Quintel Blogger theme

A free Premium Blogger theme.

Kami Siap Melayani Pemesanan Segala Jenis Pupuk Yang berkualitas Dan Berkadar Non Subsidi ke seluruh wilayah di indonesia, Untuk info lebih Lanjut Bisa hub. Alamat Di bawah ini:

Nama : Bpk. Indra
Alamat : Sidayu Gresik
No. Telp : 082391699911
e-mail : indralow1@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Gulma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gulma. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

Herbisida Sistemik dan Herbisida Kontak

Berdasarkan tipe translokasi dalam tubuh gulma, herbisida dibedakan menjadi herbisida kontak dan herbisida sistemik.

Herbisida kontak adalah herbisida yang dapat mengendalikan gulma dengan cara mematikan bagian gulma yang terkena atau terkontak langsung dengan herbisida. Herbisida kontak tidak ditranslokasikan atau tidak diserap dan dialirkan dalam tubuh gulma.  Semakin banyak bagian gulma yang berkontak langsung dengan herbisida, akan semakin baik dan efektif penggunaan herbisida kontak. Oleh sebab itulah, maka herbisida ini sering diaplikasikan dengan jumlah larutan semprot yang banyak yakni antara 600 sd 800 liter per ha dengan tujuannya adalah agar seluruh permukan gulma terbasahi. Herbisida kontak kurang efektif jika diaplikasikan untuk mengendalikan gulma yang mempunyai organ perbanyakan di dalam tanah, seperti teki dan alang-alang. Hal tersebut dikarenakan bagian tanaman di dalam tanah tidak akan mati. Herbisida kontak memiliki kelebihan berupa daya kerjanya yang lebih cepat terlihat. Herbisida kontak umumnya diaplikasikan sebagai herbisida pasca tumbuh melalui tajuk gulma.

Herbisida Sistemik dan Herbisida Kontak

Herbisida sistemik adalah herbisida yang dialirkan atau ditranslokasikan dari bagian tubuh gulma yang terkontak pertama kali ke seluruh bagian gulma tersebut. Translokasi biasanya akan menuju titik tumbuh karena pada bagian tersebut metabolisme tumbuhan paling aktif berlangsung. Herbisida ini dapat diaplikasikan melalui tajuk atau melalui tanah. Herbisida sistemik diaplikasikan melalui tajuk seperti herbisida glifosat, sulfosat, dan 2,4-D ester berlangsung secara simplatik atau melalui jaringan hidup dengan pembuluh utama floem bersamaan dengan translokasi fotosintat. Sedangkan herbisisda sistemik yang diaplikasikan melalui tanah seperti ametrin, atrazin, metribuzin, 2,4-D amin, dan diuron, ditranslokasikan secara apoplastik atau melalui jaringan mati dengan pembuluh utama xilem bersama aliran masa gerakan air dan hara dari tanah ke daun dengan bantuan proses transpirasi. Herbisida sistemik ada yang bersifat selektif seperti ametrin, 2,4-D, diuron, dan klomazon, ada juga yang bersifat nonselektif seperti glifosat, sulfosat, dan imazapir.

Pengendalian Gulma secara Hayati

Pengendalian gulma secara hayati bertujuan untuk menekan populasi gulma dengan memanfaatkan organisme hidup baik itu hewan seperti serangga kumbang, ternak, mikroba, dan ikan, ataupun organisme hidup tersebut berupa tumbuhan seperti Mucuna bracteata, dan berbagai jenis tanaman penutup tanah (LCC) lainnya. Penerapan metode pengendalian gulma secara hayati harus memenuhi beberapa syarat seperti agen hayati tersebut memangsa gulma tertentu saja (spesifik), bersifat monofag, tidak menyerang tanaman yang dibudidayakan.

Ada 3 tipe dasar pengendalian gulma secara hayati yakni tipe klasik, tipe augmentasi, dan tipe inundatif.

Pengendalian Gulma secara Hayati


Pengendalian hayati tipe klasik (classical biological control)

Pengendalian hayati tipe ini dilakukan dengan melepaskan musuh alami baik itu sebagai predator maupun parasit yang diperoleh atau didatangkan dari luar daerah dan pertumbuhan populasinya mencapai kondisi stabil pada daerah yang baru karena telah tercapai keseimbangan jangka panjang antara populasi musuh alami dengan gulma yang dikendalikan sebagai inangnya.

Pengendalian hayati tipe augmentasi (augmentative biological control)
Pengendalian hayati tipe augmentasi mengacu pada musuh alami yang tidak mampu bertahan sendiri dalam jangka waktu lama pada areal yang terinvestasi gulma yang akan dikendalikan tanpa adanya penambahan populasi. Oleh karena itulah, secara periodik musuh alami harus ditambahkan pada wilayah pengendalian gulma tersebut. Contoh pengendalian hayati tipe augmentasi adalah penggunaan karat Puccinia canalicuta, patogen indigenus Cyperus esculentus di Amerika Serikat.

Pengendalian hayati tipe inundatif (inundative biological control)
Pengendalian hayati tipe inundatif adalah suatu metode pengendalian gulma dalam jangka pendek dengan melepaskan musuh alami dalam jumlah yang banyak seperti pengaplikasian jamur mikoherbisida. Musuh alami pada pengendalian hayati tipe inundatif tidak mampu hidup dan bertahan dalam jangka yang lama. Beberapa contoh jamur mikoherbisida yang saat ini telah berhasil dipasarkan antara lain formulasi Phytoptora palmivora, yang diregistrasikan untuk mengendaliknan Morrenia odorata pada perkebunan jeruk di Florida; Collego (Colletotrichum gloeosporioides) untuk mengendalikan gulma Aeschynomene virginia pada pertanaman padi dan kedelai; Cercospora rodmanii untuk mengendalikan eceng gondok.

