Quintel Blogger theme

A free Premium Blogger theme.

Kami Siap Melayani Pemesanan Segala Jenis Pupuk Yang berkualitas Dan Berkadar Non Subsidi ke seluruh wilayah di indonesia, Untuk info lebih Lanjut Bisa hub. Alamat Di bawah ini:

Nama : Bpk. Indra
Alamat : Sidayu Gresik
No. Telp : 082391699911
e-mail : indralow1@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Kultur Jaringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kultur Jaringan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juli 2013

Produksi Bibit Kelapa Kopyor dengan Kultur Embrio

Saat ini kebutuhan kelapa kopyor dicukupi dari pohon-pohon kelapa tertentu yang sebagian buahnya kopyor. Jenis pohon kelapa demikian menghasilkan buah normal dan sebagian kecil dari buah yang dihasilkan tersebut termasuk buah kelapa kopyor. Secara alami, embrio buah kelapa kopyor tidak dapat tumbuh menjadi pohon kelapa. Untuk memperoleh bibit kelapa kopyor, dipergunakan bibit berupa buah kelapa yang diambil dari pohon kelapa yang buahnya sebagian kopyor. Bibit ini kelak akan menjadi pohon kelapa yang menghasilkan presentase buah kelapa kopyor sekitar 2,1% sampai 15% dari total jumlah seluruh buah, kendati idealnya memang diharapkan buah kopyor dari pohon tersebut bisa mencapai 100%.


Untuk memperoleh bibit kelapa yang presentase buah kopyornya tinggi,digunakan teknologi kultur embrio kelapa kopyor. Kekopyoran yang terdapat pada suatu buah kelapa ternyata bersifat genetik. Jadi kalau orang berhasil menumbuhkan embrio dari buah kelapa kopyor, buah tersebut akan menghasilkan atau berbuah kopyor dengan persentase yang tinggi. Kegagalan tumbuhnya embrio kelapa kopyor adalah akibat dari abnrmalitasnya daging buah (endosperm) kelapa kopyor tersebut. Daging buah kelapa kopyor cepat membusuk setelah tua, sehingga embrio pun gagal tumbuh karena tak memiliki persediaan makanan. Jadi dalam kultur embrio kelapa kopyor, embrio harus terlebih dahulu disapih dari buahnya lalu ditumbuhkan dalam media buatan sebagai pengganti makanan alamiahnya.

Sebagai bahan tanam pada kultur embrio kelapa kopyor,  embrio kelapa kopyor harus diambil dengan hati-hati dari buah kelapa kopyor, embrio ini kemudian disterilkan dalam larutan kalsium hipoklorit 5% selama 10 menit, lalu dicuci dengan aquades steril hingga 3 kali. Embrio ini kemudian siap untuk dikulturkan. Embrio dapat dikulturkan dalam dua tahap, yakni tahap cair dan tahap padat. Untuk lebih jelasnya mengenai teknik pengkulturan embrio kelapa kopyor tersebut, silakan baca artikel kami yang berjudul teknik pengkulturan kelapa kopyor.

Rabu, 17 Juli 2013

Kultur jaringan pada Anggrek

Tanaman anggrek umumnya diperbanyak melalui persemaian biji dalam media agar atau juga perbanyakan secara vegetatif. Melalui perbanyakan vegetatif, sifat-sifat tertentu pada anggrek yang dibiakan dapat tetap lestari. Kendati demikian perbanyakan vegetatif kurang dapat menjawab permasalahan ketersediaan bibit anggrek yang dewasa ini permintaannya semakin besar. Untuk menjawab permasalahan tersebut, metode perbanyakan melalui kultur jaringan telah memberi alternatif yang sangat memuaskan. Betapa tidak, melalui perbanyakan dengan kultur jaringan, anggrek akan tetap memiliki sifat sama dengan induknya, menjaga keseragaman kualitas, sekaligus menyediakan bibit dalam jumlah yang besar.

Kultur jaringan pada Anggrek

Media yang digunakan dalam perbanyakan anggrek dengan metode kultur jaringan adalah media Vacint and Went. Air kelapa harus ditambahkan pada media ini karena air kelapa mengandung hormon sitokinin. Media lain yang dapat digunakan untuk perbanyakan invitro anggrek adalah media Knudson yang ditambahi pisang ambon yang telah dilumatkan dan diletakan pada dasar media. Media tersebut kemudian di sterilisasi dalam autoklaf bersuhu 120 derajat Celcius dengan tekanan 7,5 kg per-inch kuadrat.

