Quintel Blogger theme

A free Premium Blogger theme.

Kami Siap Melayani Pemesanan Segala Jenis Pupuk Yang berkualitas Dan Berkadar Non Subsidi ke seluruh wilayah di indonesia, Untuk info lebih Lanjut Bisa hub. Alamat Di bawah ini:

Nama : Bpk. Indra
Alamat : Sidayu Gresik
No. Telp : 082391699911
e-mail : indralow1@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Hortikultura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hortikultura. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

Kultur jaringan pada Anggrek

Tanaman anggrek umumnya diperbanyak melalui persemaian biji dalam media agar atau juga perbanyakan secara vegetatif. Melalui perbanyakan vegetatif, sifat-sifat tertentu pada anggrek yang dibiakan dapat tetap lestari. Kendati demikian perbanyakan vegetatif kurang dapat menjawab permasalahan ketersediaan bibit anggrek yang dewasa ini permintaannya semakin besar. Untuk menjawab permasalahan tersebut, metode perbanyakan melalui kultur jaringan telah memberi alternatif yang sangat memuaskan. Betapa tidak, melalui perbanyakan dengan kultur jaringan, anggrek akan tetap memiliki sifat sama dengan induknya, menjaga keseragaman kualitas, sekaligus menyediakan bibit dalam jumlah yang besar.

Kultur jaringan pada Anggrek

Media yang digunakan dalam perbanyakan anggrek dengan metode kultur jaringan adalah media Vacint and Went. Air kelapa harus ditambahkan pada media ini karena air kelapa mengandung hormon sitokinin. Media lain yang dapat digunakan untuk perbanyakan invitro anggrek adalah media Knudson yang ditambahi pisang ambon yang telah dilumatkan dan diletakan pada dasar media. Media tersebut kemudian di sterilisasi dalam autoklaf bersuhu 120 derajat Celcius dengan tekanan 7,5 kg per-inch kuadrat.

Sebagai eksplan, dapat digunakan semua bagian tanaman anggrek seperti tunas, daun, atau ujung akar, yang penting bagian tersebut memiliki jaringan meristematik. Eksplan dari tunas diambul dari tunas ujung atau tunas ketiak daun yang terdaoat oada ruas-ruas batang anggrek. Eksplan dari daun diambil dari anggrek yang berada dalam botol semai karena daun tersebut masih muda dan masih steril.

Setelah eksplan siap, eksplan tersebut kemudian di sterilisasi menggunakan clorox 10% ditambah satu tetes tween 20, atau menggunakan kaporit 0,4%. Sterilisasi dilakukan dengan mengocok eksplan dalam botol berisi larutan sterilisator selama beberapa menit, setelah kemudian dibilas dengan aquades beberapa kali untuk kemudian di tanam dalam media cair.

Sebagai media cair, dapat digunakan media Vacin and Went. Dalam media cair, eksplan dikocok menggunakan shaker dengan kecepatan 60 sd 120 rpm pada suhu 25 derajat Celcius melalu penerangan lampu neon pada jarak sekitar 60 cm di atasnya. Di dalam media ini, eksplan akan membentuk protocorm like bodies (plb). Plb terebut berfungsi sebagai bentuk awal mula bibit anggrek baru, karena setelah + 1,5 bulan, plb tersebut akan menjadi tanaman anggrek sempurna  yang memiliki akar, batang, dan daun yang tumbuh pada media.

Jika bibit anggrek tersebut sudah cukup besar dan kuat, bibit anggrek tersebut dapat diaklimatisasi pada pot-pot seperti layaknya bibit dari perbanyakan generatif.

Jumat, 12 Juli 2013

Syarat Tumbuh Tanaman Tomat


Tanaman tomat adalah salah satu tanaman yang dapat tumbuh hampir di semua tempat, baik dataran rendah atau dataran tinggi.  Kendati demikian, tomat tidak menyukai daerah yang bertanah basah dengan curah hujan yang terlalu tinggi. Hal ini karena tomat sangat rentan terhadap berbagai serangan penyakit yang umumnya disebabkan oleh cendawan, seperti cendawan Phythoptora infestans dan sejenisnya.