Pengendalian Gulma secara Fisik-Mekanis

Pengendalian gulma secara fisik-mekanis adalah pengendalian gulma yang dilakukan dengan merusak fisik atau bagian tubuh gulma sehingga pertumbuhannya menjadi terhambat dan akhirnya mati. Secara teknis, dalam pelaksanaannya engendalian gulma secara fisik mekanis dilakukan dengan menggunakan beberapa peralatan seperti cangkul, golok, arit, kored, landak, tangan, dan bahan bakar. Untuk lebih jelasnya silakan perhatikan beberapa metode pengendalian gulma secara fisik-mekanis berikut:

Pencabutan gulma (hand weeding atau hand pulling); cara ini juga biasa disebut penyiangan manual, efektif untuk mengendalikan gulma semusim dan dua musim, memiliki resiko kerusakan yang kecil pada tanaman budidaya, dan layak diterapkan untuk pengendalian gulma pada areal yang tidak luas.

Pembabatan (mowing); cara ini efektif diterapkan pada gulma semusim atau dua musim yang tidak mempunyai organ perkembangbiakan di dalam tanah seperti stolon dan umbi.

Pengolahan tanah (soil tillage); pengaruh yang tidak langsung dari pengolahan tanah terhadap perkembangan gulma adalah terangkatnya deposit biji gulma yang ada di dalam tanah. Biji tersebut terekspose ke permukaan tanah dan berkecambah, gulma yang kemudian tumbuh akan dipotong dan dibenamkan secara otomatis melalui tindakan pengolahan tanah ke dua.

Pengendalian Gulma secara Fisik-Mekanis

Pembakaran (burning); pembakaran gulma menyebabkan terjadinya penggumpalan protoplasma gulma karena suhu tinggi sehingga bagian gulma tersebut akan mati. Bagian gulma yang tidak terbakar belum tentu ikut mati, contohnya seperti pembakaran padang alang-alang yang hanya memusnahkan bagian atas gulma, karena tidak lama berselang gulma alang-alang tersebut akan kembali tumbuh dengan memanfaatkan stolon yang berada di bawah permukaan tanah. Pengendalian gulma secara fisik-mekanis melalui pembakaran sering menimbulkan beberapa kerugian seperti timbulnya bencana kebakaran seperti yang terjadi di Riau, menguapnya bahan organik dari areal setempat (in situ), meningkatkan resiko erosi, dan mengakibatkan polusi udara.

Penggenangan (flooding); penggenangan gulma akan menghambat respirasi dan metabolisme gulma dalam menyerap oksigen dari udara. Metabolisme gulma yang terhambat lambat laun akan menyebabkan penurunan populasi gulma.

Pemulsaan (mulching); mulsa yang menutupi permukaan tanah baik yang berasal dari bahan organik maupun plastik, akan menghambat masuknya sinar matahari ke dalam tanah dan mempengaruhi proses perkecambahan biji gulma

Minggu, 14 Juli 2013

Gulma Jawan (Echinochloa cruss-galli)

Gulma jawan (Echinochloa cruss-galli) adalah salah satu gulma yang bersifat kosmopolit dan mampu berasosiasi dengan beberapa tanaman budidaya terutama padi, jagung, kopi, tebu, teh, tembakau, dan jeruk. Gulma ini terdapat hampir diseluruh negera-negara tropis hingga sub-tropis yang terletak antara lintang 15 derajat LS hingga 15 derajat LU.

Dalam ilmu tumbuhan, gulma jawan memiliki sistem klasifikasi sebagai berikut:
Divisi        : Spermatophyta
Kelas        : Monocotiledonae
Ordo        : Graminales
Famili        : Gramineae
Genus        : Echinochloa
Spesies    : Echinochloa cruss-galli

 Gulma Jawan (Echinochloa cruss-galli)

Gulma jawan sering sekali ditemukan disela-sela areal pertanaman padi, kemampuan dan sifat serta ciri-ciri fisiknya pun hampir sama persis dengan tanaman padi. Gulma ini berbatang tegak dan bertandan (5 sd 10 tandan) kemudian merunduk sepanjang 5 sd 21 cm, akar serabut tumbuh pada pangkal batang sedangkan buahnya (kariopsis) berbentuk lonjong dengan tebal dan panjang antara 2 sd 3,5 mm. Biji yang telah tua berwarna coklat sapai hitam dengan bagian bawah tumpul.

Gulma jawan sangat membutuhkan air untuk pertumbuhannya, oleh karena itu, jika ketersediaan air di tempat pertumbuhannya berkurang hingga habis, gulma ini akan layu kemudian mati. Suhu optimal untuk pertumbuhannya antara 20 sd 30 derajat Celcius, sedangkan untuk perkembangan biji antara 13 sd 30 derajat Celcius. Pada kapasitas lapang, biji gulma ini berkecambah hingga 70 sd 90 % dari total jumlahnya.

Gulma jawan efektif dikendalikan dengan aplikasi herbisida seperti 2,4-D dengan dosis 0,8 sd 1 l per ha, serta herbisida MCPA dengan dosis 1,5 l per ha pada 2 minggu setelah tanam, sedangkan untuk mengendalikan atau mencegah perkecambahan biji gulma, selama tiga bulan dapat diaplikasikan feramida.

