakan apa-apa
Pada strategi ini, petani tidak melakukan tindakan apapun dalam mengatasi hama yang menyerang tanaman. Dengan catatan strategi ini dilakukan apabila keberadaan hama tidak sampai mengakibatkan kerusakan ekonomis (berada di bawah ambang ekonomi).

2.  Menurunkan jumlah populasi hama

Strategi menurunkan populasi merupakan strategi yang paling banyak dipakai dalam pengendalian hama. Strategi ini dilakukan apabila kepadatan populasi hama menyebabkan kerusakan yang ditimbulkannya mencapai atau melebihi ambang ekonomi. Selain itu, strategi ini juga dilakukan sebagai tindakan preventif yang didasarkan pada sejarah masalah hama tersebut. Secara umum, ada dua strategi utama yang dapat dilakukan untuk menurunkan populasi hama. Kedua strategi tersebut antara lain:
  1. Mengurangi populasi hama secara perlahan; apabila keseimbangan umum (general equilibrium posisition) hama lebih rendah dibanding ambang ekonominya (AE), dan
  2. penurunan populasi secara drastis apabila keseimbangan umum (general equilibrium posisition) terletak sangat dekat atau berada di atas ambang ekonominya. Metode yang dapat digunakan dalam penerapan strategi ini adalah penggunaan pestisida, kultivar resisten, musuh alami, kultivar resisten, modifikasi ekologi, penggunaan pengatur perkembangan serangga (Insect Growth Regulator), pelepasan jantan modul, penggunaan perangkap pembunuh, atau penggunaan bahan kimia yang dapat mengacau aktivitas perkawinan.

3.  Menurunkan kerentanan tanaman akibat luka oleh hama
Penurunan kerentanan tanaman akibat luka oleh hama dilakukan dengan melakukan modifikasi tanaman inang atau dengan pengelolaan lingkungan tanaman. Menurunkan kerentanan tanaman akibat luka oleh hama dapat dilakukan dengan 2 strategi yang antara lain:
  1. melakukan rekayasa genetika pada tanaman agar lebih tahan (resisten) terhadap serangan hama, (teknik ini sering disebut sebagai teknik ketahanan genetik atau ketahanan sejati karena bergantung pada modifikasi lingkungan)
  2. meningkatkan kemampuan daya hidup tanaman dengan pemupukan atau perubahan waktu tanam untuk mengganggu keselarasan antara hama dengan stadium tanaman yang peka terhadap hama.

4.  Kombinasi atau gabungan antara menurunkan populasi hama dengan menurunkan kerentanan tanaman
Pengkombinasian strategi menurunkan jumlah populasi hama dan menurunkan kerentanan tanaman terhadap hama dilakukan untuk memperoleh hasil yang optimal. Strategi ini dapat juga disebut sebagai penerapan teknologi pengendalian hama terpadu (PHT) secara lebih komprehensif.

Kamis, 13 Juni 2013

Sekilas tentang Gulma

Gulma adalah kelompok tumbuhan yang tumbuh dengan tidak dikehendaki oleh manusia. Hal ini terjadi karena gulma dianggap sebagai pengganggu pertumbuhan tanaman, baik itu pertumbuhan yang bersifat kuantitatif  (kerugian dalam jumlah atau bisa diwujudkan dengan angka) maupun pertumbuhan yang bersifat kualitatif (kerugian dalam hal kualitas hasil pertanian yang tidak bisa diwujudkan dengan angka).

Gulma Tanaman

Beberapa kerugian yang ditimbulkan oleh keberadaan gulma antara lain menimbulkan kompetisi dengan tanaman budidaya, sebagai rumah inang dari hama maupun patogen penyebab penyakit tanaman, mengurangi kualitas dan kuantitas hasil panen tanaman, dan menghambat kelancaran aktivitas pertanian.

Selain menimbulkan kerugian, keberadaan gulma juga dapat menguntungkan bagi kegiatan budidaya pertanian. Keuntungan tersebut antara lain sebagai konservasi alami untuk lahan gundul, menjadi makroflora yang dapat mensuplai bahan organik dalam tanah, serta gulma juga dapat difungsikan untuk beberapa keperluan.