Tomat tidak dianjurkan ditanam pada tanah yang tergenang atau becek, karena pada keadaan demikian akar tanaman tomat akan rentan membusuk dan tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan fungsinya secara optimal. Untuk pertumbuhan optimal, tanaman tomat menghendaki tanah yang memiliki aerasi dan draenase yang baik, derajat keasaman 5 sd 6, sedikit mengandung pasir, mengandung banyak humus, dan untuk tomat genjah struktur tanah liat berpasir akan lebih baik.


Syarat Tumbuh Tanaman Tomat

Untuk produksi optimal, tanaman tomat membutuhkan penyinaran penuh sepanjang hari, namun sinar yang terlalu terik dengan suhu yang terlalu tinggi juga cenderung tidak disukai oleh tomat. Tanaman yang memiliki nama botani Solanum lycopersicum L. ini tidak menyukai hujan yang terlalu lebat, daerah yang terlalu berawan, angin kering, dan udara panas.

Suhu optimum untuk pertumbuhan tomat adalah 23 derajat Celcius pada siang hari dan 17 derajat Celcius pada malam hari. Suhu yang terlalu tinggi serta diikuti dengan kelembaban relatif tinggi dapat memicu berkembangnya penyakit deaun, sedangkan kelembaban relatif yang rendah akan dapat menhambat proses pembentukan bunga dan buah.

Pembentukan buah sangat dipengaruhi oleh suhu malam hari. pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa suhu malam yang terlalu tinggi menyebabkan tanaman tomat tidak mempu melakukan pembentukan bunga sama sekali. Sedangkan pada suhu yang terlalu rendah, yakni di bawah 10 derajat Celcius, tepung sari akan mati dan tidak banyak yang dapat melakukan pernyerbukan.

Selasa, 25 Juni 2013

Penyakit Layu Bakteri

Penyakit layu bakteri adalah salah satu penyakit yang sering menyerang beberapa komoditas hortikultura seperti tomat, kacang tanah, cabai, kentang, dan tembakau. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Pseudomonas solanacearum pada bagian tanaman tertentu seperti daun, batang, dan umbi. Serangan penyakit layu bakteri dapat diidentifikasi dari gejala-gejala serangan yang ditimbulkan.


Gejala serangan penyakit layu bakteri:
Pada awalnya daun muda menjadi layu dan lalu diikuti oleh menguningnya daun-daun tua. Jika batang, cabang, atau tangkai daun tanaman yang terinfeksi dipotong, berkas pembuluh batangnya akan tampak berwarna coklat. Pada serangan di stadium lebih lanjut, pembuluh batang akan mengeluarkan massa bakteri dalam bentuk lendir berwarna putih susu pada tomat dan berwarna keabu-abuan pada kentang. Jika potongan batang tersebut dimasukan ke dalam gelas yang berisi air jernih, akan tampak benang-benang putih halus keluar dari pembuluh batang. Benang-benang putih halus  yang akan putus jika digoyang itulah yang disebut massa bakteri. Perlakuan tersebut merupakan salah satu cara untuk membedakan penyakit layu bakteri dan penyakit layu fusarium.

Pada kasus lain, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas  solanacearum  ini, dapat juga menyerang umbi kentang. Umbi kentang yang terserang layu bakteri dapat diidentifikasi dengan adanya endapan hitam pada salah satu ujung umbi tersebut. Jika umbi dipotong, akan terlihat jaringan yang membusuk dan berwarna coklat. Pada lingkaran berkas pembuluh umbi, terdapat lendir-lendir berwarna krem hingga kelabu.

Pencegahan dan pengendalian penyakit layu bakteri dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti cara kultur teknis dan cara kimiawi. Cara kultur teknis dilakukan melalui pergiliran tanaman, dan perbaikan drainase, sedangkan cara kimiawi dapat dilakukan melalui sterilisasi tanah menggunakan fumigan seperti Basamid-G dan aplikasi bakterisida terutama pada lahan yang menerapkan sistem mulsa plastik seperti tomat dan cabai.