Klasifikasi Herbisida menurut Waktu Aplikasinya

Berdasarkan waktu aplikasinya, herbisida diklasifikasikan ke dalam 4 jenis yakni herbisida pra pengolahan tanah, herbisida pra penanaman, herbisida pasca penanaman, dan herbisida

Herbisida pra-pengolahan tanah adalah herbisida yang diaplikasikan pada sebidang lahan yang diperuntukan sebagai lahan pertanian sebelum tanah tersebut diolah dan ditumbuhi berbagai jenis vegetasi termasuk gulma.  Aplikasi herbisida pra-pengolahan tanah bertujuan untuk memudahkan kegiatan pengolahan tanah sehingga dapat berjalan dengan efektif dan efisien tanpa terkendala oleh keberadaan gulma.


Herbisida pra-tanam adalah herbisida yang diaplikasikan pada sebidang lahan pertanian yang telah diolah dan sudah siap ditanami. Aplikasi herbisida ini bertujuan untuk meminimalisasi pertumbuhan gulma pada sela-sela tanaman yang dibudidayakan melalui pembentukan lapisan herbisida tepat di atas permukaan tanah. Lapisan herbisida tersebut diharapkan mampu menghalangi proses perkecambahan biji gulma sehingga tanaman terbebas dari gulma.

Herbisida pasca-tanam adalah herbisida yang diaplikasikan pada saat tanaman telah ditanam dan gulma belum tumbuh di lahan budidaya. Aplikasi herbisida ini bertujuan untuk dapat menekan pertumbuhan gulma yang akan muncul bersamaan dengan tumbuhnya tanaman yang dibudidayakan. Bila aplikasi herbisida pasca-tanam tidak dilakukan dan gulma tumbuh bersama dengan tanaman yang dibudidayakan, tanaman akan bersaing dengan gulma dalam memperoleh unsur hara dan sinar matahari sehingga pertumbuhannya tidak akan optimal.

Herbisida pasca-tumbuh adalah herbisida yang diaplikasikan pada saat tanaman yang ditanam telah tumbuh di lahan budidaya. Aplikasi herbisida ini bertujuan untuk mengurangi daya saing antara tanaman yang dibudidayakan dengan gulma yang tumbuh liar di sela-sela tanaman. Dengan pengendalian gulma menggunakan herbisida pasca-tumbuh, diharapkan tanaman yang dibudidayakan mampu tumbuh secara optimal tanpa terganggu oleh gulma. Penggunaan herbisida pasca-tumbuh ini biasanya identik dengan penggunaan herbisida dengan selektivitas tinggi.

Jumat, 12 Juli 2013

Formulasi Herbisida

Formulasi herbisida adalah bentuk herbisida yang dapat mempengaruhi daya larut, daya penguapan, dan daya meracun pada tanaman dan sifat-sifat lainnya. Di samping itu, pada herbisida dapat pula ditambahkan sufactant, wetting agent, spreader, dan atau stricker yang dapat menambah evektifitas herbisida tersebut dalam penggunaannya.

 Formulasi Herbisida  Formulasi Herbisida

Herbisida yang telah diformulasikan dapat diberikan melalui larutan dalam air atau minyak, bubuk yang dibasahkan (suspensi), butiran, dan debu.

1.  Larutan
Larutan adalah suatu campuran homogen secara fisik dari 2 buah bahan atau lebih dimana masing-masing bagian yang tercampur masih seperti semula bentuknya namun tidak dapat dilihat secara terpisah. Bahan yang dilarutkan disebut sebagai bahan terlarut (solute) dan bahan yang melarutkan disebut bahan pelarut (solvent). Jadi bahan yang dilarutkan (solute) seharusnya dapat larut dengan baik dalam air (seperti garam amina, sodium dan 2,4-D, 2,4,5-T, dan MCPA) dan dapat larut dengan baik di dalam minyak (seperti formulasi asam induk dari DNBP, pentacloro phenol, ester 2,4-D). Molekul bahan terlarut akan berdisosiasi dalam larutan dalam bentuk ion-ion. Ion tersebut dapat bergabung dengan bebas dengan ion lain dalam larutan.

2.  Emulsi
Suatu emulsi terjadi jika sebuah cairan digabungkan dengan cairan lain, namun masing-masing bahan yang digabungkan tersebut tetap seperti semula dan bila tidak dikocok, maka ke 2 bahan tersebut akan terpisah.

3.  Suspensi
Suspensi terdiri dari partikel-partikel pejal yang berbaur dalam cairan. Suspensi semacam ini diperuntukan bagi herbisida yang tak dapat disiapkansebagai larutan maupun emulsi. Suspensi tampak seperti berawandengan pancaran sebagai kerucut cerah (efek Tyndal) yang dapat enyerupai sebagai emulsi. Penambahan surfaktan akan memantapkan bentuk suspensi ini (simazine, atrazine, monouron, dan diuron).

4.  Butiran
Butiran adalah bentuk lain dari herbisida yang kristal bahan kimianya tidak dapat diaplikasikan dengan seragam. Herbisida semacam ini harus dicampur dengan zat pembawa (carrier) yang dapat memberi cukup kemantapan untuk disebarkan. Zat pembawanya dapat berupa cacahan tongkol jagung, batang tembakau, sisa daun tembakau (herbisida dalam bentuk ini seperti borat, arsenat, dan sodium klorat).