Gulma mempunyai kemampuan untuk berkembangbiak secara generatif menggunakan biji, maupun secara vegetatif dengan membentuk organ perkembangbiakan vegetatif seperti umbi akar,  umbi daun, stolon, rhizom, umbi batang, dan rootstock.

Sabtu, 08 Juni 2013

Pengertian dan Penggolongan Hama

Hama adalah semua organisme atau agensia biotik (serangga, vertebrata, tungau, bakteri, virus, cendawan, cacing/nematoda, dan tumbuhan atau gulma) yang merusak tanaman atau hasil tanaman dengan cara-cara yang bertentangan dengan kepentingan manusia. Berdasarkan tingkat serangannya, hama digolongkan menjadi hama potensial, hama utama, hama reguler,   hama tidak penting, hama sewaktu-waktu, dan hama endemik.


  1. Hama potensial adalah semua organisme yang berpotensi menimbulkan kerugian pada manusia. Pada saat organisme tersebut berstatus sebagai hama potensial perkembangan populasinya terhalangi oleh kondisi lingkungan (fisik dan biotik).  Apabila kondisi lingkungan tersebut menunjang perkembangan populasi organisme tersebut, maka mungkin saja diantaranya akan berubah status menjadi hama utama (key pest).
  2. Hama utama (key pest) yaitu hama yang selalu ada dan menyebabkan kerugian secara ekonomi dengan persentase yang lebih bersar daripada hama lainnya.  Misalnya hama penggerek buah kopi (Hipothenemus hampei) dan hama penghisap buah lada (Dasynus piperis china).
  3. Hama tidak penting (minor pest), adalah hama yang menyerang tanaman, tetapi hanya sedikit sekali menyebabkan kerugian secara ekonomi. Hama ini timbulnya pun hanya sewaktu-waktu, maka disebut juga hama sewaktu-waktu (occasional pest).
  4. Hama reguler (reguler pest) adalah bila suatu spesies hama selalu timbul, misalnya hama tikus pada tanaman kelapa sawit, sebab hama ini selalu timbul di mana saja dan menyebabkan kerugian secara ekonomi, meskipun intensitas dan luas serangannya bervariasi antar musim.   
  5. Hama endemik (endemic pest) adalah hama yang selalu timbul di tempat atau daerah tertentu, sedangkan di daerah lain jarang terjadi, misalnya hama gajah di Lampung Timur.

Hubungan Hama dengan Tanaman

Secara sederhana, dapat kita lihat bahwa antara hama dengan tanaman terdapat hubungan langsung berupa hubungan makan dan dimakan seperti kaitannya dengan rantai makanan. Tanaman sebagai produsen nutrisi bagi hama dan hama mengkonsumsi nutrisi dari tanaman.

Serangan Hama pada Tanaman Inang

Ditinjau dari aspek serangga hama pada dasarnya ada 5 tahapan sehingga terjadi atau tidak terjadinya hubungan serangga hama dengan tanaman inang, kelima tahapan tersebut adalah : 
  1. Penemuan habitat inang; serangga hama menemukan habitat inang melalui cara-cara yang umumnya tidak ada kaitannya dengan inang itu sendiri.  Rangsangan fisik (cahaya, angin, gaya tarik bumi, suhu, dan kelembaban) membantu mengarahkan serangga yang sedang terbang pada tempat yang ada inangnya (habitat inang).
  2. Penemuan inang; untuk dapat menemukan inang kebanyakan serangga hama mengandalkan sinyal visual (warna, bentuk, dan ukuran) serta kimia (aroma).  Penemuan jarak jauh umumnya melibatkan warna, bentuk tanaman, atau bagian tanaman inang, sedangkan penemuan jarak dekat umumnya hanya melibatkan faktor kimia.
  3. Pengenalan inang; pengenalan tanaman inang dilakukan melalui kegiatan uji pecicipan.  Bila dirasakan sesuai maka kegiatan tersebut akan dilanjutkan, dan jika sebaliknya maka serangga akan berpaling ke tanaman lain.
  4. Penerimaan inang; jika senyawa kimia yang keluar dari sel tanaman dirasa sesuai, maka kegiatan makan akan terus berlanjut, yang kadang-kadang menimbulkan kerusakan bagi tanaman inang yang sekaligus menimbulkan kerugian bagi petani/pengusaha tanaman.
  5. Kesesuaian inang; ditentukan oleh nilai nutrisi yang tersedia atau yang terkandung dalam tanaman atau bagian tanaman inang serta tiadanya toksin (racun) bagi serangga hama yang bersangkutan.
Ditinjau dari aspek tanaman, terdapat dua faktor tanaman yang turut memberikan andil apakah terjadi atau tidak hubungan (interaksi) serangga hama dengan tanaman inang, kedua faktor tersebut adalah :
  1. Faktor morfologis; faktor ini biasanya menyediakan rangsangan fisik sehingga serangga hama tertarik atau tidak tertarik untuk menghampirinya.  Contoh faktor ini antara lain ukuran, bentuk dan warna daun, serta ada tidaknya sekresi kelenjar. Rambut daun dan kekerasan jaringan dapat membatasi pergerakan dan kegiatan makan serangga.
  2. Faktor fisiologis; faktor ini menyangkut senyawa kimia hasil metabolisme tanaman.  Senyawa primer merupakan senyawa yang terlibat sebagai katalisator reaksi, pembentukan jaringan, penyediaan sumber energi, semuanya berperan dalam pertumbuhan dan reproduksi tanaman.  Senyawa sekunder merupakan senyawa yang peranannya tidak jelas dalam metabolisme tanaman, tetapi diduga senyawa tersebut dihasilkan sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap serangan serangga hama.  Pemilihan tanaman inang oleh serangga hama dipengaruhi baik oleh senyawa primer maupun senyawa sekunder yang berfungsi sebagai tanda (token stimul).