Sebagai eksplan, dapat digunakan semua bagian tanaman anggrek seperti tunas, daun, atau ujung akar, yang penting bagian tersebut memiliki jaringan meristematik. Eksplan dari tunas diambul dari tunas ujung atau tunas ketiak daun yang terdaoat oada ruas-ruas batang anggrek. Eksplan dari daun diambil dari anggrek yang berada dalam botol semai karena daun tersebut masih muda dan masih steril.

Setelah eksplan siap, eksplan tersebut kemudian di sterilisasi menggunakan clorox 10% ditambah satu tetes tween 20, atau menggunakan kaporit 0,4%. Sterilisasi dilakukan dengan mengocok eksplan dalam botol berisi larutan sterilisator selama beberapa menit, setelah kemudian dibilas dengan aquades beberapa kali untuk kemudian di tanam dalam media cair.

Sebagai media cair, dapat digunakan media Vacin and Went. Dalam media cair, eksplan dikocok menggunakan shaker dengan kecepatan 60 sd 120 rpm pada suhu 25 derajat Celcius melalu penerangan lampu neon pada jarak sekitar 60 cm di atasnya. Di dalam media ini, eksplan akan membentuk protocorm like bodies (plb). Plb terebut berfungsi sebagai bentuk awal mula bibit anggrek baru, karena setelah + 1,5 bulan, plb tersebut akan menjadi tanaman anggrek sempurna  yang memiliki akar, batang, dan daun yang tumbuh pada media.

Jika bibit anggrek tersebut sudah cukup besar dan kuat, bibit anggrek tersebut dapat diaklimatisasi pada pot-pot seperti layaknya bibit dari perbanyakan generatif.

Selasa, 16 Juli 2013

Hormon Tumbuhan pada Kultur Jaringan

Kata hormon adalah salah satu kata dalam bahasa Yunani yakni hormaein yang berarti menggiatkan. Kata hormon awalnya dipopulerkan oleh pada ahli fisiologi. Lalu kemudian berkembang dan umum digunakan untuk lingkungan ilmu manusia, hewan, maupun ilmu tumbuhan. Hormon pada tumbuhan disebut hormon tumbuhan atau bahasa populernya disebut fitohormon.

Saat ini, dikenal berbagai golongan zat yang termasuk hormon tumbuhan yakni auksin, giberilin, sitokinin, etilen, dan inhibitor. Setiap hormon memiliki khasiat dan fungsi tertentu yang menjadi ciri khasnya. Kendati demikian, fungsi utama hormon adalah sebagai pengatur tumbuh tumbuhan.


Pengertian hormon yang saat ini umum dimasyarakat adalah suatu zat yang yang dibuat secara alami dalam tubuh tumbuhan dalam konsentrasi rendah dapat mengatur pertumbuhan dan proses fisiologis pada tumbuhan tersebut. Kendati demikian hormon yang dulunya dikenal hanya dapat diproduksi sendiri oleh tumbuhan, saat ini berkat kemajuan teknologi manusia sudah dapat memproduksi hormon tumbuhan sendiri secara sintetis. Hormon yang dibuat secara sintesis tersebut lebih tepat disebut zat pengatur tumbuh (ZPT).

Kultur jaringan memanfaatkan hormon tumbuhan untuk memacu terbentuknya jaringan tertentu dari sel kalus yang belum terdefferensiasi. Sehingga pengetahuan umum tentang hormon tumbuhan baik itu yang alami maupun yang diperoleh dari hasil sintesis manusia, amat diperlukan untuk menunjang optimalisasi dan keberhasilan kegiatan kultur jaringan.

Beberapa hormon yang sering dimanfaatkan atau secara tidak langsung terdapat dalam kultur jaringan antara lain auksin, giberilin, sitokinin, dan inhibitor.

Auksin adalah salah satu hormon tumbuhan yang dalam konsentrasi rendah, mampu menyebabkan terjadinya pemanjangan sel pada jaringan tunas muda, merangsang pertumbuhan buah dan pembentukan kalus. Kendati demikian, dalam konsentrasi yang tinggi, fungsi auksin akan berbalik 180 derajat. Hormon auksi pertama kali ditemukan pada tahun 1926 oleh F.W. Went.