5.  Bubukan
Hanya ada sediki sekali herbisida dalam bentuk bubukan. Hal ini karena herbisida dalam bentuk ini mudah hilang terbawa angin (drift).

Senin, 08 Juli 2013

Alang-alang (Imperata cylindrica)

Alang alang adalah salah satu gulma perennial yang memiliki sistem perakaran (rhizoid) meluas dengan tinggi tanaman maksimal 100 cm. Alang-alang selalu menjadi gulma penting bagi hampir semua tanaman budidaya di daerah tropis. Tingkat penyebaran, perkembangan, dan daya alelopatinya yang tinggi menyebabkan keberadaan alang-alang di lahan budidaya sering menyebabkan penurunan produktivitas tanaman. Alang-alang diketahui menyebar hingga berbagai Negara di dunia, meliputi Negara di benua Asia, Afrika, Eropa, Australia, dan Amerika. Kendati demikian, alang-alang tidak ditemukan dalam skala luas di daerah sub tropis hingga kutub.

Alang-alang (Imperata cylindrica)

Klasifikasi
Dalam klasifikasi tanaman, alang alang tergolong ke dalam tanaman yang berkelas keping biji satu (monokotil), ordo glumiflorae, family rumput-rumputan (gramineae), genus imperata, dan spesies Imperata cylindrical. Sebenarnya ada 2 jenis imperata yang bias disebut alang-alang. Yang pertama adalah Imperata cylindrical yang bunganya berstamen dua, sedangkan yang kedua adalah imperata yang bunganya berstamen tunggal yaitu Eriopigon. Beberapa genus imperata yang saat ini sudah dikenal antara lain Imperata cylindrica, Imperata tonnis, Imperata brevifolia, Imperata brasiliensis, Imperata exaltta, Imperata contracta, dan Imperata chresmani.

Morfologi
Alang-alang dapat memperbanyak diri secara vegetatif melalui rhizoma dan secara generatif melalui pembungaan dan biji. Rhizome dapat melakukan penetrasi hingga diameter 15 sd 40 cm, sedangkan akar yang tumbuh vertikal dapat mencapai kedalaman antara 60 sd 150 cm.  rhizzoma berwarna putih , beruas pendek, berwarna putih, sukulen, dan berasa manis karena memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi. Gulma ini tumbuh hingga ketinggian tak kurang dari 1 meter.  Daun alang-alang tumbuh tegak dengan pelepah daun yang memiliki permukaan yang halus serta tulang daun utama berwarna keputihan. Alang-alang dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat karena memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi pada berbagai kondisi lingkungan.

Pengendalian
Gulma alang-alang memang tergolong gulma yang sangat sulit dikendalikan.Hal ini karena alang-alang dapat beregenerasi dengan cepat melalui stolon dan bijinya. Alang-alang pun memiliki ketahanan hidup yang tinggi pada kondisi lingkungan yang beragam. Kendati demikian, pertumbuhan alang-alang akan terhambat dan berangsur-angsur terkendalikan melalui perlakuan naungan yang gelap. Naungan diperoleh dengan penanaman pohon penaung yang dapat tumbuh cepat dengan daya naung tinggi seperti leucaena glauca.

Sabtu, 22 Juni 2013

Insektisida Nabati

Secara luas insektisida nabati dapat diartikan sebagai suatu zat yang dapat bersifat racun, menghambat pertumbuhan dan perkembangan, perkembangbiakan, tingkah laku, mempengaruhi hormon, menghambat makan, membuat mandul, sebagai pemikat, penolak, dan aktivitas lainnya yang mengganggu OPT.  Secara umum, insektisida nabati diartikan sebagai insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan.

Insektisida Nabati

Insektisida nabati merupakan salah satu sarana pengendalian hama alternatif yang layak dikembangkan, karena senyawa insektisida yang diekstrak dari tumbuhan tersebut mudah terurai di lingkungan dan relatif aman terhadap mahkluk bukan sasaran.  Insektisida nabati memiliki zat metabolik sekunder yang mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, fenolik, terpenoid, dan zat-zat kimia sekunder lainnya.  Senyawa tersebut ini dapat dimanfaatkan seperti layaknya senyawa pada insektisida sintetik, perbedaannya bahan aktif pestisida nabati disintesa oleh tumbuhan dan jenisnya dapat lebih dari satu macam (campuran).  Apabila insektisida nabati diaplikasikan pada tanaman yang terinfeksi organisme pengganggu tidak berpengaruh terhadap fotosintesa, pertumbuhan atau aspek fisiologis tanaman lainnya.

Efektivitas bahan alami yang digunakan sebagai insektisida nabati sangat tergantung dari bahan tumbuhan yang dipakai, karena satu jenis tumbuhan yang sama tetapi berasal dari daerah yang berbeda dapat menghasilkan efek yang berbeda pula, ini dikarenakan sifat bioaktif atau sifat racunnya tergantung pada kondisi tumbuh, umur tanaman  dan jenis dari tumbuhan tersebut.

Indonesia memiliki 50 famili tumbuhan penghasil racun.  Famili tumbuhan yang dianggap sumber potensial insektisida nabati adalah Meliaceae, Asteraceae, Piperaceae, Annonaceae, dan Rutaceae.  Banyaknya jenis tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai insektisida maka penggalian potensi tanaman sebagai sumber insektisida botani sebagai alternatif pengendalian hama tanaman cukup tepat.