Patogen sebagai Musuh Alami Hama

Berbagai spesies mikroba seperti jamur, bakteri, virus, dan nematoda yang bersifat patogen terhadap serangga juga dapat dimanfaatkan sebagai musuh alami hama tanaman.  Patogen adalah jasad renik yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga, yaitu bisa dari golongan cendawan, bakteri, nematoda, mikoplasma atau virus. Contoh agensia yang telah banyak digunakan antara lain cendawan Beauveria bassiana, Metarrhizium anisopliae, Bakteri Bacillus thuringiensis, Bacillus popiliae, virus Helicoverpa (Heliotis) NPV (Nuclear Polyhidrosis Virus),  dan lain-lain.

Ulat Grayak

Berbagai spesies mikroba seperti jamur, bakteri, virus, dan nematoda yang bersifat patogen terhadap serangga juga dapat dimanfaatkan sebagai musuh alami hama tanaman.  Patogen adalah jasad renik yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga, yaitu bisa dari golongan cendawan, bakteri, nematoda, mikoplasma atau virus. Contoh agensia yang telah banyak digunakan antara lain cendawan Beauveria bassiana, Metarrhizium anisopliae, Bakteri Bacillus thuringiensis, Bacillus popiliae, virus Helicoverpa (Heliotis) NPV (Nuclear Polyhidrosis Virus),  dan lain-lain.

Beberapa istilah atau pengertian yang kiranya diperlukan dalam pemanfaatan musuh alami mikroba sebagai agens pengendalian hama tanaman adalah penyakit epizootik. Penyakit epizootik adalah peristiwa kematian sejumlah besar dari populasi hama.  Berbeda dengan penyakit enzootik yang selalu ada kematian pada populasi hama, tetapi dengan jumlah sedikit.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya epizootik adalah :
  1. Virulensi dan infektivitas agensia pengendali yang sewaktu-waktu dapat berubah atau tidak mantap.  Makin sering agensia pengendali dibiakkan pada inangnya virulensinya akan makin meningkat.
  2. Tingkat kerentanan atau tingkat ketahanan hama sasaran dipengaruhi oleh faktor-faktor fisik (cuaca, suhu, kelembaban) dan makanannya.  Makin virulen agensia pengendali atau makin rentan populasi hama sasaran, makin cepat dan makin tinggi tingkat epizootik.
  3. Sampai seberapa jauh pemencaran infeksi yang terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan dan biologi hama sasaran serta agensia pengendali.