Giberilin adalah salah satu hormon tumbuhan yang mampu merangsang pembungaan, merangsang pembuahan kendati tidak terjadi penyerbukan, merangsang pertumbuhan tanaman kerdil menjadi raksasa dalam waktu singkat, merangsang pertumbuhan biji dan tunas, dan merangsang tinggi tanaman hingga 3 sd 5 kali keadaan normal. Giberilin pertama kali ditemukan oleh seorang ahli patologi Jepang bernama Kurosawa.

Sitokinin adalah salah satu hormon tumbuhan yang mampu menyebabkan pembelahan sel tumbuhan terutama pada sel atau jaringan tumbuhan yang ditumbuhkan pada media buatan.

Inhibitor adalah salah satu hormon tumbuhan yang mampu menghambat atau memperlambat berbagai proses fisiologis atau biokemis pada tumbuhan. Beberapa senyawa yang tergolong inhibitor adalah asam benzoat, asam salat, kumarin, dan eskulin.

Minggu, 23 Juni 2013

Anggrek Berdasarkan Habitatnya

Setiap jenis tanaman termasuk anggrek umumnya membutuhkan syarat tumbuh tertentu untuk kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu sangat penting diperhatikan kesesuaian jenis anggrek dengan lokasi atau tempat penanaman nantinya. Berdasarkan keadaan lingkungannya, lokasi pemeliharaan anggrek dapat digolongkan menjadi 3 yaitu :

Dataran Rendah   
Daerah dataran rendah pada umumnya bersuhu tinggi sehingga panas, suhu pada malam hari berkisar antara 21 sampai dengan 27 derajat C dan suhu pada siang hari berkisar antara 27 sampai dengan 35 derajat C. Daerah rendah dengan kelembaban tinggi (60 sampai dengan 80%), misalnya Jakarta, Tangerang, dan Bekasi sesuai ditanami anggrek Vanda teret dan semi-teret beserta kerabatnya, Dendrobium, Aranthera, Oncidium, dan Arachnis.


Dataran Menengah   
Daerah menengah pada umumnya memiliki udara yang sejuk dengan suhu pada malam hari berkisar antara 21 sampai dengan 24 derajat C dan suhu pada siang hari berkisar antara 24 sampai dengan 29 derajat C. Jenis anggrek yang sesuai ditanam di dataran menengah dengan kelembaban tinggi (60 sampai dengan 80%), contohnya Dendrobium, Cattleya dan kerabatnya, Phalaenopsis dan kerabatnya, Oncidium, Vanda berdaun lebar, dan Paphiopedilum. Daerah yang mempunyai ketinggian sedang dan kelembaban tinggi misalnya Sukabumi, Prigen, dan Malang.

Dataran Tinggi (>700 m dpl)   
Daerah tinggi pada umumnya memiliki udara yang relatif dingin dengan suhu pada malam hari berkisar antara 10 sampai dengan 16oC dan suhu pada siang hari berkisar antara 16 sampai dengan 21 derajat C. Jenis anggrek yang sesuai ditanam di dataran tinggi dengan kelembaban tinggi (60 sampai dengan 80%), contohnya Cattleya dan kerabatnya, Phalaenopsis dan kerabatnya, Miltonia, Vanda berdaun lebar, Cymbidium, dan Paphiopedilum. Daerah yang berada di ketinggian tinggi dan kelembaban tinggi misalnya Cipanas, Lembang, Dieng, dan sekitarnya.

Sabtu, 22 Juni 2013

Sterilisasi Media Kultur Jaringan

Setelah pembuatan media agar selesai, media dibagi-bagi ke dalam beberapa botol penanaman. Dalam satu botol tanam berisi kurang lebih 20 – 25 ml. Selama proses pemindahan media ke dalam botol-botol penanaman tersebut sangat memungkinkan terjadinya kontaminasi oleh mikroorganisme, baik bakteri atau jamur.  Kontaminasi bisa disebabkan oleh eksplan, organisme kecil yang masuk  dalam media, botol kultur serta alat-alat tanam yang tidak steril, lingkungan kerja dan ruang kultur yang kotor, dan pelaksana.