Rabu, 19 Juni 2013

Penggolongan Herbisida

Selain digolongkan berdasarkan waktu aplikasinya, herbisida juga dapat digolongkan berdasarkan cara kerja, selektifitas, dan sifat kimianya. Berdasarkan cara kerjanya herbisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma secara kimia pada lahan pertanian dibedakan menjadi :

Herbisida kontak adalah herbisida yang mematikan gulma dengan cara kontak melalui absorbsi akar atau daun. Herbisida jenis ini akan merusak bagian gulma yang terkena langsung oleh herbisida tersebut. Bagian gulma yang tidak terkena langsung oleh herbisida ini tidak akan rusak karena kandungan racun herbisida tidak ditranslokasikan ke bagian-bagian gulma lainnya. Contohnya herbisida kontak adalah herbisida yang bahan aktifnya asam sulfat 70 %, besi sulfat 30 %, tembaga sulfat 40 % dan paraquat.

Herbisida sistemik yaitu herbisida yang mematikan gulma melalui translokasi racun ke seluruh bagian-bagian gulma.  Herbisida sistemik mematikan gulma dengan berbagai cara yang antara lain:
  1. menghambat fotosisntesis, seperti herbisida berbahan aktif triazin dan substitusi urea amida.
  2. menghambat pernafasan (respirasi), seperti herbisida berbahan aktif amitrol dan arsen.
  3. menghambat perkecambahan, seperti herbisida berbahan aktif tiokarbamat dan karbamat.
  4. menghambat pertumbuhan gulma, seperti herbisida berbahan aktif 2, 4 D, dicamba, dan picloram.
Penggolongan Herbisida

Berdasarkan selektifitasnya, herbisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma secara kimia pada lahan pertanian dapat dibedakan menjadi:

Herbisida selektif adalah herbisida yang jika diaplikasikan pada berbagai jenis tumbuhan hanya akan mematikan species tertentu gulma dan relatif tidak mengganggu tanaman yang dibudidayakan misalnya herbisida berbahan aktif asm 2, 4 D yang mematikan gulma daun lebar dan relatif tidak mengganggu tanaman serelia.

Herbisida non-selektif adalah herbisida yang bila diaplikasikan pada beberapa jenis tumbuhan melalui tanah atau daun dapat mematikan hampir semua jenis tumbuhan termasuk tanaman yang dibudidayakan misalnya herbisida berbahan aktif arsenikal, klorat dan karbon disulfida.

Berdasarkan sifat kimiawinya herbisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma di lahan pertanian dibedakan menjadi :

Herbisida anorganik adalah herbisida yang bahan aktifnya tersusun secara anorganik, misalnya herbisida berbahan aktif amonium sulfanat, amonium sulfat, amonium tiosianat, kalsium sianamida, tembaga sulfat-nitrat-ferosulfat, sodium arsenat, sodium tetraborat, sodium klorat, sodium klorida-nitrat dan asam sulfurat.

Herbisida organik adalah herbisida yang bahan aktifnya tersusun, misalnya herbisida golongan nitrofenol+anilin, herbisida tipe hormon, herbisida berbahan aktif asam benzoat+fenil asetat, amida, nitril, arilkarbamat, substitusi urea, piridin, pirimidin-urasil, triazin, amitrol dan gugusan organoarsenat.

Penanganan Hasil Pengendalian Gulma secara Fisik/Mekanis

Gulma yang diperoleh dari hasil pengendalian secara mekanis/fisik perlu ditangani lebih lanjut agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman dan kegiatan pemeliharaan tanaman di lahan pertanian. Selain itu, penanganan gulma hasil pengendalian mekanis/fisik akan mampu mengefektifkan metode pengendalian gulma tersebut.

Penanganan Hasil Pengendalian Gulma secara Fisik/Mekanis

Penanganan gulma yang diperoleh dari  hasil pengendalian secara mekanis/fisik secara umum bertujuan untuk :

Mencegah penyebaran biji serta organ perbanyakan vegetatif gulma lainnya tumbuh kembali di lahan pertanian
Gulma hasil pengendalian secara mekanis/fisik apabila tidak lagi ditangani lebih lanjut dapat menimbulkan masalah di lahan pertanian terutama untuk mencegah biji gulma yang masih tertinggal, tumbuh lagi di lahan. Hal ini disebabkan oleh kemampuan beberapa jenis biji gulma yang masih dapat berkecambah walaupun bijinya belum masak secara sempurna atau masak fisiologis. Selain itu organ perbanyakan vegetatif gulma seperti rhizoma, stolon, dan umbi akar akan mudah tumbuh kembali di lahan pertanian apabila tidak dipindahkan dari lahan tersebut dan ditangani lebih lanjut.

Membersihkan lahan pertanian dari patogen penyebab penyakit yang inangnya berupa gulma

Ada beberapa jenis gulma yang menjadi inangnya patogen penyebab penyakit tanaman. Misalnya rumput grinting (Cynodon dactylon), jawan (Echinochloa crusgalli), dan rumput belulang (Eleusine indica) yang menjadi inang patogen penyebab penyakit tungro pada tanaman padi. Apabila gulma-gulma tersebut setelah dikendalikan secara mekanis/fisik tidak ditangani lebih lanjut dan dipindahkan dari lahan tentunya akan menyebarkan virus tungro pada tanaman padi yang ditanam pada lahan tersebut di musim tanam berikutnya.

