Quintel Blogger theme

A free Premium Blogger theme.

Kami Siap Melayani Pemesanan Segala Jenis Pupuk Yang berkualitas Dan Berkadar Non Subsidi ke seluruh wilayah di indonesia, Untuk info lebih Lanjut Bisa hub. Alamat Di bawah ini:

Nama : Bpk. Indra
Alamat : Sidayu Gresik
No. Telp : 082391699911
e-mail : indralow1@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Anggrek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anggrek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

Kultur jaringan pada Anggrek

Tanaman anggrek umumnya diperbanyak melalui persemaian biji dalam media agar atau juga perbanyakan secara vegetatif. Melalui perbanyakan vegetatif, sifat-sifat tertentu pada anggrek yang dibiakan dapat tetap lestari. Kendati demikian perbanyakan vegetatif kurang dapat menjawab permasalahan ketersediaan bibit anggrek yang dewasa ini permintaannya semakin besar. Untuk menjawab permasalahan tersebut, metode perbanyakan melalui kultur jaringan telah memberi alternatif yang sangat memuaskan. Betapa tidak, melalui perbanyakan dengan kultur jaringan, anggrek akan tetap memiliki sifat sama dengan induknya, menjaga keseragaman kualitas, sekaligus menyediakan bibit dalam jumlah yang besar.

Kultur jaringan pada Anggrek

Media yang digunakan dalam perbanyakan anggrek dengan metode kultur jaringan adalah media Vacint and Went. Air kelapa harus ditambahkan pada media ini karena air kelapa mengandung hormon sitokinin. Media lain yang dapat digunakan untuk perbanyakan invitro anggrek adalah media Knudson yang ditambahi pisang ambon yang telah dilumatkan dan diletakan pada dasar media. Media tersebut kemudian di sterilisasi dalam autoklaf bersuhu 120 derajat Celcius dengan tekanan 7,5 kg per-inch kuadrat.

Sebagai eksplan, dapat digunakan semua bagian tanaman anggrek seperti tunas, daun, atau ujung akar, yang penting bagian tersebut memiliki jaringan meristematik. Eksplan dari tunas diambul dari tunas ujung atau tunas ketiak daun yang terdaoat oada ruas-ruas batang anggrek. Eksplan dari daun diambil dari anggrek yang berada dalam botol semai karena daun tersebut masih muda dan masih steril.

Setelah eksplan siap, eksplan tersebut kemudian di sterilisasi menggunakan clorox 10% ditambah satu tetes tween 20, atau menggunakan kaporit 0,4%. Sterilisasi dilakukan dengan mengocok eksplan dalam botol berisi larutan sterilisator selama beberapa menit, setelah kemudian dibilas dengan aquades beberapa kali untuk kemudian di tanam dalam media cair.

Sebagai media cair, dapat digunakan media Vacin and Went. Dalam media cair, eksplan dikocok menggunakan shaker dengan kecepatan 60 sd 120 rpm pada suhu 25 derajat Celcius melalu penerangan lampu neon pada jarak sekitar 60 cm di atasnya. Di dalam media ini, eksplan akan membentuk protocorm like bodies (plb). Plb terebut berfungsi sebagai bentuk awal mula bibit anggrek baru, karena setelah + 1,5 bulan, plb tersebut akan menjadi tanaman anggrek sempurna  yang memiliki akar, batang, dan daun yang tumbuh pada media.

Jika bibit anggrek tersebut sudah cukup besar dan kuat, bibit anggrek tersebut dapat diaklimatisasi pada pot-pot seperti layaknya bibit dari perbanyakan generatif.

Sabtu, 22 Juni 2013

Sterilisasi Media Kultur Jaringan

Setelah pembuatan media agar selesai, media dibagi-bagi ke dalam beberapa botol penanaman. Dalam satu botol tanam berisi kurang lebih 20 – 25 ml. Selama proses pemindahan media ke dalam botol-botol penanaman tersebut sangat memungkinkan terjadinya kontaminasi oleh mikroorganisme, baik bakteri atau jamur.  Kontaminasi bisa disebabkan oleh eksplan, organisme kecil yang masuk  dalam media, botol kultur serta alat-alat tanam yang tidak steril, lingkungan kerja dan ruang kultur yang kotor, dan pelaksana.