Agar mikroorganisme patogen yang masuk ke dalam media tidak dapat berkembang biak maka perlu dilakukan sterilisasi terhadap media tersebut sebelum digunakan untuk menanam. Sterilisasi media kultur bisa dilakukan dengan menggunakan uap panas pada suhu 121 derajat Celcius, dengan tekanan 15 sampai dengan 17 PSI, selama 20 sampai dengan 25 menit. Sterilisasi media tidak dianjurkan terlalu lama karena dapat menyebabkan penguraian gula dalam media, degradasi vitamin dan asam-asam amino, inaktivasi sitokinin dan zeatine ribosida, dan perubahan pH.

Media yang sudah disterilisasi dapat langsung dipergunakan atau dapat juga disimpan lebih dahulu beberapa waktu pada ruang penyimpanan yang dijaga kelembabannya.

Jumat, 21 Juni 2013

Dasar Perhitungan Kebutuhan Media dan Larutan Stok

Kebutuhan media dan larutan stok diartikan sebagai kebutuhan akan jumlah bahan media dan larutan stok yang harus dipenuhi pada waktu  yang diperlukan pada beberapa macam/tahap kegiatan kultur jaringan.   Kebutuhan media ini dapat dibedakan atas kebutuhan per kegiatan kultur jaringan per satuan waktu tertentu dan kebutuhan untuk total kegiatan kultur jaringan per satuan waktu tertentu.  Kebutuhan media dan larutan stok ini ditentukan oleh sejumlah faktor:
Dasar Perhitungan Kebutuhan Media dan Larutan Stok

Jumlah dan jenis bibit yang akan diproduksi; makin banyak bibit yang akan diproduksi, makin banyak kebutuhan media yang harus disediakan per satuan waktu tertentu.  Antar jenis bibit yang satu dengan yang lainnya akan berbeda dalam hal kebutuhan media.

Jenis media yang dipilih; pemilihan formula/resep akan menentukan jumlah dan jenis kebutuhan media, mengingat komposisi formula pada setiap formula tidak sama.  Kebutuhan bahan untuk pembuatan media MS relatif lebih besar per komponen media dibandingkan formula yang lain.  Formula media MS juga kadang-kadang disesuaikan dengan kebutuhan kultur, misalnya ada yang memodifiasi menjadi ½ MS, dan lain-lain.

Metoda kultur jaringan yang dipilih; metode kultur jaringan dapat dibedakan atas: metoda perbanyakan tunas samping (aksilar), metoda perbanyakan tunas adventif (langsung dan tidak langsung), dan metoda embriogenesis (langsung dan tidak langsung).  Tiap-tiap metode yang dipilih tentu akan berbeda dalam hal penggunaan media.

Frekuensi penggandaan propagul; makin banyak propagul yang diperbanyak makin banyak kebutuhan media.

Cara pengakaran kultur; ada dua cara pengakaran kultur yakni cara in-vitro dan ex-vitro.  Pengakaran secara in vitro akan membutuhkan media untuk media pengakaran.  Pada pengakaran ex vitro, media yang digunakan dapat menggunakan media pembibitan.

Kebutuhan media ini secara rinci dihitung berdasarkan tahapan-tahapan pekerjaan yang berkaitan dengan pemakaian media, yaitu: tahap inisiasi kultur (penumbuhan awal eksplan), tahap penggandaan propagul (tergantung frekuensi penggandaan), tahap pembesaran kultur sampai planlet siap diaklimatisasikan.   Dari total kebutuhan media kita dapat menentukan kebutuhan arutan stok yang akan dibuat.  Bila kebutuhan larutan stok terlalu banyak kita dapat membuat stok pada beberapa tahap.

Sebagai contoh, kita akan menghitung kebutuhan media dan arutan stok untuk satu kegiatan, yaitu inisiasi kultur sebagai berikut:  Bila kita menginisiasi biji anggrek, secara berkala (per minggu) dengan target 40 botol yang menggunakan media per botolnya 25 ml, maka kebutuhan media per minggu 1 liter.  Kita membutuhkan 10 liter untuk  2 1/2  bulan.  Oleh karena itu kita dapat membuat larutan stok 10 kali konsentrasi media untuk membuat 10 l media agar masa simpannya tidak terlalu lama.    