Memanfaatkan gulma sebagai bahan baku pupuk organik dengan pengomposan

Gulma hasil pengendalian secara mekanis/fisik terutama gulma-gulma yang sifatnya mudah lapuk dan mempunyai kandungan unsur hara yang tinggi (unsur Nitrogen) dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik (kompos).


Senin, 17 Juni 2013

Penggolongan Herbisida Berdasarkan Waktu Aplikasinya

Pengendalian gulma secara kimia merupakan pengendalian gulma dengan menggunakan bahan kimia yang dapat menekan pertumbuhan atau bahkan yang bisa mematikan gulma. Bahan kimia tersebut disebut dengan herbisida yang berasal dari kata herba = gulma dan sida = membunuh. Pengendalian gulma dengan cara ini membutuhkan alat penyebar herbisida dan pengetahuan tentang herbisida terutama macam-macamnya agar pengendalian yang dilakukan dapat berhasil dengan baik. 

Penggolongan Herbisida

Herbisida yang digunakan dalam pengendalian gulma pada lahan pertanian menurut waktu aplikasinya dibedakan menjadi :

Herbisida pra-pengolahan tanah adalah herbisida yang diaplikasikan pada lahan sebelum lahan tersebut diolah dan ditumbuhi gulma dengan tujuan membersihkan lahan sebelum dilakukannya pengolahan tanah, contohnya adalah herbisida dengan bahan aktif paraquat.

Herbisida pra-tanam adalah herbisida yang diaplikasikan pada lahan setelah dilakukan pengolahan tanah dan sebelum lahan tersebut ditanami  tanaman budidaya dengan tujuan mengendalikan serta mencegah biji maupun organ perbanyakan vegetatif gulma lainnya yang muncul berkat proses pembalikan tanah ke permukaan tumbuh di lahan, contohnya adalah herbisida dengan bahan aktif EPTC dan triazin.

Herbisida pra-tumbuh  adalah herbisida yang diaplikasikan setelah lahan ditanami tapi sebelum tanaman dan gulma tumbuh di lahan tersebut dengan tujuan menekan  pertumbuhan gulma yang akan tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya tanaman budidaya, contohnya herbisida dengan bahan aktif nitralin.

Herbisida pasca tumbuh adalah herbisida yang diaplikasikan pada lahan setelah tanaman yang dibudidayakan tumbuh di lahan tersebut  dengan tujuan menekan keberadaan gulma setelah tanaman yang dibudidayakan tumbuh, contohnya adalah herbisida dengan bahan aktif propanil, glyphosate, dan dalapon.

Minggu, 16 Juni 2013

Penentuan Teknik Pengendalian Gulma

Penentuan teknik pengendalian gulma juga harus memperhatikan tempat atau lokasi tumbuhnya gulma pada seluruh areal lahan pertanian. Gulma yang tumbuh pada lahan pertanian sebelum tanahnya diolah dapat dikendalikan dengan cara mencangkul atau membajak gulma untuk merusakkan bagian gulma yang berada di atas maupun di bawah tanah. Selain itu, gulma juga dapat dikendalikan secara kimia dengan aplikasi herbisida pra-pengolahan tanah dan setelah gulmanya mati baru dilanjutkan dengan mencangkul atau membajak lahan agar pengendalian gulmanya dapat lebih efektif.


Sedangkan apabila gulma yang tumbuh lahan pertanian setelah adanya tanaman dapat dilakukan dengan mencabut atau mengored gulma untuk gulma yang tumbuh pada tempat yang sulit dijangkau alat berat maupun semprotan herbisida, seperti di seputar tanaman dan di bedengan tanaman.

Gulma yang tumbuh ditempat yang dapat dijangkau alat berat maupun herbisida seperti di saluran irigasi atau diparit antar bedengan tanaman dapat dikendalikan secara mekanis maupun secara kimia. Pengendalian secara mekanis dapat dilakukan dengan cara menyiang gulma dengan cangkul sampai saluran irigasinya bersih dan pengairan tanaman dapat lancar.

Pengendalian gulma pada saluran irigasi dapat dilakukan secara kimia dengan menggunakan herbisida dengan memperhatikan selektifitas herbisida dan kepekaan tanaman budidayanya terhadap bahan aktif herbisidanya. Apabila herbisidanya bersifat selektif dan tanaman budidaya tidak peka terhadap herbisida yang diaplikasikan maka teknik pengendalian tersebut dapat dilakukan. Sebaliknya jika herbisidanya bersifat non-selektif dan tanaman budidaya peka terhadap herbisida yang diaplikasikan maka pengendalian dengan cara tersebut selain mematikan gulma juga dapat mematikan tanaman yang dibudidayakan.

Penggunaan herbisida dalam pengendalian gulma di lahan pertanian secara umum setelah pengolahan tanah juga harus memperhatikan macam herbisidanya apakah untuk aplikasi pra-tumbuh atau pasca-tumbuh tanaman. Aplikasi herbisida pra-tumbuh dilakukan apabila tanaman sudah di tanam tetapi tanaman dan gulma belum muncul/tumbuh di lahan. Sedangkan alikasi herbisida pasca-tumbuhnya dilakukan apabila tanaman dan gulmanya sudah muncul atau tumbuh di lahan.

Pestisida

Pestisida adalah suatu bahan kimia sintetik yang bersifat racun dan dapat digunakan untuk membunuh organisme pengganggu tanaman yang dibudidayakan. Pengendalian organisme pengganggu tanaman menggunakan pestisida memiliki  beberapa keuntungan antara lain sangat efektif, aplikasinya praktis dan elastis (luwes, mudah penggunaannya), kebanyakan cocok/ kompatibel (adaptif, aditif bahkan sinergis) dengan teknik lainnya, relatif lebih murah.