Agar mikroorganisme patogen yang masuk ke dalam media tidak dapat berkembang biak maka perlu dilakukan sterilisasi terhadap media tersebut sebelum digunakan untuk menanam. Sterilisasi media kultur bisa dilakukan dengan menggunakan uap panas pada suhu 121 derajat Celcius, dengan tekanan 15 sampai dengan 17 PSI, selama 20 sampai dengan 25 menit. Sterilisasi media tidak dianjurkan terlalu lama karena dapat menyebabkan penguraian gula dalam media, degradasi vitamin dan asam-asam amino, inaktivasi sitokinin dan zeatine ribosida, dan perubahan pH.

Media yang sudah disterilisasi dapat langsung dipergunakan atau dapat juga disimpan lebih dahulu beberapa waktu pada ruang penyimpanan yang dijaga kelembabannya.

Jumat, 07 Juni 2013

Menyiapkan Bahan Eksplan Kultur Jaringan

Bahan eksplan adalah bagian kecil jaringan atau organ yang diambil atau dipisahkan dari tanaman induk kemudian dikulturkan. Tanaman yang dijadikan sumber eksplan harus dari tanaman yang sehat, tumbuh baik atau normal dan tentunya memiliki sifat-sifat unggul. Adanya perubahan suhu, cahaya, musim serta kelembaban terhadap induk sangat mempengaruhi keberhasilan perkembangan bahan eksplan. Selain itu tanaman induk harus cukup unsur hara, lama penyinaran dan intensitas cahaya serta hormon tumbuh atau dengan kata lain pertumbuhannya harus optimum.

Menyiapkan Bahan Eksplan Kultur Jaringan

Bagian tanaman yang dapat dijadikan bahan eksplan adalah ujung akar (kaliptra), pucuk, daun, bunga, buah muda dan tepung sari. Selain itu faktor yang dimiliki bahan eksplan itu sendiri yaitu ukuran eksplan, umur fisiologis, sumber genotif dan sterilitas eksplan menentukan berhasil atau tidaknya kulturisasi eksplan. Ukuran eksplan yang kecil umumnya mempunyai daya tahan yang kurang baik dibandingkan dengan eksplan yang ukurannya lebih besar. Ukuran eksplan yang baik adalah antara 0,5 hingga 1 cm, kendatipun demikian, hal ini tidaklah mutlak pada semua eksplan, melainkan tergantung pada material tanaman yang dipakai serta jenis tanamannya.

Umur fisiologis eksplan terpengaruh terhadap kemampuannya untuk beregenerasi. Jaringan tanaman yang masih muda dan bersifat meristematik (sel-selnya masih aktif membelah) lebih mudah beregenerasi dibandingkan dengan jaringan yang sudah tua. Oleh karena itu bagian tanaman yang meristematik tingkat keberhasilan pengkulturannya lebih tinggi apabila dijadikan sebagai bahan eksplan. Bagian tanaman yang termasuk jaringan meristematik adalah pucuk apikal, pucuk lateral dan pucuk aksial. Pucuk aksial adalan pucuk dari tunas atau cabang aksial yang muncul pada ketiak daun, pucuk apikal adalah pucuk utama pada batang terminal yang mengarah ke atas dan pucuk lateral adalah pucuk yang muncul pada percabangan.

Bahan eksplan dapat diambil dari tanaman dewasa yaitu pada bagian pucuk tanaman, daun atau umbi bahkan bijinya. Bahan eksplan dari daun dipilih daun yang tidak terlalu muda dan juga tidak terlalu tua. Pemotongan eksplan dilakukan dengan mengikutkan ibu tulang daun karena pada bagian ini lebih cepat tumbuh menjadi kalus. Apabila bahan eskplan berasal dari umbi biasanya umbi ditumbuhkan terlebih dahulu tunasnya. Bagian tunas yang tumbuh dari umbi tersebut kemudian dijadikan sebagai bahan eksplan, contohnya umbi batang tanaman kentang, umbi batang tanaman talas dan umbi lapis bawang merah.

Biji dapat dijadikan sebagai eksplan dan sebaiknya dipilih biji yang bersertifikat atau dipetik langsung dari tanaman induknya yang sudah diketahui keunggulan fenotif dan genotifnya. Bagian-bagian biji, seperti embrio atau kotiledon dapat dijadikan sbagai bahan eksplan, misalnya pada tanaman jagung, kedelai, jarak, paprika dan lain-lain. Biji juga dapat langsung ditanam atau dikecambahkan pada media agar-agar, contohnya pada kasus biji anggrek yang tidak memiliki cadangan makanan.