Kamis, 20 Juni 2013

Mengatur pH Media Tumbuh Eksplan Kultur Jaringan

pH merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam membuat media maupun larutan stok.  Kisaran nilai pH yang dipandang paling sesuai untuk kebanyakan media kultur jaringan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan sel-sel tanaman antara 5,5 – 5,8.  Pada nilai pH yang terlalu asam (< 4,5) agar akan terhidrolisis dan sulit membentuk gel.  Nilai pH harus diatur agar tidak mengganggu membran sel dan pH sitoplasma.  Selain itu pengaturan pH juga ditujukan untuk hal-hal berikut:
  1. Memudahkan kelarutan bahan-bahan kimia dalam pembuatan media
  2. Memudahkan pengambilan/penyerapan bahan zat pengatur tumbuh dan bahan-bahan kimia yang lain
  3. Meningkatkan efisiensi pembekuan agar

Mengatur pH Media Tumbuh Eksplan Kultur Jaringan

Pengukuran pH media dilakukuan sebelum sterilisasi dengan autoklaf.  Meskipun setelah di autoklaf pH media mengalami penurunan, hal ini tidak memerlukan lagi pengaturan pH. Pengukuran pH media dapat menggunakan pH meter atau kertas indikator.  Pengukuran dengan kertas indikator sangat sederhana, yaitu dengan mencelupkan kertas indikator/lakmus kemudian mencocokkan warna lakmus setelah dicelupkan dengan warna dan nilai pH yang tersedia pada pak indikator pH.  Nilainya lebih bersifat kualitatif.  Pengukuran dengan pH meter memerlukan kalibrasi setiap periode waktu.  Biasanya pH meter menggunakan elektroda gelas.  Hasil pengukurannya bersifat kuantitatif.  Nilai pH dapat diatur dinaikkan atau diturunkan sesuai dengan nilai yang diharapkan.  Bila nilai pH lebih tinggi dari nilai yang diinginkan dapat dberikan (ditetesi) HCl 1 N, sebaliknya bila nilai pH lebih rendah dari nilai yang diharapkan ditetesi NaOH atau KOH 1 N.

Jumat, 07 Juni 2013

Penataan Ruang Laboratorium Kultur Jaringan

Penataan ruangan dalam laboratorium disesuaikan dengan langkah-langkah dalam prosedur kultur jaringan dan alat-alat yang diperlukan,  pembagian ruangan dalam laboratorium kultur jaringan adalah sebagai berikut. 

Laboratorium Kultur Jaringan

Ruang persiapan, ruangan ini digunakan untuk persiapan media, persiapan bahan tanaman, tempat pencucian dan penyimpanan alat-alat gelas. Pada ruangan ini terdapat alat-alat seperti: timbangan analitik, kulkas, hot plate magnetic stirer, pH meter, otoklaf, oven, alat-alat gelas standar, lemari alat-alat, lemari bahan, dan lain-lain.

Ruang transfer, ruangan ini digunakan untuk inokulasi eksplan yang dimulai dari isolasi bagian tanaman, sterilisasi, dan penanaman eksplan pada media. Ruangan ini harus steril bebas dari debu dan hewan kecil.  Dalam ruangan ini terdapat peralatan seperti: laminar air flow cabinet, alat-alat diseksi (scalpel, pinset, spatula, guntung, jarum), hand sprayer, bunsen, timbangan kecil, dan lain-lain.

Ruang kultur, ruangan ini digunakan untuk pertumbuhan kultur. Ruangan ini memerlukan pengaturan faktor-faktor lingkungan seperti: suhu, cahaya, dan kelembaban.  Pada ruangan ini terdapat: rak-rak kultur yang bertingkat 3-4 dilengkapi lampu TL, timer untuk mengontrol lama penyinaran, AC, mikroskop, shaker (penggojok), dan lain-lain.


Pengertian, Tujuan, dan Prinsip Pembuatan Larutan Stok

Larutan stok adalah larutan yang konsentrasinya dipekatkan dari konsentrasi dalam media.  Kepekatan tersebut biasanya dinyatakan dalam kelipatan konsentrasi media, misalnya 10x, 20x, 100x, bahkan 1000x dari konsentrasi media. Tujuan dibuatnya larutan stok adalah untuk menghindari penimbangan atau penakaran yang berulang-ulang setiap kali membuat media tanam bagi eksplan.  Selain itu, kadang kali timbangan untuk menimbang bahan-bahan dalam jumlah yang sangat kecil tidak tersedia di laboratorium.   Larutan stok sebaiknya disimpan di tempat yang bersuhu rendah dan gelap.