Senin, 24 Juni 2013

Kutu Daun (Aphis sp.)

Kutu daun (Aphis sp.) adalah salah satu hama bagi beberapa komoditas tanaman hortikultura. Kutu daun dapat menginang pada beberapa tanaman komoditas tersebut seperti kentang, apel, jeruk, bawang merah, apel, cabai tomat, hingga kapas. Kutu yang panjang tubuhnya antara 1 sd 2 mm ini, memiliki warna tubuh yang bervariasi tergantung pada spesies dan lingkungan hidupnya. Warna tersebut antara lain kuning, kuning kemerah-merahan, hijau, hijau gelap, hijau kekuning-kuningan, dan hitam suram. Kutu daun ada yang memiliki sayap dan ada pula yang hidup tanpa sayap.


Siklus hidup kutu daun dimulai dari telur yang menetas pada umur 3 sd 4 hari setelah diletakan. Telur menetas menjadi larva dan hidup selama 14 sd 18 hari dan berubah menjadi imago. Imago kutu daun mulai bereproduksi pada umur 5 sd 6 hari pasca perubahan dari larva menjadi imago. Imago kutu daun dapat bertelur sampai 73 telur selama hidupnya.

Serangan kutu daun umumnya dimulai dari permukaan daun bagian bawah, pucuk tanaman, kuncup bunga, dan batang muda. Dan kadang kali kutu daun juga dapat berperan sebagai vektor pembawa virus penyebab beberapa penyakit tanaman.

Gejala yang ditimbulkan dari serangan kutu daun bervariasi tergantung jenis tanaman yang diserang.
  1. Pada tanaman kapas, kutu daun menyerang dengan cara menghisap cairan tanaman pada bagian pucuk daun tanaman sehingga menyebabkan bentuknya abnormal dan keriting.
  2. Pada tanaman kentang seangan kutu daun menimbulkan gejalan daun memucat, berkeriput, dan lalu menggulung.
  3. Pada tanaman cabai, serangan kutu daun menyebabkan perkembangan daun dan bunga yang terserang menjadi terhambat.
  4. Pada tanaman apel, serangan kutu daun menyebabkan daun berkerut, menggulung, dan akhirnya keriting. Selain itu bunga buah tanaman aple menjadi gugur.

Serangan kutu daun dapat dikendalikan melalui aplikasi insektisida kontak seperti Hostathion 40 EC, Thiodan 35 EC, dan Decis 2,5 EC.

Minggu, 23 Juni 2013

Anggrek Berdasarkan Habitatnya

Setiap jenis tanaman termasuk anggrek umumnya membutuhkan syarat tumbuh tertentu untuk kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu sangat penting diperhatikan kesesuaian jenis anggrek dengan lokasi atau tempat penanaman nantinya. Berdasarkan keadaan lingkungannya, lokasi pemeliharaan anggrek dapat digolongkan menjadi 3 yaitu :

Dataran Rendah   
Daerah dataran rendah pada umumnya bersuhu tinggi sehingga panas, suhu pada malam hari berkisar antara 21 sampai dengan 27 derajat C dan suhu pada siang hari berkisar antara 27 sampai dengan 35 derajat C. Daerah rendah dengan kelembaban tinggi (60 sampai dengan 80%), misalnya Jakarta, Tangerang, dan Bekasi sesuai ditanami anggrek Vanda teret dan semi-teret beserta kerabatnya, Dendrobium, Aranthera, Oncidium, dan Arachnis.


Dataran Menengah   
Daerah menengah pada umumnya memiliki udara yang sejuk dengan suhu pada malam hari berkisar antara 21 sampai dengan 24 derajat C dan suhu pada siang hari berkisar antara 24 sampai dengan 29 derajat C. Jenis anggrek yang sesuai ditanam di dataran menengah dengan kelembaban tinggi (60 sampai dengan 80%), contohnya Dendrobium, Cattleya dan kerabatnya, Phalaenopsis dan kerabatnya, Oncidium, Vanda berdaun lebar, dan Paphiopedilum. Daerah yang mempunyai ketinggian sedang dan kelembaban tinggi misalnya Sukabumi, Prigen, dan Malang.