Kerugian menggunakan pestisida antara lain beracun bagi manusia, lingkungan biotik, dan lingkungan abiotik, meninggalkan residu, Timbulnya jenis atau strain organisme pengganggu baru yang kebal terhadap pestisida, menguatnya (resurgensi) populasi organisme pengganggu karena tertekannya musuh alami, biaya pestisida menjadi mahal karena keberhasilan proses produksi sering bergantung pada pestisida, timbulnya hama sekunder menjadi hama utama

Pestisida secara umum dapat digolongkan berdasarkan objek sasaran, fungsi kerja, cara kerja, bahan aktif, dan formulasinya.

Berdasarkan objek sasarannya, pestisida dibedakan menjadi 5 golongan yang antara lain
Insektisida; untuk membunuh serangga,
Bakterisida untuk membunuh bakteri,
Herbisida; untuk membunuh gulma,
Fungisida; untuk membunuh jamur,
Rodentisida; untuk membunuh tikus,

Berdasarkan fungsi kerjanya, pestisida dibedakan menjadi 5 golongan yang antara lain
Untuk menarik serangga disebut atraktan,
Untuk mensterilkan serangga disebut kemosterilan,
Untuk menggugurkan daun disebut defoliant,
Untuk memperlambat, mempercepat, dan meningkatkan pertumbuhan tanaman disebut zat pengatur tumbuh,
Untuk penolak atau penghalau serangga disebut repellent.

Berdasarkan kandungan bahan aktifnya, pestisida dibedakan menjadi 7 golongan yang antara lain
Golongan organofosfat; pestisida golongan ini umumnya adalah jenis insektisida yang digunakan untuk membasmi serangga berjasad lunak. Jenis pestisida yang termasuk golongan ini adalah diazinon, fention, diklorvos, dimatoat, fenitrotion, fentoat, klorpirifos, kuinalfos, malation
Golongan  klorhidrokarbon; pestisida golongan ini biasanya berupa insektisida, dan pestisida yang masuk dalam golongan ini adalah dieldrin, endosulfan, klordan, dan lindan
Golongan karbamat; pestisida golongan ini biasanya berupa insektisida. Jenis pestisida yang masuk dalam golongan ini adalah karbaril, karbofuran, BPMC, MIPC, dan Propoksur
Golongan dipiridil; pestisida golongan ini biasanya berupa herbisida. Jenis pestisida yang termasuk golongan ini adalah Paraquat diklorida
Golongan arsen; pestisida golongan ini biasanya berupa insektisida untuk mengendalikan rayap kayu dan tanah. Jenis pestisida golongan ini adalah arsen pentoksida dan arsen pentoksida
Golongan antikoagulan; pestisida golongan ini biasanya berupa rodentisida. Jenis pestisida golongan ini adalah brodifakum, difasionon, kumatettralil, kumaklor, kumarin, wartarin
Golongan seng fosfida; pestisida golongan ini biasanya berupa rodentisida

Pestisida dibuat dalam formulasi yang disesuaikan dengan sifat bahan, cara kerja, objek sasaran. Formulasi tersebut merupakan komposisi bahan aktif, bahan pembawa, dan bahan tambahan lain untuk membantu proses kerja. Berdasarkan formulasinya, pestisida dibedakan menjadi 6 golongan yang antara lain

Cairan emulsi; Biasanya berupa cairan pekat yang jika dicampur dengan pelarut akan membentuk emulsi. Komposisi pestisida bentuk cair biasanya terdiri dari tiga komponen yaitu bahan aktif, pelarut serta perata. Pestisida formulasi ini dapat mudah dikenali dengan membaca label nama dagang. Biasanya di belakang nama dagang diikuti singkatan ES (Emulsifiable solution), atau WSC (Water Soluable Concentrate), atau E (Emulsifiable), atau S (Solution).
Butiran (Granular); Biasanya berupa butiran dengan ukuran 20-80 mesh yang merupakan komposisi bahan aktif antara 2 – 25%, bahan pembawa yang berupa talk (serbuk) dan kuarsa. Pestisida kelompok ini, di belakang nama dagangnya tercantum singkatan G (Granular) atau WDG (Water Dispersible Granule).
Debu (Dust); Komposisi pestisida formulasi debu terdiri dari bahan aktif dan talk. Nama dagang kelompok formulasi debu biasanya diikuti singkatan D (Dust)
Tepung (Powder); Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan aktif dan bahan pembawa seperti tanah liat dan talk (biasanya 50 – 75%). Dibelakang nama dagang pestisida formulasi tepung diikuti singkatan WP (Wettable Powder) atau WSP (Water Soluable Powder) atau SP (Soluable Powder)
Minyak (Oil); Bahan dengan formulasi ini biasanya dicampur minyak seperti xiten, korosen atau aminoester. Pestisida ini sering juga disebut SCO (Solluble Concentrate in Oil)
Fumigansia (Fumigant); Pestisida ini berupa zat kimia yang dapat menghasilkan uap, gas, bau, asap yang biasa digunakan di gudang penyimpanan.