Larutan Stok

Pada prinsipnya pembuatan larutan stok harus mempertimbangkan hal-hal berikut:

Masa kadaluarsa; larutan stok baik makro maupun mikro tidak dianjurkan untuk dipakai lebih dari 2 bulan, sedangkan stok vitamin masa pemakaiannnya sebaiknya tidak melebihi 2 minggu. Oleh karena itu stok yang dibuat harus habis sebelum melewati batas kadaluarsanya

Konsentrasi/kepadatan larutan; larutan stok yang dibuat terlalu pekat dikhawatirkan akan mudah membentuk endapan-endapan yang menyebabkan berkurangnya konsentrasi senyawa-senyawa pada larutan stok tersebut

Volume wadah; untuk menghemat tempat penyimpanan larutan stok di dalam kulkas, kita dapat membuat larutan stok pada wadah yang lebih kecil dengan tetap memperhatikan kejenuhan/kepekatan larutan.  

Pengelompokan ion sejenis/senama; pengelompokkan stok juga didasarkan pada jenis ion senama, mengingat adanya ion senama membuat senyawa-senyawa yang dilarutkan stabil dalam bentuk ion-ion. 

Menyiapkan Bahan Eksplan Kultur Jaringan

Bahan eksplan adalah bagian kecil jaringan atau organ yang diambil atau dipisahkan dari tanaman induk kemudian dikulturkan. Tanaman yang dijadikan sumber eksplan harus dari tanaman yang sehat, tumbuh baik atau normal dan tentunya memiliki sifat-sifat unggul. Adanya perubahan suhu, cahaya, musim serta kelembaban terhadap induk sangat mempengaruhi keberhasilan perkembangan bahan eksplan. Selain itu tanaman induk harus cukup unsur hara, lama penyinaran dan intensitas cahaya serta hormon tumbuh atau dengan kata lain pertumbuhannya harus optimum.

Menyiapkan Bahan Eksplan Kultur Jaringan

Bagian tanaman yang dapat dijadikan bahan eksplan adalah ujung akar (kaliptra), pucuk, daun, bunga, buah muda dan tepung sari. Selain itu faktor yang dimiliki bahan eksplan itu sendiri yaitu ukuran eksplan, umur fisiologis, sumber genotif dan sterilitas eksplan menentukan berhasil atau tidaknya kulturisasi eksplan. Ukuran eksplan yang kecil umumnya mempunyai daya tahan yang kurang baik dibandingkan dengan eksplan yang ukurannya lebih besar. Ukuran eksplan yang baik adalah antara 0,5 hingga 1 cm, kendatipun demikian, hal ini tidaklah mutlak pada semua eksplan, melainkan tergantung pada material tanaman yang dipakai serta jenis tanamannya.

Umur fisiologis eksplan terpengaruh terhadap kemampuannya untuk beregenerasi. Jaringan tanaman yang masih muda dan bersifat meristematik (sel-selnya masih aktif membelah) lebih mudah beregenerasi dibandingkan dengan jaringan yang sudah tua. Oleh karena itu bagian tanaman yang meristematik tingkat keberhasilan pengkulturannya lebih tinggi apabila dijadikan sebagai bahan eksplan. Bagian tanaman yang termasuk jaringan meristematik adalah pucuk apikal, pucuk lateral dan pucuk aksial. Pucuk aksial adalan pucuk dari tunas atau cabang aksial yang muncul pada ketiak daun, pucuk apikal adalah pucuk utama pada batang terminal yang mengarah ke atas dan pucuk lateral adalah pucuk yang muncul pada percabangan.

Bahan eksplan dapat diambil dari tanaman dewasa yaitu pada bagian pucuk tanaman, daun atau umbi bahkan bijinya. Bahan eksplan dari daun dipilih daun yang tidak terlalu muda dan juga tidak terlalu tua. Pemotongan eksplan dilakukan dengan mengikutkan ibu tulang daun karena pada bagian ini lebih cepat tumbuh menjadi kalus. Apabila bahan eskplan berasal dari umbi biasanya umbi ditumbuhkan terlebih dahulu tunasnya. Bagian tunas yang tumbuh dari umbi tersebut kemudian dijadikan sebagai bahan eksplan, contohnya umbi batang tanaman kentang, umbi batang tanaman talas dan umbi lapis bawang merah.

Biji dapat dijadikan sebagai eksplan dan sebaiknya dipilih biji yang bersertifikat atau dipetik langsung dari tanaman induknya yang sudah diketahui keunggulan fenotif dan genotifnya. Bagian-bagian biji, seperti embrio atau kotiledon dapat dijadikan sbagai bahan eksplan, misalnya pada tanaman jagung, kedelai, jarak, paprika dan lain-lain. Biji juga dapat langsung ditanam atau dikecambahkan pada media agar-agar, contohnya pada kasus biji anggrek yang tidak memiliki cadangan makanan.