Dataran Tinggi (>700 m dpl)   
Daerah tinggi pada umumnya memiliki udara yang relatif dingin dengan suhu pada malam hari berkisar antara 10 sampai dengan 16oC dan suhu pada siang hari berkisar antara 16 sampai dengan 21 derajat C. Jenis anggrek yang sesuai ditanam di dataran tinggi dengan kelembaban tinggi (60 sampai dengan 80%), contohnya Cattleya dan kerabatnya, Phalaenopsis dan kerabatnya, Miltonia, Vanda berdaun lebar, Cymbidium, dan Paphiopedilum. Daerah yang berada di ketinggian tinggi dan kelembaban tinggi misalnya Cipanas, Lembang, Dieng, dan sekitarnya.

Sabtu, 22 Juni 2013

Ulat Crosi (Crocidolomia binotalis Zeller)


Ulat Crosi (Crocidolomia binotalis Zeller) adalah salah satu hama penting bagi beberapa komoditas hortikultura di Indonesia.  Jika tidak dikontrol dengan baik, serangan ulat crosi terutama di musim kemarau, dapat menyebabkan kerusakan hingga 100% pada tanaman yang dibudidayakan.
Ulat Crosi (Crocidolomia binotalis Zeller)




Ulat crosi diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia, Filum Arthropoda, Kelas Insecta, Ordo Lepidoptera, Famili Pyralidae, Genus Crocidolomia dan  Spesies Crocidolomia binotalis Zell.

Telur ulat crosi berwarna hijau terang dan biasanya terletak di sisi bawah daun tanaman yang diserang.  Sebelum menetas, warna telur crosi berubah dari oranye menjadi kuning-kecoklatan, dan akhirnya menjadi coklat tua.  Telur diletakkan oleh ngengat secara berkelompok dan berlapis (2 sampai 3 lapis) dengan rata-rata jumlah telur sebanyak 120 butir tiap kelompok dan akan menetas setelah 3-6 hari.

Larva yang baru menetas berwarna hitam kehijauan dan menyukai tempat yang agak gelap.  Larva dewasa umumnya  berukuran 15 sampai 21 mm dan memiliki corak berupa tiga garis putih membujur di bagian punggungnya.  Lama stadium larva antara 11-17 hari. Larva membentuk pupa di permukaan tanah.  Pupa berwarna coklat kekuningan dan kemudian menjadi coklat gelap.  Ukuran pupa umumnya sekitar 3 sampai 10 mm dan akan menetas setelah berumur 9-13 hari.

Kerusakan yang disebabkan oleh ulat krosi pada tanaman dapat menjadi masalah serius karena ulat tersebut lebih suka memakan daun muda dan titik tumbuh hingga habis. Larva muda bergerombol di permukaan bawah daun tanaman dan meninggalkan bercak putih pada daun yang diserang.  Larva instar ke tiga sampai ke lima memencar dan menyerang pucuk tanaman sehingga menrusak titik tumbuh.  Akibatnya tanaman akan mati atau minimal batang tanaman akan membentuk cabang.  Larva menyerang secara berkelompok dan dapat menghabiskan seluruh daun dan hanya meninggalkan tulang daun saja.  Larva juga memakan batang kubis dengan cara membuat lubang sehingga terjadi pembusukan dan kubis tidak dapat dipanen sama sekali.

Cara mengendalikan ulat crosi pada tanaman budidaya hampir sama dengan pengendalian ulatgrayak, antara lain adalah :
  1. Pengendalian fisik dan mekanik dengan mengambil kelompok telur, membunuh larva dan imago atau mencabut tanaman inang yan terserang ulat crosi.
  2. Pengelolaan tanaman secara kultur teknis dengan cara menanaman varietas tahan hama, penggunaan benih sehat, pergiliran tanaman, dan melakkan sanitasi lahan.
  3. Pemanfaatan musuh alami hama (parasitoid, predator, dan patogen) hama sebagai pengendali ulatgrayak.