Pemilihan suatu bagian tanaman sebagai bahan eksplan juga harus mempertimbangkan faktor kemudahan bahan eksplan tersebut untuk beregenerasi dan kemungkinan tingkat kontaminasinya. Bagian tanaman yang mengandung banyak persediaan makanan serta bahan-bahan lain untuk pertumbuhan, seperti umbi lebih mudah untuk beregenerasi dibandingkan dengan bagian tanaman yang kurang mengandung bahan makanan. Bagian tanaman yang berasal dari akar yang tumbuh di dalam tanah tingkat kontaminasinya lebih tinggi dibandingkan dengan bagian-bagian tanaman yang ada di atas permukaan tanah seperti pucuk atau daun serta biji. Tanaman yang cenderung bergetah juga memiliki tingkat kontaminasi lebih tinggi daripada yang tidak memiliki getah.

Kamis, 06 Juni 2013

Pemeliharaan Planlet di Tempat Aklimatisasi

Agar tetap dapat hidup normal, planlet yang telah ditanam di media aklimatisasi (lingkungan lapangan) harus dipelihara dengan baik. Pemeliharaan tersebut meliputi kegiatan pembukaan sungkup, pengairan, pemupukan, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

Aklimatisasi Kultur

Pemeliharaan yang kaitannya dengan pembukaan sungkup dilakukan sedemikian rupa agar planlet dapat beradaptasi dengan kelembaban udara lingkungan lapang yang biasanya lebih rendah. Pengadaptasian tersebut dilakukan dengan cara mengurangi kondisi kelembaban di  lingkungan hidupnya dengan pembukaan sungkup aklimatisasi secara bertahap. Perubahan kondisi kelembaban lingkungan secara bertahap tersebut akan meningkatkan kemampuan planlet hidup pada kondisi lingkungan lapangan tanpa mengalami stres yang berat.

Media tanam planlet pada prinsipnya harus selalu lembab sehingga kebutuhan air untuk proses pertumbuhan tanaman dapat terus terpenuhi. Penyiraman pada planlet sebaiknya dilakukan dua kali sehari. Penyiraman berguna untuk melarutkan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dan menjaga kondisi kelembaban media. Penyiraman tersebut akan menjaga ketersediaan uap air pada sore hari karena persediaan uap air hasil penyiraman pada pagi hari sudah habis dimanfaatkan tanaman dan sebagian menguap ke lingkungan di siang harinya. Penyiraman tidak boleh berlebihan karena akan dapat menyebabkan terjadinya kebusukan pada planlet akibat serangan jamur atau bakteri.

Pemeliharaan planlet di lapangan juga dilakukan dengan pengaturan intensitas cahaya matahari sekitar 40-50 %. Hal ini berguna untuk mengadaptasikan planlet yang biasanya hidup di dalam laboratorium yang cahayanya hanya diperoleh dari lampu TL. Perubahan intensitas cahaya yang drastis mencapai 75 % akan menyebabkan stres pada planlet dan dapat mengakibatkan kematian. Planlet pada saat umur berkisar antara 5-7 hari setelah penanaman dapat diberikan intensitas cahaya sampai 70 %. Pengadaptasian planlet terhadap intensitas cahaya yang tinggi atau penuh dapat dilanjutkan sampai planlet hidup dan tumbuh normal pada kondisi lapangan.

Pemupukan untuk meningkatkan pertumbuhan planlet dapat dilakukan sekitar satu minggu setelah penanaman planlet. Pupuk yang dianjurkan adalah pupuk daun seperti Hyponex, Gandasil, atau Bayfolan. Tujuan dari penggunaan pupuk daun adalah agar pupuk yang diberikan dapat langsung diserap oleh daun untuk pertumbuhan tanaman. Pemupukan dapat dilakukan sekali dalam seminggu. Aplikasi pupuk daun biasanya menggunakan hand spayer atau knapsack sprayer jika skala penanamannya lebih luas. Pemupukan tersebut dapat dilakukan bersamaan dengan aplikasi pestisida apabila ditemukan serangan hama dan penyakit pada planlet yang dipelihara di tempat aklimatisasi.