Parasitoid Hama

Dalam pengendalian memanfaatkan musuh alami, parasitoid paling banyak diusahakan karena sifatnya lebih spesifik.  Perlu diingat bahwa parasitoid berbeda dengan parasit yang selam ini kita kenal, perbedaannya adalah parasitoid memarasit hanya pada stadium pradewasa, tidak pindah inang, dan sasaran akhirnya mematikan inang; sedangkan parasit memarasit selama siklus hidupnya, bisa pindah inang, dan tidak sampai mematikan inang.

Pengendalian Hayati

Parasitoid adalah serangga yang pada stadium pradewasanya hidup sebagai parasit pada/dalam serangga lain (sebagai inang) sehingga dapat mengganggu pekembangan serangga hama dengan cara menghisap cairan tubuh, darah atau sari makanan.  Kehidupan parasitoid sangat misterius (sulit dikenal).  Imago parasitoid hidup bebas dan tidak bersifat parasit, serta memperoleh makanan dari nectar bunga tanaman, embun madu, air/embun yang ada disekitarnya untuk dapat bertahan hidup.  Kualitas makanan serangga parasitoid dewasa sangat menentukan lama hidup, keperidian, dan parasitisasi (kemampuan memarasit atau persentase parasitisme).

Sifat/ciri serangga parasitoid antara lain :
  1. Ukurannya lebih kecil dari inang
  2. Inangnya dari golongan taxanomi yang sama dengan parasitoid yang bersangkutan.
  3. Tidak pernah pindah inang (jika terjadi pindah inang, maka yang berikutnya sebagai mangsa, karenanberperan sebagai predator).

Berdasarkan cara kerjanya parasitoid dibedakan atas beberapa jenis, yaitu :
  1. Parasitoid telur, yaitu parasitoid yang meletakkan telur pada telur inang, akibatnya telur inang tidak menetas.
  2. Parasitoid larva, yaitu parasitoid yang meletakkan telur pada larva inang, akibatnya larva inang gagal menjadi pupa
  3. Parasit telur - larva yaitu parasitoid yang meletakkan telur pada telur inang, telur inang memetas, tetapi larva gagal menjadi pupa.
  4. Parasitoid larva - pupa yaitu parasitoid yang meletakkan telur pada larva inang, setelah menetas akan memarasit pupa dari larva inang tersebut, sehingga pupa gagal menjadi imago.
  5. Parasitoid pupa, yaitu parastoid yang meletakkan telur pada pupa inang, sehingga pupa inang gagal menjadi imago.
  6. Parasitoid primer, yaitu serangga parasitoid yang hidup dalam/pada dan memarasit serangga bukan parasitoid.
  7. Parasitoid sekunder (hiperparasitoid), yaitu serangga parasitoid yang hidup dalam/pada dan memarasit serangga parasitoid.
  8. Endoparasit, yaitu parasitoid yang memarasit serangga lain dengan cara menempatkan diri di dalam tubuh inang.  Endoparasitoid dibedakan lagi menjadi:
  9. Endoparasitoid larva, yaitu parasitoid hidup di dalam/pada larva inang. Larva inang disebut koinobion karena larva inang tetap aktif.
  10. Endoparasioid telur dan pupa, yaitu parasitoid yang hidup di dalam/pada telur dan pupa inang. Telur dan pupa inang disebut idobion karena telur dan pupa inang tidak aktif.
  11. Ektoparasit, yaitu parasitoid yang memarasit tetapi berada di luar tubuh inang. Ektoparasitoid biasnya pada larva dan pupa inang.  Larva dan pupa inang disebut idiobion karena larva dan pupa inang tidak aktif.
  12. Parasitoid soliter, yaitu apabila dari satu inang hanya keluar satu imago parasitoid.
  13. Parasitoid gregorius, yaitu apabila dari satu inang keluar lebih dari satu imago parasitoid (satu spesies), karena telur yang diletakkan lebih dari satu atau bersifat polyembrioni.
  14. Parasitoid ganda (multiple parasitoid), yaitu apabila lebih dari satu spesies parasitoid berkembang dalam/pada satu inang.  Dalam hal ini terjadi persaingan antar parasitoid.
  15. Superparasitisme, yaitu apabila dalam satu inang terdapat lebih dari satu individu parasitoid, tetapi pada akhirnya hanya ada satu parasitoid, karena yang lainnya mati (kalah).  Hal ini akan terjadi apabila jumlah inang sedikit, populasi parasitoid tinggi, dan makanan tambahan kurang tersedia.