Kamis, 20 Juni 2013

Hortikultura


Secara bahasa, hortikultura berasal gabungan 2 kata, yakni hortus yang artinya kebun dan culture yang artinya bercocok tanam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hortikultura diartikan sebagai seluk beluk kegiatan atau seni bercocok tanam sayur-sayuran, buah-buahan, dan atau tanaman hias.

Dalam praktiknya, hortikultura sangat berhubungan dengan ilmu pengetahuan lainnya, seperti teknik budidaya tanaman, ilmu tanah dan pemupukan, ilmu hama, ilmu penyakit, ilmu gulma, klimatologi, dan lain-lain. Budidaya hortikultura umumnya diusahakan secara lebih intensif dibanding dengan budidaya tanaman pangan maupun budidaya tanaman perkebunan. Oleh karena itulah hasil yang diperoleh dari budidaya holtikultura pada umumnya juga lebih tinggi.

hortikultura berasal gabungan 2 kata, yakni hortus yang artinya kebun dan culture yang artinya bercocok tanam

Secara umum, ilmu hortikultura dapat dikelompokkan atas 4 kategori yaitu ilmu tanaman buah, ilmu tanaman sayuran, ilmu tanaman hias, dan ilmu landscape arsitektur.

Ilmu tanaman buah; ilmu ini membahas mengenai segala hal tentang budidaya tanaman buah-buahan seperti budidaya semangka, melon, rambutan, durian, pisang, nanas, dan lain-lain.

Ilmu tanaman sayuran; ilmu ini membahas mengenai segala hal tentang budidaya tanaman sayur seperti  bayam, wortel, buncis, kol, lobak, asparagus, dan lain-lain. Tanaman sayuran memiliki umur yang relatif singkat dan biasa dikonsumsi ketika masih segar, oleh karenanya proses penanganan produk-produk sayuran lebih spesifik dibandingkan dengan produk hortikultura lainnya.

Ilmu tanaman hias; ilmu ini membahas mengenai segala hal tentang budidaya tanaman hias. Seperti diketahui bahwa manfaat dari tanaman hias adalah meningkatkan estetika atau keindahan lingkungan.

Ilmu landscape arsitektur; ilmu ini membahas mengenai segala hal yang berkaitan dengan penataan landscape suatu lahan agar lebih memiliki nilai seni dan nyaman dipandang. Cabang hortikultura ini juga bisa dikatakan sebagai ilmu pertamanan.

Minggu, 09 Juni 2013

Memperpendek Masa TBM Tanaman Nangka dan Cempedak

Tanaman nangka dan cempedak umumnya mulai berbunga pada umur 3 sampai 5 tahun setelah tanam, tergantung pada bagaimana teknik budidaya, genetik bibit yang ditanam, iklim, serta ekologi lingkungan pertumbuhan tanaman. Pembungaan pertama tanaman nangkan merupakan titik awal berubahnya fase tanaman dari belum menghasilkan menjadi menghasilkan. Untuk memperpendek usia TBM sama halnya dengan merangsang tanaman agar cepat berbuah, sedangkan merangsang tanaman agar cepat berbuah berarti sama dengan merangsang tanaman agar cepat berbunga.

 Nangka dan Cempedak

Merangsang tanaman nangka dan cempedak agar cepat berbunga dapat dilakukan dengan beberapa metode yang antara lain:
  1. Pelukaan Batang
  2. Pengeboran Batang

Meski berbeda-beda, ketiga metode perangsangan bunga tersebut memiliki prinsip yang sama yakni menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman dan mengoptimalkan pertumbuhan generatif tanaman. Untuk lebih jelasnya, pelajari kedua metode tersebut dengan mengklik link-link diatas.