Pemilihan suatu bagian tanaman sebagai bahan eksplan juga harus mempertimbangkan faktor kemudahan bahan eksplan tersebut untuk beregenerasi dan kemungkinan tingkat kontaminasinya. Bagian tanaman yang mengandung banyak persediaan makanan serta bahan-bahan lain untuk pertumbuhan, seperti umbi lebih mudah untuk beregenerasi dibandingkan dengan bagian tanaman yang kurang mengandung bahan makanan. Bagian tanaman yang berasal dari akar yang tumbuh di dalam tanah tingkat kontaminasinya lebih tinggi dibandingkan dengan bagian-bagian tanaman yang ada di atas permukaan tanah seperti pucuk atau daun serta biji. Tanaman yang cenderung bergetah juga memiliki tingkat kontaminasi lebih tinggi daripada yang tidak memiliki getah.

Kamis, 06 Juni 2013

Pemeliharaan Planlet di Tempat Aklimatisasi

Agar tetap dapat hidup normal, planlet yang telah ditanam di media aklimatisasi (lingkungan lapangan) harus dipelihara dengan baik. Pemeliharaan tersebut meliputi kegiatan pembukaan sungkup, pengairan, pemupukan, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

Aklimatisasi Kultur

Pemeliharaan yang kaitannya dengan pembukaan sungkup dilakukan sedemikian rupa agar planlet dapat beradaptasi dengan kelembaban udara lingkungan lapang yang biasanya lebih rendah. Pengadaptasian tersebut dilakukan dengan cara mengurangi kondisi kelembaban di  lingkungan hidupnya dengan pembukaan sungkup aklimatisasi secara bertahap. Perubahan kondisi kelembaban lingkungan secara bertahap tersebut akan meningkatkan kemampuan planlet hidup pada kondisi lingkungan lapangan tanpa mengalami stres yang berat.

Media tanam planlet pada prinsipnya harus selalu lembab sehingga kebutuhan air untuk proses pertumbuhan tanaman dapat terus terpenuhi. Penyiraman pada planlet sebaiknya dilakukan dua kali sehari. Penyiraman berguna untuk melarutkan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dan menjaga kondisi kelembaban media. Penyiraman tersebut akan menjaga ketersediaan uap air pada sore hari karena persediaan uap air hasil penyiraman pada pagi hari sudah habis dimanfaatkan tanaman dan sebagian menguap ke lingkungan di siang harinya. Penyiraman tidak boleh berlebihan karena akan dapat menyebabkan terjadinya kebusukan pada planlet akibat serangan jamur atau bakteri.

Pemeliharaan planlet di lapangan juga dilakukan dengan pengaturan intensitas cahaya matahari sekitar 40-50 %. Hal ini berguna untuk mengadaptasikan planlet yang biasanya hidup di dalam laboratorium yang cahayanya hanya diperoleh dari lampu TL. Perubahan intensitas cahaya yang drastis mencapai 75 % akan menyebabkan stres pada planlet dan dapat mengakibatkan kematian. Planlet pada saat umur berkisar antara 5-7 hari setelah penanaman dapat diberikan intensitas cahaya sampai 70 %. Pengadaptasian planlet terhadap intensitas cahaya yang tinggi atau penuh dapat dilanjutkan sampai planlet hidup dan tumbuh normal pada kondisi lapangan.

Pemupukan untuk meningkatkan pertumbuhan planlet dapat dilakukan sekitar satu minggu setelah penanaman planlet. Pupuk yang dianjurkan adalah pupuk daun seperti Hyponex, Gandasil, atau Bayfolan. Tujuan dari penggunaan pupuk daun adalah agar pupuk yang diberikan dapat langsung diserap oleh daun untuk pertumbuhan tanaman. Pemupukan dapat dilakukan sekali dalam seminggu. Aplikasi pupuk daun biasanya menggunakan hand spayer atau knapsack sprayer jika skala penanamannya lebih luas. Pemupukan tersebut dapat dilakukan bersamaan dengan aplikasi pestisida apabila ditemukan serangan hama dan penyakit pada planlet yang dipelihara di tempat aklimatisasi.