Berdasarkan cara kerjanya, pestisida dibedakan menjadi 4 golongan yang antara lain

Pestisida kontak; memiliki daya bunuh apabila organisme pengganggu terkena langsung oleh bahan aktif pestisida.
Pestisida sistemik; dapat ditranslokasikan oleh tanaman, sehingga hama akan mati setelah mengkonsumsi cairan jaringan tanaman tersebut.
Pestisida lambung atau perut; memiliki daya bunuh apabila sistem pencernaan terkena  oleh bahan aktif pestisida.
Pestisida pernafasan; memiliki daya bunuh apabila organisme system pernafasan organisme pengganggu terkena oleh bahan aktif pestisida.

Sabtu, 15 Juni 2013

Pengendalian Gulma secara Fisik

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan banyak cara tetapi pada umumnya dibedakan menjadi teknik pengendalian gulma secara mekanis/fisik dan teknik pengendalian gulma secara kimia dengan menggunakan herbisida. Teknik pengendalian gulma secara mekanis/fisik juga dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :



Pengendalian dengan cara dicabut
Pengendalian gulma dengan cara ini dapat dilakukan pada jenis gulma semusim/ setahun dan dua tahunan sebelum gulma tersebut menghasilkan biji. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pemencaran biji gulma ke tempat lain dan mengurangi gulma yang tumbuh di lahan dari biji gulma yang kemungkinan tertinggal di lahan. Sedangkan untuk jenis gulma tahunan pencabutan gulma semacam ini akan mengakibatkan terpotong atau tertinggalnya organ perbanyakan vegetatif gulma tersebut di dalam tanah. Akibatnya organ perbanyakan vegetatif gulmanya akan tumbuh lagi pada lahan sehingga pencabutan jenis gulma tersebut menjadi berulang-ulang dan pengendaliannya menjadi tidak efektif.

Pengendalian dengan cara dikored
Pengendalian gulma dengan cara dikored ini menggunakan alat berupa kored dan sangat praktis dilakukan pada tempat yang tidak dapat terjangkau dengan alat berat maupun herbisida terutama di antara barisan tanaman atau pada bedengan. Pengendalian gulma dengan cara ini juga hanya efektif pada jenis gulma semusim/setahun dan dua tahunan dan tidak efektif pada jenis gulma tahunan yang mempunyai organ perbanyakan vegetatif. Pengkoredan jenis gulma tersebut hanya memotong bagian gulma yang ada di atas tanah saja sehingga organ perbanyakan vegetatif gulma yang berada di dalam tanah dapat tumbuh kembali di lahan tersebut.

Pengendalian dengan cara dipotong dengan sabit ataupun dengan mesin pemotong rumput
Pengendalian gulma dengan cara ini hanya bersifat untuk merapikan tumbuhnya gulma terutama pada taman atau halaman. Pengendalian gulma dengan cara ini harus dilakukan secara berulang-ulang dengan interval minimal sebulan sekali terutama pada musim penghujan. Apabila pengendalian dengan cara ini dilakukan pada lahan pertanian kurang efektif dan dapat mengakibatkan tanaman budidaya ikut terpotong bersama gulmanya.

Pengendalian dengan cara dicangkul atau dibajak
Pengendalian gulma dengan cara dicangkul atau di bajak merupakan suatu usaha pengendalian yang cukup praktis pada jenis gulma semusim/setahun, dua tahunan dan tahunan. Pengendalian gulma dengan cara dicangkul atau dibajak dapat dilakukan pada saat pengolahan tanah dan pada saat lahan sudah ada tanaman budidayanya dapat dilakukan dengan cara penyiangan menggunakan cangkul saja. Pengendalian gulma jenis semusim/setahun dengan cara dicangkul atau dibajak ini cukup dengan merusak/mencangkul bagian gulma yang berada di atas tanam saja. Sedangkan untuk jenis gulma dua tahunan dapat dilakukan dengan merusak/mencangkul bagian gulma yang ada di atas tanah dan mahkotanya. Jenis gulma tahunan dapat dilakukan dengan merusak/mencangkul bagian gulma yang berada di atas tanah maupun di bawah tanah.

Kamis, 13 Juni 2013

Sekilas tentang Gulma

Gulma adalah kelompok tumbuhan yang tumbuh dengan tidak dikehendaki oleh manusia. Hal ini terjadi karena gulma dianggap sebagai pengganggu pertumbuhan tanaman, baik itu pertumbuhan yang bersifat kuantitatif  (kerugian dalam jumlah atau bisa diwujudkan dengan angka) maupun pertumbuhan yang bersifat kualitatif (kerugian dalam hal kualitas hasil pertanian yang tidak bisa diwujudkan dengan angka).

Gulma Tanaman

Beberapa kerugian yang ditimbulkan oleh keberadaan gulma antara lain menimbulkan kompetisi dengan tanaman budidaya, sebagai rumah inang dari hama maupun patogen penyebab penyakit tanaman, mengurangi kualitas dan kuantitas hasil panen tanaman, dan menghambat kelancaran aktivitas pertanian.

Selain menimbulkan kerugian, keberadaan gulma juga dapat menguntungkan bagi kegiatan budidaya pertanian. Keuntungan tersebut antara lain sebagai konservasi alami untuk lahan gundul, menjadi makroflora yang dapat mensuplai bahan organik dalam tanah, serta gulma juga dapat difungsikan untuk beberapa keperluan.

Gulma mempunyai kemampuan untuk berkembangbiak secara generatif menggunakan biji, maupun secara vegetatif dengan membentuk organ perkembangbiakan vegetatif seperti umbi akar,  umbi daun, stolon, rhizom, umbi batang, dan rootstock.