Pengeboran Batang untuk Merangsang Pembungaan Tanaman Nangka dan Cempedak

Selain dengan pelukaan batang, perangsangan pembungaan tanaman nangka dan cempedak dapat juga dilakukan dengan pengeboran batang. Namun, cara ini sebenarnya hanya dapat dilakukan pada tanaman yang benar-benar sehat, bebas dari serangan hama dan telah berumur minimal 30 bulan. Secara teknis, pengeboran tanaman nangka sebaiknya dilakukan pada bulan Februari atau Maret. Setelah 2 bulan dari pengeboran, bunga-bunga akan tumbuh dari tanaman nangka. Teknik ini telah dilakukan oleh beberapa petani di Sumatera dan menunjukkan hasil yang cukup memuaskan, karena dengan penerapan teknik ini, usia tanaman belum menghasilkan pada tanaman nangka dan cempedak bisa diperpendek hingga 1,5 tahun.


Cara pengeboran batang:
  1. Siapkan alat bor yang memiliki mata dengan diameter maksimal 1,5 cm.
  2. Sebelum digunakan untuk mengebor, mata bor harus dibersihkan dulu dengan air panas atau fungisida.
  3. Batang tanaman nangka dibor mendatar pada ketinggian 1,25 meter dari permukaan tanah hingga kedalaman 4 cm.
  4. Setelah batang terlubangi, isikan pupuk daun (contohnya Gandasil) secukupnya.
  5. Tutup lubang boran tersebut dengan kain atau kapas yang bersih.

Pelukaan Batang untuk Merangsang Pembungaan Tanaman Nangka dan Cempedak

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk merangsang pembungaan pada tanaman nangka dan cempedak adalah dengan pelukaan batang utama tanaman nangka dan cempedak tersebut. Pelukaan batang dapat dilakukan dengan membacok-bacoknya menggunakan golok. Secara logis, pelukaan batang dapat menyebabkan aliran fotosintat dari daun ke bagian tanaman lain akan terhambat. Fotosintat yang tidak dapat dialirkan tersebut kemudian secara tidak langsung akan dimanfaatkan oleh tanaman untuk memproduksi bunga.

 Merangsang Pembungaan Tanaman

Pada praktiknya, pelukaan batang hanya dilakukan sebatas pada jaringan kulitnya saja (floem). Bila pelukaan dilakukan hingga jaringan kayunya (xilem), batang tanaman akan penuh luka yang tidak bisa disembuhkan, bahkan dapat hingga menyebabkan kematian tanaman tersebut.

Cara melakukan pelukaan:

Siapkan alat berupa golok atau sabit yang tajam dan sebelumnya telah bersihkan terlebih dulu. Bacok-bacok batang nangka dan cempedak pada ketinggian antara 0,5 sampai dengan 2 meter dari permukaan tanah. Untuk menghindari masuknya air hujan pada luka hasil bacokan, usahakan agar arah bacokan adalah dari atas ke bawah. Pembacokan dilakukan spiral dari bawah ke atas dan usahakan bacokan dilakukan dengan teratur.

Morfologi Tanaman Cempedak

Cempedak (Arthocarpus champeden Spreng.) adalah tanaman pohon yang tingginya dapat mencapai 25 meter yang penampilan fisiknya hampir mirip dengan nangka dan tergolong ke dalam famili euphorbiceae. Perbedaan mencolok antara penampilan fisik tanaman nangka dan cempedak terletak pada percabangannya yang lebih lebat serta batangnya lebih lurus dan lebih tinggi.

Morfologi Tanaman Cempedak

Akar
Seperti halnya nangka, cempedak juga berakar tunggang dengan percabangannya yang banyak. Fungsi utama akar adalah menyerap unsur hara dari tanah, selain juga sebagai penopang tegaknya tanaman.

Batang

Secara umum, batang cempedak lebih kecil dibandingkan tanaman nangka dengan diameter optimal 15 sampai 20 cm. Karena tergolong ke dalam famili euphorbiceae, batang cempedak mengandung getah yang pekat. Batang cempedak memiliki permukaan berbulu halus dan berwarna coklat keabu-abuan. Batang cempedak juga sangat cocok untuk dijadikan bahan baku pembuatan perkakas rumah tangga karena tergolong kuat dan tahan rayap.

Daun

Daun cempedak tergolong daun tunggal dengan tekstur lebih lemas dibandingkan daun nangka. Karena ditumbuhi bulu-bulu halus, daun cempedak yang berwarna hijau ini memiliki tekstur yang kasar jika diraba.  Daun muda atau yang masih kuncup selalu diselubungi stipula yang berwarna cokelat. Stipula tersebut akan gugur dengan sendirinya jika daun menua.

Bunga
Seperti nangka, bunga cempedak juga merupakan bunga majemuk. Bunga tersusun dalam bunga periuk yang berbentuk bulat panjang. Dalam satu pohon terdapat bunga jantan dan bunga betina yang tumbuh terpisah, sehingga tanaman cempedak tergolong tanaman berumah satu.

Buah
Setelah terjadi penyerbukan, bunga betina akan tumbuh menjadi buah cempedak yang umumnya berbentuk bulat memanjang. Ukuran rata-rata buah cempedak adalah panjang 40 cm dan diameter 20 cm. Duri pada kulit buah cempedak tidak setajam dan sekasar buah nangka. Buah cempedak berwarna hijau kekuning-kuningan ketika masih muda dan menjadi kuning kecoklatan jika sudah tua (masak).
Daging buah (nyamplung) cempedak berbentuk tipis, lunak, berserat, dengan warna putih kekuning-kuningan dan aromanya yang sangat kuat.meski kulit buah dan daminya dilepas, nyamplung akan tetap menempel pada tangkai buah, karena ikatannya dengan tangkai daun sangat erat.

Biji

Biji cempedak berukuran lebih kecil dibanding biji nangka dengan bentuk agak bulat, persis seperti daging buahnya. Sama seperti nangka, biji cempedak juga dapat dikonsumsi setelah direbus.

Sabtu, 08 Juni 2013

Morfologi Tanaman Nangka

Nangka (Artocarpus heterophyllus) adalah tanaman jenis buah tahunan yang tergolong ke dalam famili malvales dan hanya tumbuh di daerah yang beriklim tropis.  Tanaman nangka dapat dikenali dari berbagai penampilan fisiknya yang antara lain dari akar, batang, daun, buah, dan bunga.

Morfologi Tanaman Nangka

Akar
Tanaman nangka tumbuh kokoh karena ditunjang oleh sistem perakaran yang kuat dari jenis akar tunggang dengan sistem percabangan akar yang cukup banyak. Sistem perakaran yang kuat ini menyebabkan tanaman nangka sering ditanam untuk keperluan konservasi lahan miring dan daerah aliran sungai.

Daun
Daun tanaman nangka tergolong daun tunggal yang tumbuh berselang-seling pada bagian ranting tanaman. Permukaan daun nangka bagian atas dan bawah memiliki penampilan yang berbeda. Permukaan daun bagian atas memiliki warna hijau cerah dengan tekstur yang licin, sedangkan permukaan daun bagian bawah berwarna hijau tua dengan tekstur yang kasar. Pangkal daun memiliki penumpu berbentuk segitiga dengan warna kuning kecoklatan.

Bunga
Tanaman nangka adalah tanaman berumah satu, artinya dalam satu tanaman dapat dijumpai bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan dicirikan dengan bentuknya yang menyerupai gada, bengkok, dan berwarna hijau tua, sedangkan bunga betina dicirikan dengan bentuknya yang menyerupai gada silindris yang pipih.

Buah
Buah nangka tergolong buah majemuk semu, artinya buah tersebut tersusun oleh rangkaian bunga majemuk (nyamplung) dan dari luar terlihar seperti hanya satu buah.Di dalam buah nangka (diantara nyamplung) terdapat dami-dami yang sebetulnya merupakan bunga nangka yang tidak terserbuki.